Enter your keyword

SITH Selenggarakan Guest Lecture Bersama Dr. Katharine Legun dari Wageningen University & Research

SITH Selenggarakan Guest Lecture Bersama Dr. Katharine Legun dari Wageningen University & Research

Bandung, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menyelenggarakan kegiatan Guest Lecture yang menghadirkan Dr. Katharine Legun, Visiting Scholar dari Knowledge, Technology, and Innovation Group, Wageningen University & Research (WUR), Belanda. Bertempat di Ruang Seminar Lantai 3 Labtek XI SITH ITB Ganesha, kuliah tamu ini mengangkat tema “A Politics of Care in Agriculture: Examining Social and Ecological Relationship Reconstruction in Experimental Plant Production Spaces.” Kegiatan ini merupakan bagian dari program kunjungan Dr. Legun di SITH ITB melalui skema WCU Equity Program.

Dalam kuliah tersebut, Dr. Legun memperkenalkan konsep politics of care sebagai perspektif baru dalam memahami sistem pertanian modern. Menurutnya, pertanian tidak hanya berkaitan dengan proses produksi pangan, tetapi juga melibatkan hubungan antara manusia, tanaman, teknologi, lingkungan, dan masyarakat. Konsep care dipahami sebagai bentuk perhatian, keterlibatan, komitmen, dan tanggung jawab terhadap berbagai pihak yang sering kali kurang mendapat perhatian dalam sistem pertanian. Melalui perspektif ini, peserta diajak untuk mempertanyakan siapa yang memperoleh manfaat dari praktik kepedulian, siapa yang menentukan bagaimana kepedulian diwujudkan, serta siapa yang menjalankan pekerjaan perawatan tersebut.

Dr. Legun kemudian memaparkan hasil penelitian transdisipliner selama lima tahun yang didanai oleh New Zealand Ministry of Business, Innovation and Employment (MBIE). Penelitian tersebut bertujuan mengembangkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura. Proyek ini melibatkan kolaborasi antara insinyur, ilmuwan komputer, agronom, serta pelaku industri, melalui wawancara dengan 36 anggota tim proyek, 44 petani, dan enam perwakilan industri dari sektor komoditas apel, anggur, dan blueberry.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sistem robotik yang mampu memantau kondisi setiap tanaman secara individual. Dengan bantuan sensor dan kecerdasan buatan, teknologi tersebut diharapkan mampu mengenali kebutuhan masing-masing tanaman secara lebih presisi, sehingga pengelolaan budidaya menjadi lebih efektif. Namun, Dr. Legun menekankan bahwa pengembangan teknologi tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan mengenai bentuk hubungan yang dibangun antara manusia, tanaman, dan lingkungan.

Melalui hasil penelitiannya, Dr. Legun menjelaskan bahwa praktik kepedulian dalam pertanian memiliki berbagai dimensi. Selain kepedulian terhadap tanaman dan lingkungan (more-than-human care), terdapat pula aspek hubungan jangka panjang antara petani dan lahannya, nilai estetika lanskap pertanian, hingga keadilan dan kesejahteraan bagi tenaga kerja. Oleh karena itu, pengembangan teknologi seharusnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan efisiensi produksi, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut membentuk relasi sosial dan ekologis di sektor pertanian.

Isu tenaga kerja menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian khusus dalam kuliah ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan pelaku industri hortikultura di Selandia Baru, meningkatnya penggunaan otomatisasi dipengaruhi oleh kesulitan memperoleh tenaga kerja, rendahnya citra pekerjaan di sektor hortikultura, serta kebutuhan akan tenaga kerja yang lebih terampil. Dr. Legun menjelaskan bahwa perkembangan robotika dan AI tidak hanya mencerminkan kemajuan teknologi, tetapi juga perubahan cara masyarakat memandang pekerjaan di sektor pertanian. Oleh karena itu, transformasi digital perlu diiringi dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memastikan keadilan bagi para pekerja.

Selain membahas otomatisasi, Dr. Legun juga mengangkat pentingnya mempertahankan hubungan langsung antara manusia dan lahan pertanian. Ia menunjukkan bahwa meskipun teknologi memungkinkan pemantauan kondisi tanaman, penyakit, cuaca, hingga kebutuhan nutrisi dilakukan melalui perangkat digital, pengalaman petani ketika berada langsung di lahan tetap memiliki nilai yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi. Pengamatan langsung terhadap tanaman dan kondisi tanah masih menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan di lapangan.

Melalui kegiatan ini, SITH ITB terus memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus mendorong pengembangan riset interdisipliner yang mengintegrasikan ilmu hayati, teknologi, dan ilmu sosial.

Kontributor : Trinitaty Bulan M Hutabarat – Biomanajemen (21325017)
Editor: Nita Yuniati