4th Forestry Engineering Excursion Program 2018 The Introduction of Science and Profession of Forestry Engineering

Penulis : Triah Bulkiah dan Fakhri Akhmaludin/Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITB

SITH.ITB.AC.ID, Bandung – Kamis-Sabtu (11-13/01/2017) telah dilaksanakan kegiatan ekskursi oleh Rekayasa Kehutanan SITH-ITB 2015. Ekskursi adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan secara rutin oleh mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan ITB dalam rangka ekplorasi bidang keilmuan dan keprofesian Rekayasa Kehutanan kepada berbagai instansi-instansi terkait.

Dengan adanya kegiatan ekskursi ini, gambaran mengenai dunia kerja setelah proses perkuliahan akan lebih jelas dan terarah. Selain itu, mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan ITB mampu menggali lebih dalam potensi serta peluang ke depannya terkait dengan keilmuan dan keprofesian yang telah didapatkan. Pada tahun ini yang bertepatan dengan liburan semester ganjil, mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan ITB mengunjungi beberapa instansi terkait bidang kehutanan dalam kegitan ekskursi tersebut, dengan tempat tujuannya adalah Taman Nasional Gunung Merapi yang berlokasi di Jalan Kaliurang, Hargobinangun, Sleman D.I. Yogyakarta, Hutan Pendidikan Wanagama Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Jalan Yogyakarta, Playen Kabupaten Gunung Kidul, serta IKAMAT yang berlokasi di EduPark Pantai Maron Tugurejo, Tugu, Kota Semarang. Pada kegiatan ekskursi ini, mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan ITB didampingi oleh dosen pembina kemahasiswaan, yakni Dr. Ichsan Suwandhi

Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM)

Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) merupakan taman nasional yang secara administrasi terletak di satu Provinsi, yaitu Jawa Tengah, dan satu daerah istimewa, yaitu D.I. Yogyakarta. Taman Nasional ini diperuntukkan bagi perlindungan sumber-sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota-kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Kunjungan ke TNGM ini diawali dengan pemaparan mengenai profil dan suksesi TNGM yang dilakukan di kawasan TNGM setelah erupsi tahun 2006 dan tahun 2010, tepatnya di Kali Kuning. Kali Kuning terletak di Resort Cangkringan, Kabupaten Sleman. Lokasi ini berada di bagian selatan D.I. Yogyakarta. Kawasan Gunung Merapi ditetapkan sebagai Taman Nasional atas saran dari Sultan Hamengkubuwono X. Penetapan kawasan TNGM dilakukan berdasarkan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 pada tanggal 4 mei 2004. Kawasan TNGM memiliki luas 6607,25 ha. Secara geologi, kawasan ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu Merapi tua yang terletak di bagian Utara dan Timur Laut yang diperkirakan berumur ±6000 tahun serta Merapi muda yang terletak di bagian selatan dan Barat Laut yang berumur ±2000 tahun.

Hal yang membedakan Merapi tua dan Merapi muda adalah struktur dan tekstur tanahnya. Merapi muda memiliki tekstur berpasir lebih banyak bandingkan Merapi tua. Berdasarkan hal yang dipaparkan, seharusnya Merapi tua memiiki biodiversitas lebih tinggi. Namun pada kenyataannya, biodiversitas Merapi muda justru lebih tinggi yang disebabkan oleh kelimpahan air serta curah hujan di bagian selatan Gunung Merapi yang lebih tinggi daripada di bagian utara. Biodiversitas di TNGM meliputi tumbuhan sebanyak 351 spesies, satwa sebanyak 301 spesies, dan jamur sebanyak 23 spesies. Pada pemaparan tersebut, disampaikan bahwa erupsi yang berlangsung saat itu memiliki kecepatan sekitar 300 km/jam pada tahun 2010 yang berdampak cukup besar pada 3 Desa, yaitu Desa Umbulharjo (kediaman Mbah Marijan), Kepuharjo, dan Glagaharjo. Proses pengembalian lereng menjadi hijau kembali terjadi akibat suksesi alam, hingga pada tahun 2012 dilakukan restorasi bekerja sama dengan UGM. Berdasarkan pengamatan pihak TNGM, jenis tanaman yang pertama kali muncul adalah jenis rerumputan dan alang-alang, sedangkan jenis pohon yang paling dominan dan cepat tersebar saat suksesi adalah Acacia decurrens. Pemandangan yang sangat memanjakan mata disuguhkan dalam berbagai bentuk. Selain barisan pegunungan disekeliling merapi dan kabut yang menyejukkan, terdapat pula beberapa fasilitas yang disediakan pihak TNGM sebagai view point untuk para pengunjung.

Hutan Pendidikan Wanagama Fakultas Kehutanan UGM

Hutan Wanagama merupakan  hutan pendidikan dikelola oleh Fakultas Kehutanan UGM, merupakan sarana pendidikan dan penelitian bagi mahasiswa dan dosen untuk menemukan cara terbaik mengonservasi hutan Indonesia dan membangun tanah kritis. Wanagama telah dikembangkan sebagai sarana pendidikan lingkungan dan rekreasi bagi dunia ilmiah dan publik.

Sekilas mengenai Wanagama, kawasan ini sangat hijau oleh pohon jati yang kemudian dieksploitasi berlebihan oleh Jepang hingga akhirnya hanya tersisa bebatuan. Setelah diserahkan kepada pihak UGM dan menjadi hutan pendidikan Wanagama UGM, pengelolaan untuk menjadi hutan yang hijau difokuskan pada lahan seluas 10 ha dengan kondisi sangat gersang dan berbatu. Tanaman pertama yang diatanami pada lahan ini adalah tanaman Murbei yang akan menghasilkan ulat sutra. Dari sini, dilakukan produksi kain sutra yang akan menjadi penghasilan untuk mengembangkan pengelolaan hutan selanjutnya. Lahan 10 ha ini dinamakan petak 5. Petak ini dibiarkan gersang dan berbatu sebagai bukti sejarah.

