Enter your keyword

Dua Temuan Baru Flora Nusantara: Kolaborasi Herbarium Bandungense dan Tim Peneliti Deskripsikan Spesies Baru Homalomena

Dua Temuan Baru Flora Nusantara: Kolaborasi Herbarium Bandungense dan Tim Peneliti Deskripsikan Spesies Baru Homalomena

Jatinangor, sith.itb.ac.id – Keanekaragaman hayati hutan Indonesia kembali memberikan kejutan berharga bagi dunia botani. Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Arifin Surya Dwipa Irsyam, S.Si., M.Si., bersama peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Rifqi Hariri, M.Si., berhasil mendeskripsikan dua spesies tanaman baru dari keluarga talas-talasan (Araceae). Kedua taksa baru tersebut adalah Homalomena randii yang diidentifikasi dari Kalimantan Barat, dan Homalomena wayang yang berasal dari Sumatra Selatan.

 

Si ‘Daun Mata Tombak’ dari Hutan Kerangas Kalimantan

 

Spesies pertama, Homalomena randii, memiliki rekam jejak perjalanan riset yang memakan waktu cukup panjang. Tumbuhan herba ini pertama kali dikoleksi dari habitat alaminya di hutan kerangas Desa Sabong, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 2016 oleh ahli taksonomi tumbuhan, Agusti Randi. Nama randii disematkan sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya sebagai penemu pertama di lapangan.

Morfologi Homalomena randii (Irsyam & Hariri, 2026)

 

Spesies endemik berukuran medium ini memiliki karakteristik morfologi yang sangat khas, yakni helaian daun berbentuk menyerupai mata tombak (hastate) dengan pangkal daun bagian bawah (lobus posterior) berbentuk lonjong (oblong). Berbeda dengan kerabat dekatnya dari Malaysia (Homalomena hanae) yang berseludang kuning, perbungaan H. randii memiliki seludang bunga (spathe) berbentuk jam pasir berwarna putih bersih dengan tekstur permukaan yang halus.

H. randii pada habitat aslinya di Kalimantan Barat (Dok. Agusti Randi dalam Irsyam & Hariri, 2026)

 

Tumbuhan ini diketahui hidup secara soliter di lereng curam sekitar aliran air di bawah kanopi hutan dataran rendah bersuhu lembap. Penemuan ini telah dipublikasikan secara resmi melalui jurnal taksonomi internasional, Rheedea, pada pertengahan tahun 2026, yang dapat diakses pada tautan https://doi.org/10.22244/rheedea.36.1203.

 

Siluet ‘Kayon’ dari Hutan Sumatra Selatan

 

Melengkapi eksplorasi dari Kalimantan, tim peneliti juga memublikasikan penemuan Homalomena wayang dari Kabupaten Lahat, Sumatra Selatan. Spesimen ini awalnya dikoleksi oleh Jemmi J. Haidir pada awal Juni 2025 di sekitar aliran sungai.

H. wayang pada habitat aslinya di sekitar aliran sungai di Sumatera Selatan (Dok. Jemmy Haidir dalam Irsyam & Hariri, 2026)

 

Julukan wayang pada spesies ini terinspirasi dari bentuk helaian daunnya yang menyerupai siluet kayon, yaitu figur berbentuk pohon dalam pewayangan kulit tradisional Jawa. Selain itu karena tangkai daunnya yang ramping (slender) layaknya gagang penyangga pada wayang.

 

Homalomena wayang merupakan tumbuhan reofit yang tumbuh merumpun rapat di atas tanah kaya humus serta di sela-sela bebatuan berlumut pada area hutan yang teduh. Hasil analisis molekuler menunjukkan bahwa spesies ini berkerabat dekat dengan Homalomena sumatrensis, dengan tingkat kesamaan genetik mencapai 94,5%. Kendati demikian, keduanya memiliki perbedaan organ reproduksi yang tegas. H. wayang dicirikan dengan seludang bunga (spadix) yang tidak bertangkai (sessile), putik berwarna krem dengan bintik-bintik kemerahan (reddish punctations), leher putik yang pendek dan lebar, serta keberadaan lima urat daun lateral primer di tiap sisinya.

Morfologi Homalomena wayang (Irsyam & Hariri, 2026)

 

Penemuan ini telah dipublikasikan secara resmi melalui jurnal taksonomi internasional, dalam jurnal Acta Phytotaxonomica et Geobotanica, yang dapat diakses pada tautan https://www.jstage.jst.go.jp/article/apg/77/2/77_202602/_article/-char/en.

 

Ancaman Ekologis dan Harapan Konservasi

 

Kondisi populasi tumbuhan endemik seperti ini sangat bergantung pada keseimbangan iklim mikro habitatnya. Arifin menyoroti bahwa laju alih fungsi lahan hutan yang masif, baik menjadi area pertambangan maupun perkebunan, membawa ancaman serius bagi kelestarian flora lokal, khususnya bagi spesies H. randii di Kalimantan yang jumlah populasinya sangat terbatas.

 

“Semoga temuan spesies baru ini dapat menyadarkan bahwa hutan tidak sekadar tegakan pohon, namun di dalamnya terkandung nilai kekayaan ragam hayati yang tak ternilai dan tak tergantikan oleh nominal materi,” pungkas Arifin.

 

Ke depannya, Herbarium Bandungense SITH ITB beserta mitra riset berkomitmen untuk terus melanjutkan eksplorasi dan studi taksonomi untuk mengungkap keanekaragaman famili Araceae yang masih tersembunyi di pelosok Nusantara.

 

 

Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)

Editor: Nita Yuniati