Pidato Ilmiah Prof. Djoko T. Iskandar pada DIES NATALIS Ke-54 ITB

Pidato Ilmiah Prof Djoko pada acara DIES NATALIS Ke-54 di Aula Barat ITB

Pidato Ilmiah Prof. Djoko T. Iskandar berjudul “Studi Integratif Mengenai Evolusi Keanekaragaman Hayati Indonesia” yang disampaikan pada acara DIES NATALIS Ke-54 di Aula Barat ITB pada hari Sabtu tanggal 2 Maret 2013. Pidato yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut dihadiri berbagai elemen sivitas akademika ITB, mulai dari Rektor ITB, Advisory Board, Senat Akademik, Majelis Guru Besar, para dosen dan pegawai non dosen sampai dengan mahasiswa.
Beliau menyampaikan Abstraknya sebagai berikut: Dilandaskan pada analisis genetik dan morfologi, keaneka-ragaman hayati organisme aktual di Indonesia dan khususnya di daerah Wallacea mengindikasikan bahwa sejumlah pulau mempunyai sejarah yang lebih menarik lagi. Informasi genetik bukan saja mendukung gambaran geologi pada masa lalu, tetapi juga menunjukkan waktu, dinamika populasi dan bermacam-macam proses spesiasi yang terjadi sesuaidengan waktu dan tempat. Setiap kelompok organisme yang dipelajari ternyata harus dilihat dari sejumlahperspektif yang tidak selalu sama, tetapi sesuai dengan kemampuan organisme tersebut, waktu dan tempat. Dari hasil pengamatan lapangan tersebut, katak tidak berparu-paru (Barbourula) dan katak yang melahirkan kecebong (Limonectes sp.) merupakan hasil yang spektakuler yang ditemukan langsung di lapangan dan kemudian dikonfirmasikan di laboratorium. Kelompok organism yang mempunyai keaneka-ragaman genetik yang kecil pada umumnya mempunyai pola persebaran yang sesuai dengan gambaran geologi terkini. Sebaliknya kelompok organisme yang telah lama keberadaannya menunjukkan pola yang sangat rumit dan dapat ditelusuri hingga waktu lampau yang sangat panjang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya pendekatan terintegratiflah yang dapat mengunkapkan keaneka-ragaman hayati Indonesia. Kekuatanalam yang bekerja untuk menghasilkan keaneka-ragaman hayati yang sangat tinggi ini merupakan fenomena yang sangat unik dan hanya ditemukan di suatu negara kepulauan dan menjadikan Indonesia sebagai suatu laboratorium yang sangat berharga untuk dilestarikan.

Berita Terkait