Menguak Rahasia Hutan Tropika

Penulis : Rizqy Fachria, Mentari Alwasilah

 

SITH.ITB.AC.ID – Bandung, Mahasiswa Magister Biomanajemen SITH ITB menginisiasi kegiatan ‘Diskusi Mahasiswa Biomanajemen’ sebagai penunjang materi perkuliahan dan sarana interaksi sesama mahasiswa. Diskusi ini diagendakan setiap bulan dengan mengundang beberapa praktisi maupun pakar di berbagai bidang. Diskusi perdana dilaksanakan pada Bulan September 2017 dengan mengundang Dr. Ramalis Sobandi dari Kebon Belajar – Yayasan Pilar Tunas Nusa.

Diskusi kedua dilaksanakan pada Kamis, 9 November 2017 dengan pemateri Susen C. P. Suryanto, penyusun buku Pesona 101 Pohon di Tahura Ir. H. Djuanda. Buku ini merupakan bukti cinta beliau terhadap pohon. Seluruh pohon dengan keistimewaannya masing-masing sangat mempesona bila kita pahami dengan penuh seksama, seperti pada kutipan puisi Nyanyian Pohon Pusaka karya Eka Budianta, “Maafkan aku kalau aku belum mengenalmu. Akan kuperhatikan daunmu, bungamu, dan buahmu. Anggrek dan burung yang bersanggar di dahan rantingmu”.

Menguak Rahasia Hutan Tropika

Dalam diskusi bertema “Menguak Rahasia Hutan Tropika”, Ibu Susen menceritakan sejarah berdirinya Tahura Ir. H. Djuanda. Ekosistem hutan sekunder ini diusulkan oleh Letnan Jendral (Purn.) Mashudi yang menjabat Gubernur Jawa Barat tahun 1960-1970. Program visioner Letjen.(Purn.) Mashudi terhadap penanaman pohon-pohon di kawasan yang menjadi Tahura Ir.H.Djuanda saat ini, menunjukkan bahwa beliau memiliki tingkat kepedulian yang tinggi pada lingkungan dan memiliki wawasan luas yang jauh ke depan untuk kawasan Bandung dan sekitarnya. Pohon-pohon yang ada di Tahura Djuanda saat ini diduga adalah hasil diplomasi beliau dengan para pemimpin negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin ditambah Australia. Pohon-pohon unggulan yang dikirim dari 4 benua ditambah dengan pohon-pohon unggul asli Nusantara menjadi koleksi Tahura. Koleksi pohon dari 4 benua inilah yang membedakan Tahura Djuanda dengan tahura-tahura lain yang ada di Indonesia.

Ekosistem Tahura Ir. H. Djuanda memiliki peran penting bagi kota Bandung. Bagaimana tidak? Tahura seluas 527 ha adalah benteng besar penangkal banjir, penahan erosi dan filter berbagai polusi dari utara, barat dan timur kota Bandung. Selain itu Tahura juga sekaligus berperan sebagai wadah besar penyedia air dan oksigen bagi masyarakat kota Bandung. Sudah sepatutnyalah masyarakat kota Bandung dan sekitarnya bersyukur dengan adanya hutan raya yang begitu dekat dengan pusat kotanya (hanya sekitar 7 km dari titik 0 kota Bandung. Keberadaan hutan raya ini perlu dijaga, dipelihara dan dibela kelestariannya.

Tahura Ir. H. Djuanda dengan kekayaan aneka ragam pohon-pohon tropika dunia, ditambah dengan peninggalan sejarah penjajahan berupa Gua Jepang dan Gua Belanda, fenomena alam berupa Air Terjun Ciomas, Monumen Ir. H. Djuanda dan Tebing Keraton, pemanfaatannya saat ini baru terfokus sebagai objek pariwisata taman rekreasi. Seyogyanya Tahura dengan aneka keragaman dan keunikan pohon-pohonnya bisa menjadi laboratorium alam sebagai tempat studi dan riset para siswa, mahasiswa dan siapa saja yang mau belajar ilmu pohon, serta menjadi sumber plasma nutfah (genetic bank) untuk perluasan pohon-pohon hutan untuk arboretum-arboretum dan lahan-lahan perbanyakan tanaman industri di seluruh penjuru tanah air. Maka dapat dikatakan tujuan Tahura sebagai media belajar dan penelitian serta sumber plasma nutfah belum tercapai.

