Prof. Djoko Iskandar menjadi Pemakalah Utama dalam Seminar Perhimpunan Herpetologi Indonesia (PHI)

(Penulis : Ganjar Cahyadi)

SITH.ITB.AC.ID, BANDUNG – Pada tanggal 10-11 November 2017 telah diadakan seminar nasional bertajuk “Xenodermus 2017: Exploration and Conservation of Indonesian Herpetofauna Diversity Symposium and 5th Indonesian Herpetological Congress”. Seminar dan kongres ini merupakan acara rutin Perhimpunan Herpetologi Indonesia (PHI) setiap dua tahun sekali yang dalam pelaksanaannya kali ini bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Biologi Universitas Padjajaran. Secara umum, seminar ini bertujuan sebagai wadah pertukaran informasi hasil penelitian mengenai amfibi dan reptil yang telah dilakukan maupun yang masih berjalan. Hasil penelitian tersebut disampaikan melalui presentasi oral maupun dalam bentuk poster. Selain itu, terdapat juga lomba fotografi untuk mengapresiasi dokumentasi dari spesies amfibi dan reptil yang didapatkan selama kegiatan penelitian atau survei.

Seminar kali ini diikuti oleh empat pemakalah utama (keynote speaker), termasuk salah satunya ahli amfibi dan reptil Indonesia dari  Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung yaitu Prof. Djoko T. Iskandar. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan mengenai penelitian amfibi dan reptil di Indonesia yang telah berlangsung cukup lama dengan mengandalkan tiga buku pegangan utama yang belum tergantikan selama satu abad. Namun, saat ini telah terjadi perubahan besar akibat adanya teknologi sehingga banyak informasi yang bisa didapatkan dan diakses dengan mudah. Sayangnya, setiap peneliti terutama peneliti muda tidak dilengkapi kemampuan yang sama untuk memanfaatkan hal tersebut. Oleh karena itu, aspek kehidupan dari biodiversitas amfibi dan reptil yang sangat tinggi di Indonesia diharapkan dapat menjadi peluang penelitian yang belum banyak dilakukan oleh banyak orang. Informasi yang banyak terdapat pada laman elektronik dapat dimanfaatkan untuk mencari kelompok yang belum banyak diteliti dan daerah mana saja yang belum banyak memiliki informasi serta aspek biologi apa saja yang belum ditekuni oleh orang banyak sehingga harapannya para peneliti muda amfibi dan reptil dapat mengambil posisi yang paling strategis bagi perkembangan herpetologi di Indonesia.

 

Pemakalah utama lainnya adalah Dr. Amir Hamidy yaitu Kepala Laboratorium Herpetologi, Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Puslit Biologi LIPI sekaligus Presiden PHI. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan pemanfaatan dan perdagangan amfibi dan reptil di Indonesia yang sangat besar sehingga mengancam kelestarian hewan tersebut terutama untuk hewan yang dilindungi negara. Usaha konservasi amfibi dan reptil sangat dibutuhkan termasuk pengetatan alur perdagangan baik dalam maupun luar negeri. Evaluasi terhadap jenis hewan yang dilindungi juga sangat diperlukan sesuai dengan kondisi terkini.

Pemakalah utama selanjutnya adalah Dr.Mirza Dikari Kusrini, ahli amfibi dan reptil Indonesia dari Institut Pertanian Bogor. Dalam presentasinya, beliau menjelaskan betapa pentingnya peran masyarakat dalam melaporkan keberadaan amfibi dan reptil di sekitar tempat tinggal mereka. Melalui konsep citizen science, diharapkan atlas amfibi reptil Indonesia dapat terwujud. Salah satu kegiatan yang telah dilakukan adalah Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (GO ARK) pada April 2017 lalu. Peserta dari kegiatan ini merupakan masyarakat umum, komunitas, maupun mahasiswa dan pelajar dari seluruh Indonesia. SITH ITB juga telah berpartisipasi dalam kegiatan ini, diwakili oleh tim “Kecebong” yang terdiri dari mahasiswa Rekayasa Kehutanan (Muhammad Azmi, Adenna Yuska Nurrahman, Evita Izza Dwiyanti, Rizdha Okkianty Yudha, Jehuda Christ Wahyu, dan Sony Saefulloh) serta seorang staf Tenaga Kependidikan yaitu Ganjar Cahyadi. Saat itu tim menempati peringkat ke-5 untuk kategori grup dan peringkat ke-2 untuk kategori individual. Hal ini merupakan suatu pencapaian yang besar mengingat tim baru terbentuk sebulan sebelum kegiatan dengan pengalaman dan pengetahuan yang minim mengenai amfibi dan reptil. Namun, semangat belajar, kerjasama dan kerja keras menghasilkan nilail yang sepadan dan membuat kebanggaan tersendiri bagi tim mengingat minat akan penelitian amfibi dan reptil di SITH ITB sendiri sangat minim padahal memiliki potensi yang besar sekali. Semoga hal ini bisa menjadi motivasi terutama bagi mahasiswa SITH ITB dalam menjalankan pembelajarannya.

