Enter your keyword

SITH ITB Selenggarakan IC-OMICS 2026: Dorong Inovasi Berkelanjutan Melalui Pendekatan Multi-Omics di Bidang Ilmu Hayati

SITH ITB Selenggarakan IC-OMICS 2026: Dorong Inovasi Berkelanjutan Melalui Pendekatan Multi-Omics di Bidang Ilmu Hayati

Bandung, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses menggelar konferensi internasional International Conference on Multi-Omics in Life Sciences 2026 (IC-OMICS 2026). Acara ini berlangsung selama dua hari pada 8–9 Juli 2026, bertempat di Aula Barat dan Aula Timur ITB, Kampus Ganesha. Mengusung tema “Integrative Multi-Omics for Sustainable Innovation in Health, Agriculture, and Environment”, konferensi ini menjadi wadah strategis yang menyatukan akademisi, peneliti, praktisi industri, serta pembuat kebijakan dalam memajukan riset berbasis multi-omics di tingkat nasional maupun global.

 

Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Ir. Lavi Rizki Zuhal, Ph.D., yang menegaskan bahwa penyelesaian tantangan global saat ini mutlak membutuhkan sinergi lintas disiplin keilmuan dan integrasi dengan teknologi komputasi. Senada dengan hal tersebut, Dekan SITH ITB, Dr. Indra Wibowo, S.Si., M.Sc., menyoroti pesatnya perkembangan teknologi omics dalam memperluas cakrawala pemahaman sistem biologis. “Melalui IC-OMICS 2026, kami berharap hasil penelitian mutakhir dapat berkembang menjadi solusi nyata melalui kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara,” ungkap Dr. Indra Wibowo.

Sambutan dari Dekan SITH ITB, Dr. Indra Wibowo

Konferensi ini mendapat atensi khusus dari ranah kebijakan publik dengan hadirnya Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, sebagai keynote speaker. Dalam paparannya, beliau menyatakan bahwa konvergensi antara teknologi sekuensing DNA, komputasi presisi, kecerdasan buatan (AI), dan bioinformatika merupakan fondasi fundamental guna mengakselerasi transformasi layanan kesehatan dan pengembangan precision medicine di Indonesia.

Keynote speaker oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin

 

Selaku Ketua Panitia IC-OMICS 2026, Popi Septiani, Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini dikonsep bukan sekadar sebagai forum pemaparan hasil riset, melainkan sebagai ruang nyata untuk membangun kemitraan strategis. “Konferensi ini mempertemukan praktisi industri, institusi pemerintah, akademisi, dan peneliti untuk berbagi perkembangan terbaru penelitian multi-omics sekaligus memperkuat kolaborasi riset di Indonesia maupun tingkat internasional,” papar Dr. Popi.

 

Beliau menguraikan lebih jauh bahwa pendekatan multi-omics bertindak sebagai alat multidisiplin mutakhir yang mengintegrasikan data dari genomik, transkriptomik, proteomik, metabolomik, lipidomik, hingga bioinformatika. “Dengan multi-omics, kita bisa memahami blue print urutan DNA, sehingga mampu merancang vaksin lebih tepat sasaran, pengobatan presisi sesuai karakter genetik individu, serta varietas tanaman unggul yang lebih cepat dikembangkan,” jelas Dr. Popi.

Sambutan dari Ketua Pelaksana IC-OMICS 2026, Popi Septiani, PhD.

 

Aplikasi multi-omics tidak terbatas pada ranah kesehatan, melainkan memiliki impak signifikan pada ketahanan pangan nasional. Dr. Popi menuturkan bahwa berbagai riset SITH ITB saat ini difokuskan untuk merespons ancaman perubahan iklim global. “Kami mengembangkan riset untuk memberi solusi pada masalah ketahanan pangan. Dengan teknologi multi-omics, peneliti dapat merakit varietas unggul yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga,” tambahnya. Meski terdapat peluang besar, ia juga menegaskan perlunya kesiapan sumber daya manusia dan pendanaan riset yang kuat agar penelitian di Indonesia senantiasa relevan dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Keynote speaker oleh Prof. Tamas Dalmay dari University of East Anglia, UK.

 

Forum IC-OMICS 2026 ini berhasil menarik partisipasi lebih dari seratus peserta, serta menghadirkan jajaran pakar global. Selain Menkes Budi Gunadi Sadikin, sesi keynote lecture turut diisi oleh pakar biologi RNA, Prof. Tamas Dalmay dari University of East Anglia, Inggris. Para peserta juga mendapatkan wawasan mendalam dari delapan invited speakeryang berasal dari berbagai negara, di antaranya Prof. Kazuo Harada (Osaka University, Jepang), Prof. Tsung-Lin Liu (National Cheng Kung University, Taiwan), Prof. Tan Boon Chin (Universiti Malaya, Malaysia), hingga periset dari Amerika Serikat yakni Dr. Dwi Susanti, Dr. Brian M. Ruddy, dan Dr. Chris Vlahakis. Dari pihak internal SITH ITB, pakar-pakar unggulan seperti Prof. Fenny Martha Dwivany dan Ernawati Arifin Giri-Rachman, Ph.D., juga mempresentasikan arah riset bioteknologi masa depan.

Poster session pada IC-OMICS 2026.

 

Secara keseluruhan, konferensi ini merangkum 2 keynote lectures, 8 invited lectures, 20 presentasi lisan, serta 20 pameran sesi poster. Sebagai penutup, Dr. Popi Septiani menegaskan komitmen SITH ITB di masa mendatang. “SITH ITB terus berkomitmen menghasilkan penelitian yang memberikan kontribusi nyata bagi kebutuhan Indonesia, baik di bidang kesehatan, pertanian, lingkungan, maupun bioindustri,” pungkasnya.

SITH ITB sukses menyelenggarakan IC-OMICS 2026, 8-9 Juli 2026.

 

Melalui perhelatan IC-OMICS 2026, SITH ITB membuktikan peran nyatanya sebagai penggerak kolaborasi sains hayati nasional yang berwawasan global guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.

 

 

Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)

Editor: Anca Awal Sembada, Ph.D.