Enter your keyword

SITH ITB Dorong Peningkatan Nilai Tambah Kemiri dan Penguatan BUMDes di Kabupaten Ngada

SITH ITB Dorong Peningkatan Nilai Tambah Kemiri dan Penguatan BUMDes di Kabupaten Ngada

Ngada, Nusa Tenggara Timur — Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) terus mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, tim dosen dan mahasiswa ITB melaksanakan rangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis komoditas kemiri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 6–7 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari temuan Ekspedisi Patriot 2025, sebuah program kolaborasi Kementerian Transmigrasi dan ITB di kawasan transmigrasi Bajawa. Hasil kegiatan tersebut mengidentifikasi kemiri sebagai salah satu komoditas unggulan masyarakat yang memiliki potensi ekonomi besar, tetapi masih menghadapi kendala dalam penanganan pascapanen dan pengolahan sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat belum optimal.

                        

Tim pengabdian masyarakat dipimpin oleh Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D. dari SITH ITB, dengan anggota Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si. dari SITH ITB dan Dr. rer. nat. Widodo, S.T., M.T. dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB. Kegiatan ini juga melibatkan tiga mahasiswa ITB, yaitu Yosua Kevin Siahaan dari Program Studi Magister Biomanajemen SITH ITB serta Gavriel Reynard Nathanael dan Naila Reevaliyah Parsa dari Program Studi Sarjana Teknologi Pascapanen SITH ITB.

Pada 6 Juli 2026, tim melaksanakan pelatihan penanganan pascapanen kemiri di Desa Wolomeze, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada. Kegiatan diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari Desa Wolomeze dan Desa Ria.

Pelatihan yang dipandu oleh Dr. Rijanti Rahaju mencakup tahapan penanganan pascapanen kemiri secara menyeluruh, mulai dari teknik panen, pengeringan, penyimpanan, sortasi, penggunaan mesin pemecah kemiri, hingga pengemasan dan pemasaran digital. Peserta tidak hanya memperoleh materi, tetapi juga terlibat langsung dalam demonstrasi penggunaan mesin, praktik pengemasan, dan promosi produk secara digital.

Sebagai bentuk dukungan konkret terhadap pengembangan usaha kemiri masyarakat, ITB menyerahkan hibah berupa satu unit mesin pemecah kulit biji kemiri listrik, vacuum sealer, dan sealer panas kepada BUMDes Wolomeze. Peralatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengolahan, produktivitas, kualitas produk, serta nilai jual kemiri yang dihasilkan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas penanganan pascapanen agar produk kemiri memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ujar Prof. Endah.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada 7 Juli 2026 dengan kunjungan pembelajaran ke Desa Inegena, Kecamatan Bajawa Utara. Tim ITB bersama enam perwakilan Desa Wolomeze yang terdiri atas perangkat desa, Ketua BUMDes, dan Ketua BPD mengunjungi BUMDes Maju Bersama, yang telah mengembangkan usaha pengolahan kemiri berbasis desa.

Dalam kunjungan tersebut, perwakilan BUMDes Wolomeze memperoleh kesempatan untuk bertukar pengalaman mengenai penguatan kelembagaan, administrasi usaha, proses produksi, strategi pemasaran, serta berbagai tantangan dalam mengembangkan usaha berbasis komoditas lokal. Peserta juga menyaksikan secara langsung proses pengolahan kemiri, mulai dari penyimpanan bahan baku, pemecahan menggunakan mesin, pemisahan inti kemiri dari cangkang, hingga sortasi produk siap jual.

Menurut Prof. Endah, pembelajaran langsung dari praktik yang telah berhasil diterapkan merupakan bagian penting dalam proses pemberdayaan masyarakat.

“Kami ingin masyarakat melihat secara langsung bahwa usaha kemiri dapat berkembang apabila dikelola dengan baik, mulai dari penguatan kelembagaan BUMDes, proses produksi, hingga pemasaran. Harapannya tumbuh optimisme bahwa hal serupa juga dapat diwujudkan di Wolomeze,” ujarnya.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran di SITH ITB. Mahasiswa berperan aktif sejak tahap persiapan, pelaksanaan pelatihan, pendampingan praktik, hingga kegiatan pembelajaran bersama masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan yang dipelajari di kampus sekaligus memahami secara langsung tantangan pengembangan komoditas hayati dan ekonomi masyarakat di daerah.

Rangkaian kegiatan ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang terintegrasi dalam pengabdian kepada masyarakat. Penerapan teknologi tidak berhenti pada penyerahan alat, tetapi dilengkapi dengan peningkatan kapasitas masyarakat, pendampingan teknis, penguatan kelembagaan, serta pembelajaran dari praktik baik yang telah berkembang di wilayah setempat.

Melalui kolaborasi lintas disiplin dan keterlibatan aktif masyarakat, SITH ITB berharap pengembangan komoditas kemiri di Kabupaten Ngada dapat tumbuh secara lebih produktif, profesional, dan berkelanjutan. Upaya ini sekaligus menjadi wujud kontribusi perguruan tinggi dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat serta mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya hayati lokal bagi kesejahteraan masyarakat.