Kunjungan ke Xylarium Bogoriense – Koleksi Kayu Terbesar Ketiga Dunia

(Penulis : Dr. Atmawi Darwis dan Mahasiswa TPP)

SITH.ITB.AC.ID, BANDUNG – Rabu, 25 Oktober 2017 mahasiswa program studi Teknologi Pascapanen melakukan kuliah lapangan pertama mata kuliah Anatomi Kayu dan Bukan Kayu di Kota Bogor. Tempat yang menjadi tujuan mereka adalah sebuah pusat penelitian dan pengembangan hasil hutan yang yang bernama Xylarium Bogoriense 1915. Dengan antusias mereka mendengarkan materi-materi menarik yang disampaikan para pembicara dari Xylarium Bogoriense 1915. Para pembicara hebat itu antara lain ibu Ratih Damayanti, bapak Andianto, bapak Krisdianto, ibu Listya Mustika Dewi, dan ibu Tutiana. Mereka menyampaikan materi berkaitan dengan pengenalan Laboratorium Anatomi Tumbuhan Xylarium Bogoriense 1915, fossil-fossil kayu yang berada disana, pengelompokan kayu baik kayu daun lebar ataupun kayu daun jarum, hingga pengenalan aplikasi identifikasi kayu yang baru dikembangkan yaitu computer vision.


 XYLARIUM BOGORIENSEXYLARIUM BOGORIENSE – Xylarium bogoriense 1915 merupakan satuan kerja dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan (P3HH) yang bertugas mengumpulkan serta menyimpan contoh kayu dari berbagai jenis pohon. Selain itu, Xylarium bogoriense juga menunjang bidang forensik dalam menangani perkara diman akayu sebagai barang bukti, serta menunjang penelitian arkeologi dan paleobootani. Terdapat  ± 45.067 koleksi kayu dari hampir seluruh wilayah Indonesia. Terdiri atas 110 suku, 785 marga (genus) dan 3.667 spesies, serta memiliki ±100.000 sampel kayu dari seluruh dunia. Xylarium bogoriense memiliki koleksi kayu terbesar ketiga di dunia setelah Amerika dan Belgia. Salah satu kegiatan penelitian yang dilakukan yaitu pelayanan indentifikasi jenis kayu dan fosil kayu yang merupakan langkah awal dalam proses pengolahan dan pemanfaatannya.  Kegiatan penelitian dari Xylarium bogoriense yang saat ini dilakukan diantaranya meneliti sifat dasar dan penyempurnaan kualitas kayu, rotan dan bambu, pengembangan koleksi kayu, bambu dan rotan, meneliti struktur anatomi kayu yang sangat kurang dikenal, pengelompokkan jenis kayu perdagangan Indonesia, Arkeologi dan Paleobotani (Konsenvasi Fosil Tumbuhan Tropis), dan pengembangan sistem identifikasi kayu otomatis menggunakan ‘computer vision’.


PENGELOMPOKKAN KAYU PERDAGANGAN – Pengelompokan kayu berdasarkan ketersediaannya terbagi menjadi kelompok utama (kayu perdagangan), kayu kurang dikenal (the lesser known) dan kayu sangat sedikit dikenal (the least known). Mengetahui jenis-jenis kayu perdagangan sangat penting salah satunya untuk mencegah terjadinya penyelundupan kayu, penetapan pajak kayu yang tidak sesuai sehingga dapat menyababkan kerugian devisa negara. Indonesia kaya akan keberagaman jenis kayunya akan tetapi masih terdapat banyak kayu yang belum teridentifikasi dan dikelompokkan dalam jenis-jenis kayu perdagangan sehingga banyak kayu yang berkualitas baik namun dikenakan biaya yang rendah. Penentuan jenis kayu dengan memeriksa sifat anatomi merupakan metode yang paling akurat sebab kayu-kayu di Indonesia antar jenisnya sukar untuk dibedakan. Pengelompokan kayu perdagangan dapat dilakukan secara sistemastis dengan system skoring meliputi nilai keindahan, kekuatan dan keawetan kayu. Kriteria pengelompokan jenis kayu perdagangan berdasarkan Appendix I CITES dan kayu dengan larangan tebang (tidak diperdagangkan), berdasarkan keindahan (warna dan corak, kerataan warna, orientasi serat, tekstur dan kesan kilap) sehingga digolongkan kedalam kelas komersial indah I dan komersial indah II. Apabila tidak memenuhi kriteria keindahan makan penggolongan didasarkan kepada kualitas kayu (berat jenis dan keawetan) dan dibagi menjadi kelas komersial I,II dan III. Kayu yang tergolong dalam kelas komersial indah I adalah kayu Ulin, Ringgit dareh, Eboni bergaris dan lain-lain. Jenis kayu dalam kelas komersial indah II contohnya Kempas, Bedaru dan cempaka. Jenis kayu dalam komersial I ada Babi kurus, Balau, Bangkirai tanduk dan lain-lain. Jenis kayu komersial II ada kayu durian, Hati kakatu, Katuko dan komersial III ada Arang-arang, Balam ijuk, Gadeper dan masih banyak lagi.


