Profesor Termuda SITH ITB, Prof. Dr. Ahmad Faizal Kembangkan Bioteknologi Tanaman Tropis Berkelanjutan

Penetapan Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. sebagai Guru Besar di bidang Bioteknologi Tumbuhan di SITH ITB
Bandung, sith.itb.ac.id — Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menambah jajaran Guru Besar dengan ditetapkannya Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. sebagai Guru Besar di bidang Bioteknologi Tumbuhan melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada akhir tahun 2025.
Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. merupakan dosen yang tergabung dalam Kelompok Keilmuan (KK) Sains dan Bioteknologi Tumbuhan di SITH ITB, dengan fokus penelitian pada metabolit sekunder tumbuhan. Ketertarikan beliau terhadap bioteknologi tumbuhan berangkat dari pandangan bahwa tumbuhan merupakan “ahli kimia alami,” melalui produksi metabolit sekunder yang memiliki potensi beras untuk dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, pangan, dan industri.
“Metabolit sekunder bukan cuma soal bertahan hidup, tapi juga menyimpan potensi besar untuk masa depan. Rekayasa metabolisme membantu kita memahami dan mengarahkan potensi itu supaya bisa dimanfaatkan secara lebih efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.
Dalam penelitian terbarunya, Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. berfokus pada biosintesis metabolit sekunder tanaman tropis bernilai ekonomi seperti gaharu. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi secara artifisial, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada eksploitasi sumber daya alam dan mencegah terjadinya kerusakan alam. Beliau juga berharap agar kedepannya bidang bioteknologi tumbuhan semakin berkembang secara lintas disiplin. Menurutnya, riset bioteknologi tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah semata, tetapi juga mampu menghasilkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Sejalan dengan harapan tersebut, fokus penelitian Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. kedepannya akan diarahkan pada integrasi riset dasar dan terapan, khususnya dalam pengembangan platform bioteknologi untuk tanaman tropis Indonesia. Selain itu, ia juga berencana memperkuat kolaborasi lintas institusi dan lintas negara agar hasil penelitian yang dihasilkan memiliki dampak yang lebih luas, baik dari sisi akademik maupun sosial-ekonomi.
Selain itu, beliau juga aktif membina Tim Olimpiade Biologi Indonesia. Kegiatan ini ia maknai bukan hanya sebagai ajang persiapan kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk pengabdian untuk menanamkan kecintaan pada sains, kerja keras, serta kejujuran akademik sejak dini kepada generasi muda.

Bagi Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. penetapan sebagai Guru Besar bukanlah garis akhir, melainkan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia berharap dapat berperan aktif dalam membangun ekosistem riset yang sehat, mengorbitkan peneliti-peneliti muda, serta memperluas jejaring kolaborasi untuk memperkuat kontribusi akademik dan keilmuan.
Beliau juga menekankan bahwa perjalanan menuju penetapan sebagai Guru Besar merupakan proses yang penuh tantangan dan tidak bersifat seragam bagi setiap individu. Setiap akademisi memiliki ritme, konteks, dan strategi yang berbeda, sehingga capaian orang lain tidak seharusnya dijadikan patokan dalam menilai perjalanan diri sendiri.
Menurutnya, secara sistem jalur menuju Guru Besar telah tersusun dengan jelas. Meskipun tuntutan akademik semakin kompleks, proses tersebut tetap dapat ditempuh dalam kerangka Tridarma dosen apabila dijalani secara konsisten dan berkelanjutan. Saat ini, Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. dikenal sebagai salah satu Profesor termuda di lingkungan SITH ITB, namun ia memandang pencapaian tersebut sebagai “usia yang pas” untuk mulai memikul tanggung jawab sebagai Guru Besar. Dengan ruang dan waktu yang masih panjang, ia berharap dapat terus berkarya dan berkontribusi, sekaligus membuka jalan bagi akademisi muda lain yang memiliki kompetensi serupa untuk segera menyusul capaian akademik tersebut di masa mendatang.
Sebagai penutup Prof. Dr. Ahmad Faizal, S.Si., M.Si. berpesan agar akademisi muda mengenali ritme diri masing-masing dalam meniti karir. Ia menekankan pentingnya menjalani proses secara natural, tanpa paksaan, serta menemukan bidang keilmuan yang menjadi kekuatan utama. “Intinya sederhana kenali ritmemu, jalani dengan natural, jangan dipaksakan. Find your niche, stay consistent, recognition will follow,” tutupnya.
Kontributor: Rini Berliani (Biologi 2025)
Editor: Ardhiani Kurnia Hidayanti