Dalam buku Pesona 101 Pohon di Tahura Ir. H. Djuanda, Ibu Susen memaparkan bahwa berbagai jenis pohon-pohon itu memiliki manfaat ilmu pengetahuan dan ekonomi yang belum digali, apalagi dimanfaatkan. Pohon-pohon itu selain secara umum memiliki fungsi kayu, berbagai bagian tanamannya juga memiliki fungsi perekat, herbal, energi terbarukan, minyak nabati, minyak pelumas pewarna alami untuk makanan dan pewarna bahan industri, bahan penyamak, serat, tali, biji edible berprotein tinggi, penawar bisa ular dan pestisida alami, bahan pulp untuk kertas, biji-bijian untuk industri kue, aromaterapi, bunga-bunga untuk mendatangkan lebah madu, berbagian tanaman untuk kerajian tangan dan aneka kreatifitas, agroforestry, rehabilitasi hutan, tanaman tepi jalan serta lain-lain yang memiliki nilai ekonomi dan menunjang kehidupan manusia.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh 25 peserta ini, Ibu Susen bercerita beberapa pohon yang sangat menarik, salah satunya pohon Mahoni Uganda (Khaya anthotheca). Kayunya yang dekoratif berwarna merah bernilai tinggi di pasaran dunia, karena kayunya tahan air laut, tahan busuk (jamur) dan serangga rayap, sehingga dapat dijadikan bahan bangunan di pesisir pantai, meubel antic, berbagai bahan interior. Di Afrika, pohon ini banyak dimanfaatkan sebagai badan kapal, Masyarakat Afrika memanfaatkan daun dan berbagai bagian tanaman untuk herbal, pewarna alami, insektisida alami. Di Tahura, terutama di usim hujan banyak pohon-pohon kecil tumbuh di bawah pohon induknya, pohon-pohon kecil ini sejogyanya dibawa ke pembibitan untuk dijadikan tanaman baru. Menjadi kebanggaan jika Tahura Djuanda masih memiliki dan ikut menjaga kelestarian spesies ini untuk bisa disebarkan ke arboretum-arboretum dan kebun-kebun produksi di berbagai daerah di tanah air.

Buku “Pesona 101 Pohon di Tahura Ir. H. Djuanda” hanyalah tumpukan kertas yang tidak berarti bila dibiarkan begitu saja. Buku ini hanyalah awal dari sebuah catatan kebijakan lokal masyarakat daerah tropis di berbagai belahan dunia , untuk mendapatkan keakuratannya tentu saja dibutuhkan berbagai penelitian lebih lanjut dari berbagai pihak yang terkait agar semakin terkuak bagaimana rahasia pesona dari aneka jenis pohon-pohon unggulan dunia yang saat ini menghiasi Taman Hutan Raya Ir. H.Djuanda. Ibu Susen berharap, agar semakin banyak orang, terutama generasi muda mau mengenal, memperhatikan, mempelajari, mencintai, mengembangkan, melestarikan dan membela pohon, agar semua orang kelak sungguh-sungguh bisa menikmati pesonanya. Mari kita perjuangkan Tahura untuk masa depan kesejahteraan masyarakat”. (Suryanto, Susen C.P. 2016. Pesona 101 Pohon di Tahura Ir.H.Djuanda. Perhimpunan Insan Kreatif dan Pecinta Lingkungan SEMANGGI. Bandung. 270 Halaman)

Cerita dari Sumba    

Dien Fakhri Iqbal, seorang psikolog yang ikut serta dalam diskusi ini berbagi pengalamannya di Kampung Tarung, Sumba. Kampung Tarung adalah satu satunya kampung yang masih memegang budaya dari zaman megalitikum. Kearifan lokal dari masyarakat ini berperan penting dalam menjaga hutan lindung. Masyarakat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan pohon di sekitarnya. Bagi masyarakat Kampung Tarung, pohon adalah tempat Tuhan dan sumber pengetahuan. Hutan memiliki fungsi sebagai rahim. Mereka memiliki pandangan yang holistik dan ikatan batin dengan pohon yang ada di hutan. Pengambilan kayu dalam hutan hanya bisa dilakukan jika mendapat izin dari Marapu melalui tradisi buka lahan. Tarian dan nyanyian dilakukan untuk memberi tahu kepada pohon bahwa ia akan dibawa ke tempat yang baru.

J. A. Coupertino Umbu, peserta diskusi dari Komunitas Studi Arsitektur Vernakular pun turut serta dalam diskusi ini , ia bercerita, di Sumba, tempat kelahirannya, setiap pohon memiliki memorinya masing-masing. Mulai dari jenis burung yang pernah hinggap, air yang pernah mengalirinya, matahari, awan, hujan dan berbagai kenangan yang tersimpan di dalam batang. Hal inilah yang sangat dihormati oleh warga, sehingga dalam memanfaatkan batang pohon untuk pondasi rumah, mereka memiliki beberapa syarat. Setiap keluarga menggunakan jenis pohon yang berbeda dan terus dijaga dari generasi ke generasi. Jika suatu keluarga ingin membangun rumah kembali, mereka harus mencari jenis pohon yang sama di lokasi yang berbeda dengan jarak pohon pertama dan kedua harus berjauhan. Pohon yang boleh dipotong hanya pohon yang sudah tua dan telah dilakukan penanaman kembali. Kayu hasil sisa pembangunan pondasi rumah harus dikembalikan lagi ke hutan sebagai isyarat bahwa batang pohon sebagai anak dari hutan telah tinggal bersama keluarga baru. Kuatnya nilai kearifan lokal berperan penting dalam menjaga hutan lindung. Setiap daerah dan kampung adat memiliki cara yang bijaksana saat berinteraksi dengan alam, ini penting untuk diperhatikan dan dilestarikan.