Pelatihan Diversifikasi Produk Bambu Melalui Teknologi Laminasi Oleh : Kelompok Keilmuan Teknologi Kehutanan SITH-ITB

Pada hari Senin-Rabu, 7-9 Agustus 2017, KK Teknologi Kehutanan menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) berupa pelatihan yang berjudul “Diversifikasi Produk Bambu melalui Teknologi Laminasi dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Geulis, Sumedang”. Pelatihan dilaksanakan di Labtek VA (Gedung Kehutanan) dan Laboratorium Kayu Kampus ITB Jatinangor serta Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Cileunyi-Bandung. Sesuai dengan sasaran kegiatan, peserta pelatihan berasal dari delapan (8) desa yang berbatasan langsung dengan Kawasan Hutan Pendidikan Gunung Geulis Sumedang, yaitu Desa Jatiroke, Desa Jatimukti, dan Desa Cisempur (Kecamatan Jatinangor), Desa Mangunarga, Desa Sawah Dadap, dan Desa Cikahuripan (Kecamatan Cimanggung), Desa Raharja dan Desa Cinanjung (Kecamatan Tanjungsari).
Pada hari pertama, peserta mengikuti perkuliahan yang dilanjutkan dengan diskusi mengenai jenis dan karakteristik bambu serta teknik pengolahannya untuk berbagai tujuan penggunaan. Kuliah diberikan oleh dosen-dosen anggota KK Teknologi Kehutanan, yaitu Dr. Atmawi Darwis, Dr. Sutrisno, Dr. Eka Mulya Alamsyah, dan Dr. Yoyo Suhaya. Para peserta tampak antusias dalam mengikuti seluruh rangkaian perkuliahan karena materi yang disampaikan oleh para dosen merupakan pengetahuan baru bagi mereka. Sesi diskusi pun berlangsung interaktif karena seluruh peserta mampu terlibat secara aktif.

Pada hari kedua, peserta pelatihan diberi kesempatan untuk mengaplikasikan materi perkuliahan melalui kegiatan praktikum. Materi utama dalam kegiatan praktikum tersebut adalah pembuatan bambu laminasi. Peserta dibagi ke dalam empat (4) kelompok yang masing-masing dibantu oleh asisten mahasiswa yang berasal dari Prodi Rekayasa Kehutanan dan Teknologi Pasca Panen. Seluruh peserta mencoba membuat bambu laminasi dengan menggunakan bahan dan peralatan yang tersedia di Laboratorium Kayu SITH di Kampus ITB Jatinangor. Setiap kelompok peserta mencoba melakukan seluruh tahapan pembuatan bambu laminasi, mulai dari pemotongan bilah bambu, perataan atau penghalusan permukaan bilah bambu, hingga proses perekatan. Proses perekatan bambu membutuhkan waktu selama satu malam sehingga hasil praktikum baru dapat diamati keesokan harinya, dan selanjutnya dilakukan perataan akhir untuk memperoleh papan bambu laminasi.

Di hari ketiga, peserta pelatihan berkunjung ke Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Perumahan dan Permukiman yang merupakan sebuah lembaga riset yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Di tempat ini, para peserta mendapatkan kuliah singkat dari Bapak Ir. Lasino yang merupakan salah satu peneliti senior di bidang pengolahan kayu dan bambu. Kuliah berisi materi mengenai potensi pemanfaatan bambu sebagai material konstruksi baik untuk perumahan rakyat maupun bangunan lainnya, seperti jembatan. Selain itu, dipaparkan pula potensi peningkatan nilai ekonomi bambu melalui pemanfaatannya sebagai material dekoratif. Setelah pemaparan materi, acara kunjungan dilanjutkan dengan meninjau berbagai produk penelitian serta fasilitas yang dimiliki oleh Puslitbang Perumahan dan Permukiman. Selain memperoleh wawasan baru, para peserta pun mendapatkan peluang kerjasama dengan lembaga penelitian ini karena Puslitbang Perumahan dan Permukiman memiliki program penghijauan lahan kritis dengan menggunakan bambu yang pada pelaksanaannya akan melibatkan masyarakat, baik pada saat penanaman maupun pemanfaatan hasilnya.

Setelah acara kunjungan selesai, para peserta kembali ke Kampus ITB Jatinangor untuk mengamati bambu laminasi hasil praktikum di hari sebelumnya. Kemudian, acara ditutup oleh ketua pelaksana, yaitu Dr. Yoyo Suhaya, dengan pembagian sertifikat untuk seluruh peserta. Panitia berharap bahwa kegiatan pelatihan ini dapat berkontribusi dalam pengembangan produk bambu serta memperluas wawasan masyarakat mengenai produk hutan selain kayu yang dapat dimanfaatkan dengan maksimal tanpa harus merusak kawasan hutan.