Pada daerah berbatu tersebut, masih terlihat pohon Cebreng (Gliricidia sepium) yang berdiri tegak dan memiliki akar yang menembus bebatuan. Setelah lahan 10 ha tersebut berhasil dihijaukan, UGM diberikan lagi lahan tambahan sehingga luasnya menjadi 79,9 ha. Pada pengelolaannya, dilakukan pendekatan sosial dengan masyarakat. Selanjutnya, dilakukan pendekatan teknis dengan membuat terasering untuk menjaga lahan miring agar tidak longsor. Selain itu dibuat pula persemaian tanaman pioneer. Pada tahun 1983, luas lahan Wanagama menjadi 622 ha. Wanagama tidak lagi hanya menghijaukan lahan tetapi juga menjaga keragaman genetic yang ada di dalamnya. Beberapa jenis yang telah diteliti keragaman genetiknya adalah tanaman lamtoro, mahoni, cendana, dll). Sejak saat itu, Wanagama tidak lagi kering dan gersang. Sekitar tahun 1983-2004, Wanagama melakukan uji genetik. Wanagama menjadi kawasan konservasi ex situ (ekaliptus, lamtoro, dll). Pada tahun yang sama pula mulai diterapkan sistem agroforestry. Dalam pemaparan yang langsung disampaikan oleh Bapak Atus, Sekretaris Hutan Pendidikan Wanagama UGM, terdapat beberapa zona di hutan pendidikan ini yang disesuaikan dengan peruntukkannya, yakni petak 5 sebagai lahan Rehabilitasi, petak 6 dan 7 sebagai lahan untuk permudaan alami, petak 15 dan 16 sebagai kawasan untuk Ecotourism, serta petak 19 untuk Agroforestry.

IKAMaT (Pengelolaan Ekowisata Mangrove – UNDIP Semarang)

IKAMaT merupakan yayasan atau sebuah ikatan alumni yang tergabung dalam KeSEMat UNDIP yang bertujuan untuk melakukan pemberdayaan, penghijauan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat pesisirpesisirpengembangan ekowisata mangrove, program lainnya yang diusung berupa penghijauan pesisir dalam bentuk penanaman mangrove. Setelah mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan sampai di lokasi, penyambutan begitu hangat dari Direktur Utama dan jajarannya yang sekaligus memaparkan proses pembentukan yayasan dan pemberdayaan masyarakat sekitar pantai dari awal hingga terbentuk IKAMaT yang sudah bisa bekerjasama dengan berbagai instansi dan membentuk kelompok tani mangrove yang mandiri.

Keberadaan IKAMaT ini sudah diperhitungkan di tingkat lokal, nasional dan internasional, bukan hanya sebagai organisasi mahasiswa/i lagi, tetapi sebagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Berdasarkan pemaparan dari pihak IKAMaT, terdapat 3 pengelompokkan mangrove berdasarkan letaknya terhadap pantai, yakni mangrove mayor (paling dekat dengan pantai sehingga sebagian besar terendam oleh air pasang), minor (terletak lebih jauh dari pesisir sehingga terkadang dikenai oleh pasang naik air laut), dan mangrove asosiasi. Banyak produk yang dihasilkan oleh pihak IKAMat yang bekerjasama dengan Kesemat dan kelompok tani, seperti keripik, kain batik, dan makanan ringan lainnya. Seluruh produk tersebut berbahan dasar mangrove. Propagul dari jenis Rhizopora sp yang direbus menghasilkan tinta batik. Buah dari Bruguiera dan Api-api digunakan untuk bahan dasar pembuatan keripik mangrove. Status kepemilikan lahan IKAMaT ini adalah resmi, bekerjasama dengan LANUMAD A. Yani. Pada awalnya, kegiatan pembudidayaan mangrove dimulai dari pelatikhan dan bimbingan pada petani tambak ikan setempat. Semakin lama, petani petambak ikan mempelajari pembudidayaan mangrove sehingga semakin berkembang. Pelatihan semakin jarang seiring dengan petani yang semakin mandiri dalam melakukan penanaman. Lokasi penanaman yang dipilih pun sangat tepat, yakni pesisir yang terkena air pasang naik dan pasang surut air laut.

Benteng Pertahanan Fort Willem, Semarang

Selain berkunjung ke beberapa instansi yang berhubungan dengan keprofesian di bidang kehutanan, sebagai bonus, mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan berkunjung ke Benteng Fort Willem peninggalan kolonial Belanda di Indonesia. Saksi sejarah yang memukau ini membuat kami, mahasiswa/i Rekayasa Kehutanan termanjakan dengan lokasi yang sangat cocok untuk pengambilan foto. Kunjungan ke tempat bersejarah ini sekaligus menutup kegiatan ekskursi Rekayasa Kehutanan 2018. Bangsa yang besar tidak akan melupakan sejarahnya.

Sebagai Forester, dunia kehutanan menjadi alasan pertama ketika mahasiswa/i telah lulus dari gerbang sarjana. Di manapun forester berada, lingkupnya bukan hanya hutan dalam pemikiran sederhana, tetapi inilah kehutanan, pemikiran ke depan berlandaskan pada kelestarian hutan, apapun itu. (Triah Bulkiah)