Pelatihan Peningkatan Kualitas Kayu Hutan Rakyat

Dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya para petani dan pelaku usaha kayu hutan rakyat, serta sebagai implementasi dari tridarma perguruan tinggi, pada hari Kamis-Jumat tanggal 21-22 Juli 2016, KK Teknologi Kehutanan mengadakan kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) yang bertajuk “Pelatihan Peningkatan Kualitas Kayu Hutan Rakyat”. Kegiatan dilaksanakan di Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, yang sebagian besar penduduknya (lebih dari 60%) bekerja di bidang agrikultur. Kegiatan ini melibatkan dua perwakilan kelompok tani dari setiap desa dengan total peserta berjumlah 14 orang.

Acara diawali dengan sambutan dari Ketua KK Teknologi Kehutanan Dr. Endah Sulistyawati dan dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi oleh Camat Cibugel Bapak Kardiat. Pada kesempatan tersebut, Camat Cibugel menyampaikan beberapa harapan terkait dengan aplikasi teknologi pengolahan kayu yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beliau juga berharap agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara rutin dan melibatkan berbagai KK di ITB sehingga semua aspek kegiatan ekonomi masyarakat dapat dikembangkan. Pembukaan kegiatan ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan dari Ketua KK Teknologi Kehutanan kepada Camat Cibugel.

Pada hari pertama, acara diisi dengan perkuliahan yang disampaikan oleh enam dosen SITH, yaitu Prof. Dr. Tati Suryati Syamsudin, Dr. Yayat Hidayat, Dr. Atmawi Darwis, Dr. Eka Mulya Alamsyah, Dr. Yoyo Suhaya, dan Dr. Sutrisno serta bertempat di aula kecamatan. Masing-masing dosen menyampaikan materi yang sesuai dengan bidang keahliannya, mulai dari pengetahuan ekologi hutan secara umum, termasuk pengenalan jasa ekosistem (ecosystem services), hingga ilmu-ilmu dasar dan terapan yang dapat diaplikasikan dalam pengolahan dan peningkatan kualitas kayu. Setiap materi disampaikan selama 60 menit dan diselingi dengan diskusi pada setiap pergantian materi. Peserta mengikuti kegiatan perkuliahan dengan sangat antusias, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul untuk didiskusikan serta keterlibatan sebagian besar peserta dalam diskusi.

 

Selain perkuliahan, hari pertama juga diisi dengan persiapan praktikum yang bertujuan untuk menguji beberapa bahan pengawet kayu alami dan sintetis dalam peningkatan kualitas kayu. Peserta dibagi menjadi 6 (enam) kelompok yang masing-masing menguji satu jenis bahan pengawet yang telah disediakan oleh panitia. Pengawet terdiri dari enam jenis, yaitu pengawet alami yang terdiri dari larutan hasil proses rendaman kulit kayu sengon, rebusan kulit kayu sengon, rendaman kulit kayu surian, rebusan kulit kayu surian, dan larutan cuka kayu, serta pengawet sintetis, yaitu surinem yang sudah biasa digunakan petani dan pengusaha kayu di Kecamatan Cibugel. Seluruh peserta diminta untuk merendam potongan kayu yang sebelumnya sudah diukur kadar air dan berat keringnya di setiap jenis bahan pengawet dan membiarkannya selama 24 jam untuk kemudian digunakan pada kegiatan hari kedua

Pada hari kedua, kegiatan diisi dengan praktikum yang dilaksanakan di pekarangan rumah salah satu tokoh masyarakat Cibugel Bapak Diding Sutardi yang berprofesi sebagai PNS Kecamatan Cibugel sekaligus sebagai petani hutan rakyat. Kegiatan diawali dengan mengeluarkan kayu yang telah direndam bahan pengawet alami, kemudian dilanjutkan dengan pemberian label pada setiap batang kayu sesuai dengan jenis pengawetnya termasuk contoh uji kontrolnya. Untuk bahan pengawet kimia (surinem) baru dilaburkan pada batang kayu di hari kedua dan langsung diberi label pada batang kayu tersebut. Setelah itu, semua contoh uji dikubur di petak/lahan yang sudah disiapkan dan diumpankan pada rayap tanah untuk diuji daya tahannya. Uji ketahanan ini dilakukan dengan penguburan (uji kubur/ graveyard test) batang kayu selama 3 (tiga) bulan. Oleh karena itu, hasil praktikum baru dapat diperoleh pada tanggal 21 Oktober 2016. Selain membagikan teknologi pengawetan kayu kepada peserta, praktikum juga bersifat semi-eksperimen sehingga masyarakat dapat menemukan dan melihat sendiri bahan pengawet yang paling tepat untuk produk kayunya.

 

Setelah selesai mengubur seluruh kayu yang dijadikan bahan eksperimen, kegiatan hari kedua diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta. Namun demikian, karena hasil eksperimen baru akan diperoleh tiga bulan kemudian, kegiatan akan dilanjutkan pada tanggal 21 Oktober 2016 dengan pengukuran dan analisis ketahanan kayu terhadap serangan rayap tanah sebagai agenda utama (Penulis : Noviana Budianti).

Berita Terkait