SITH ITB Hadir di Ujung Negeri: Inovasi Gaharu dan Biochar Dorong Pemberdayaan Warga Malinau
Malinau, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) di Desa Metut, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, yang merupakan wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), selama tiga hari, pada 30 April hingga 2 Mei 2026.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Ir. Mustika Dewi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB selaku Ketua Pengmas, yang bersama tim dosen dan mahasiswa membawa berbagai inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung pemberdayaan masyarakat desa.

Tim SITH ITB yang bertugas di desa Metut.
Kegiatan ini secara resmi dibuka pada 30 April 2026 dengan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan daerah dan mitra kolaborasi. Hadir dalam acara pembukaan antara lain Kepala Desa Metut, Pak Kamilus; Kepala UPTD KPH Malinau, Pak Antonius Mangiwa, S.Hut., M.Si.; Fasilitator KKI Warsi, Tiarma Rezeki Manalu; Kepala Seksi PMD Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Pak Jemmy, S.Sos.; serta Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, Pak Tahyudin Kusnandar, S.Hut.
Kegiatan Pengmas ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan serta mendorong pengembangan ekonomi lokal berbasis potensi wilayah. Program ini didanai oleh Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri (LAPI) ITB, dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk KKI Warsi dan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara. Kepala Desa Metut, menyampaikan, “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap Masyarakat Desa Metut dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan baik serta menerapkannya untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.”
Selama tiga hari pelaksanaan, berbagai pelatihan dan praktik langsung diberikan kepada masyarakat oleh tim dosen dan mahasiswa dari SITH ITB serta mitra dari Universitas Borneo Tarakan (UBT). Materi yang disampaikan mencakup berbagai teknologi tepat guna yang relevan dengan kondisi lokal.

Seluruh peserta pengabdian kepada masyarakat di desa Metut.
Dalam bidang pengembangan gaharu, masyarakat mendapatkan pelatihan pembuatan inokulan gaharu yang dipandu oleh Dr. Ir. Mustika Dewi, serta teknologi injeksi inokulan gaharu oleh Anca Awal Sembada, Ph.D. Kedua materi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi pohon gaharu melalui teknik budidaya yang lebih efektif.
Selain itu, teknologi pengolahan biomassa juga menjadi fokus utama melalui pelatihan pirolisis untuk menghasilkan biochar dan asap cair yang dibawakan oleh Dr. Ir. Anne Hadiyane bersama Hadimanah Fikrudien Bahtiar. Pemanfaatan hasil olahan tersebut untuk mendukung pertumbuhan tanaman dijelaskan lebih lanjut oleh Dr. Ir. Alfi Rumidatul, sehingga masyarakat dapat memahami aplikasi langsung dalam kegiatan pertanian.
Dalam upaya meningkatkan kesuburan tanah secara mandiri, masyarakat juga dilatih dalam pembuatan pupuk cair dan pupuk kompos oleh Dr. Ir. Atmawi Darwis. Sementara itu, untuk diversifikasi produk dan peningkatan nilai tambah hasil perikanan lokal, Imra, S.Pi., M.Si. dari Universitas Borneo Tarakan memberikan pelatihan pembuatan olahan ikan.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat Desa Metut, yang активно terlibat dalam setiap sesi pelatihan dan diskusi. Pendekatan partisipatif yang diterapkan memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan lokal.

Kegiatan pelatihan di tengah hutan gaharu.
Melalui kegiatan Pengmas ini, diharapkan masyarakat Desa Metut dapat mengembangkan keterampilan baru yang aplikatif, meningkatkan kesejahteraan ekonomi, serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci penting dalam mendorong pembangunan daerah 3T yang inklusif dan berdaya saing.
Kontributor: AAS
Editor: AKH