Pemakalah utama terakhir pada seminar ini adalah Dr. dr. Tri Maharani, M. Si, Sp.EM, seorang dokter ahli dan spesialis penanganan terhadap gigitan ular di Indonesia. Dalam presentasinya yang dilaksanakan pada hari kedua seminar, beliau menjelaskan bahwa angka kematian akibat gigitan ular berbisa dalam beberapa bulan terakhir ini sangat tinggi, mencapai ambang batas yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan. Kebanyakan dari korban merupakan anggota komunitas yang memiliki ular berbisa dan tergigit pada saat atraksi namun terlambat untuk ditangani oleh petugas kesehatan. Hal ini tentu menjadi masalah yang sangat serius, namun pelaporan terhadap gigitan ular terutama di daerah sangat sedikit. Selain itu, pemahaman masyarakat terhadap penanganan pertama secara benar mengenai gigitan ular yang masih minim. Padahal penanganan pertama yang dilakukan secara benar dapat menurunkan potensi kematian dari pasien mengingat ketersediaan antibisa ular di Indonesia sangat terbatas dan yang umum diberikan adalah antibisa polivalen sedangkan idealnya antibisa yang diberikan harus spesifik terhadap jenis ular yang menggigit dan untuk mendapatkan itu harganya sangat mahal sekali. Pada kesempatan ini, Ibu Tri juga memberikan pelatihan first aid terhadap gigitan ular secara benar di depan seluruh peserta seminar. Hal ini tentu merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Selain pemakalah utama, dalam seminar ini juga terdapat pemakalah pendamping yang telah terseleksi dan berasal dari berbagai kalangan mulai dari komunitas, professional, dosen, maupun mahasiswa. Para pemakalah pendamping ini menyampaikan hasil penelitian maupun laporan observasi secara paralel dihadapan seluruh peserta yang hadir. SITH ITB juga memiliki delegasi sebagai pemakalah pendamping yaitu Ganjar Cahyadi dengan topik penelitiannya yaitu “Aktivitas Makan dan Komposisi Makanan Beberapa Spesies Katak dari Famili Ranidae di Sumatera” serta Adenna Yuska Nurrahman (Mahasiswa Rekayasa Kehutanan 2014) dengan topik penelitiannya yaitu “Analisis Penggunaan Ruang pada Amfibi dan Reptil Menggunakan Metode Kernel Density Estimation (KDE) di Kampus ITB Jatinangor”, yang merupakan tindak lanjut dari data yang didapatkan oleh tim “Kecebong” pada saat kegiatan GO ARK bulan April 2017 lalu. Setelah seminar berakhir, Adenna kemudian dinobatkan sebagai The Best Presenter dan mengungguli 46 pemakalah lainnya setelah memperoleh nilai tertinggi dari kriteria yang ditentukan seperti kemampuan menyampaikan gagasan, ketepatan waktu, serta analisis dan sintesis hasil penelitian. Hal ini tentu dapat menjadi motivasi tersendiri bagi mahasiswa yang bersangkutan khususnya dan mahasiswa SITH lainnya bahwa masih banyak potensi diri dan yang bisa dikembangkan dan kesempatan penelitian bahkan dalam bidang ilmu yang kurang diminati sepeti herpetologi.

 

Secara keseluruhan, peserta seminar yang berjumlah sekitar 100 orang berasal dari berbagai macam institusi seperti mahasiswa dari berbagai jurusan dan universitas, kelompok pecinta alam, komunitas herpetologi, serta professional dari berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, peserta yang berasal dari luar negeri juga ikut berpartisipasi sebagai pemakalah pendamping dan menyampaikan hasil penelitian yang mereka lakukan di Indonesia seperti Andre Jankowski dari Centrum fur Naturkunde, Zoological Museum, Universitas Hamburg, Jerman serta Ron Lilley, seorang berkebangsaan Inggris yang telah lama melakukan kegiatan Bali Snake Patrol. Hal ini tentu menjadi pemicu semangat untuk melakukan penelitian lebih banyak lagi terutama di bidang amfibi dan reptil yang masih sangat minim.

Acara pun ditutup dengan kongres kelima PHI untuk memilih presiden PHI selanjutnya, tempat seminar dan kongres selanjutnya diadakan, serta pembahasan lain mengenai keorganisasian di PHI. Setelah dirundingkan, akhirnya Dr. Amir Hamidy kembali menjadi presiden PHI untuk periode empat tahun ke depan dan seminar selanjutnya akan dilaksanakan di Medan pada tahun 2019. Sebagai kegiatan tambahan, field trip ke Taman Buru Gunung Masigit-Kareumbi dilakukan untuk mengamati potensi amfibi dan reptil yang ada disana. Kegiatan ini menjadi salah satu cara refreshing bagi para peserta setelah dua hari berkonsentrasi untuk seminar dan kongres.