FOSSIL KAYU – Dengan pembicara yang sangat handal di bidangnya, termasuk Ibu Listya Mustika Dewi yang merupakan ahli di bidang fosil kayu atau disebut ilmu paleobotani, kami banyak diberikan pengetahuan mengenai fosil kayu. Fosil kayu memiliki nilai sejarah yang tak ternilai karena dapat menjadi bukti hidupnya suatu jenis pohon tertentu pada zaman pra sejarah. Salah satu ciri ditemukannya fosil kayu adalah ditemukannya produk gunung api tersier. Dari berbagai sumber, fosil kayu yang ditemukan di Indonesia berasal dari masa miocene sampai pliocene yaitu 25 juta tahun BP (Before Present) sampai 2 juta tahun BP. Pada kuliah lapangan tersebut kita sangat takjub dengan adanya fosil kayu yang menjadi pusat kajian di puslitbang tersebut, karena wujud dari fosil kayu tersebut menyerupai batu namun jika diamati dengan sangat teliti masih memiliki lingkar tumbuh. Penelitian fosil kayu di Indonesia sudah dimulai sejak masa pemerintahan Belanda. Berbagai penelitian mengenai fosil kayu yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penelitian fosil kayu mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Sampai saat ini fosil kayu di Indonesia masih dimanfaatkan sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Berdasarkan informasi dari penjual fosil kayu di Leuwiliang, Bogor ketersediaan bahan baku fosil kayu sudah semakin berkurang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan punahnya fosil kayu.

Sistem Identifikasi Kayu Otomatis Menggunakan ‘Computer vision’ – Untuk memudahkan pengerjaan identifikasi kayu, Lab. Anatomi Tumbuhan P3HH telah menggunakan computer vision agar dapat secara otomatis mengidentifikasi kayu dengan menggunakan database berbagai jenis kayu. Laboratorium tersebut telah terakreditasi ISO 17025: 2008 untuk pengujian identifikasi kayu dengan menggunakan standar metode meliputi identifikasi secara makroskopis dan mikroskopis (IAWA), inpput data kunci identifikasi kayu, dan rekomendasi jenis kemudian dibandingkan dengan koleksi kayu autentik. Akan tetapi, dalam pengerjaannya dibutuhkan keahlian dan petugas yang mampu mengidentifikasi jenis kayu terbatas. Penelitian ini dimulai pada tahun 2011 dengan menggunakan 30 jenis kayu dari lima lokasi geografis, dan dari tiap lokasi minimal digunakan tiga spesimen. Computer vision tersebut merupakan sebuah bentuk kerjasama riset antara Pusat Penelitian Informatika LIPI dan Pusat Litbang Hasil Hutan, Badan Litbang dan Inovasi yang dibiayai oleh Program Insinas Riset Pratama Kemitraan – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Republik Indonesia. Riset ini memiliki target untuk mengidentifikasi 809 kayu komersial dengan prototype sistem identifikasi kayu otomatis berdasarkan foto makroskopis yang dilengkapi dengan klasifikasi kayu perdagangan, berat jenis, kelas kuat, kelas awet dan rekomendasi penggunaan. Contoh riset computer vision yang sedang dikembangkan adalah RISH Mission Research 2017: “Computer vision based wood anatomy and non-destructive methods for wood identification” dan NDT methods for bamboo identification (NIR & computer vision-stereomicroscope) untuk 135 spesies bambu endemik Indonesia. Riset ini bertujuan untuk pengetahuan sekaligus langkah preservasi keanekaragaman hayati karena akan terhubung dengan seluruh database xylarium yang ada di dunia terutama untuk menjaga jenis kayu yang dilindungi.


Secara umum, keseluruhan materi yang didapat merupakan dasar pengetahuan tentang anatomi kayu. Dengan adanya kuliah lapangan ini, diharapkan mahasiswa lebih terbuka wawasannya serta dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapat sebaik-baiknya.