Summer Course SITH ITB 2026: Mahasiswa Lintas Negara Jelajahi Keanekaragaman Hayati Pangandaran
Pangandaran, sith.itb.ac..id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB sukses menyelenggarakan kunjungan lapangan ke kawasan pesisir dan hutan Pangandaran pada 11-12 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian utama dari program “Tropical Biodiversity Summer Course 2026: Towards Sustainable Conservation” yang dirancang untuk menghubungkan teori biologi dengan praktik konservasi di lapangan.

Foto Bersama Peserta Summer Course SITH ITB di Pangandaran
Sebagai negara dengan kekayaan hayati yang tinggi, Indonesia menjadi lokasi yang ideal untuk mempelajari ekosistem tropis. Kepala Program Studi Sarjana Biologi SITH ITB, Husna Nugrahapraja, Ph.D., menekankan pentingnya interaksi lapangan dalam pendidikan hayati.
“Belajar konservasi tidak cukup hanya di dalam kelas. Mahasiswa perlu melihat langsung kondisi di lapangan, menganalisis masalah ekologis secara kritis, dan belajar berkolaborasi untuk mencari solusi yang berkelanjutan,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Koordinator Tropical Biodiversity Summer Course 2026, Ardhiani Kurnia Hidayanti, Ph.D. “Pada kegiatan Summer Course ini, kami tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis kepada para peserta, tetapi juga pengalaman praktik dan observasi secara langsung. Di pantai pasir putih Pangandaran, peserta diajarkan metode standar koleksi taksonomi, mendokumentasikan, mendeskripsikan, mengidentifikasi takson biodiversitas laut, dan kemudian merilis kembali ke laut takson yang telah diamati,” ujar Dr. Ardhiani. Selain pengamatan takson laut, di Cagar Alam Pangandaran, para peserta juga mengamati vegetasi hutan dataran rendah, berbagai jenis mamalia, serta belajar langsung mengenai manajemen kawasan konservasi dari pengelola Cagar Alam Pangandaran.
Wajah Global di Tanah Pasundan
Daya tarik program ini terbukti sukses menembus batasan kampus maupun negara. Para peserta datang dari berbagai kampus ternama, mulai dari tetangga serumpun seperti Universiti Malaya dan Universiti Sains Malaysia, hingga institusi jauh seperti University of Nizwa (Oman), Anglia Ruskin University (Inggris), dan Can Tho University of Medicine and Pharmacy (Vietnam).

Sesi diskusi kelompok membahas temuan biodiversitas Pangandaran
Selain delegasi luar negeri, mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia pun turut bergabung, di antaranya dari UI, IPB, Unpad, UPI, Undip, hingga Unhas. Keberagaman latar belakang peserta ini diharapkan dapat memperkaya diskusi selama kegiatan berlangsung.
Observasi Dari Pesisir hingga ke Dalam Gua
Selama dua hari, peserta mengikuti serangkaian agenda eksplorasi. Berangkat dari Kampus ITB Ganesha pada Sabtu (11/7), rombongan langsung disambut oleh pesona kawasan Pantai Pasir Putih Pangandaran.

Eksplorasi dan pengamatan keanekaragaman hayati laut tropis di Pantai Pasir Putih, Pangandaran
Di pesisir pantai, peserta terjun langsung melakukan sensus visual dan observasi biodiversitas laut (Marine Biodiversity Observation). Keseruan observasi lapangan ini dipandu oleh asisten lapangan, Ammardhika Dzaki dan timnya.
“Di sini kami mengamati berbagai biota laut, mulai dari alga, echinodermata, moluska, hingga porifera. Pangandaran dipilih karena memiliki keragaman spesies yang sangat tinggi dan ekosistem yang masih terjaga,” ujar Dzaki.

Peserta mengeksplorasi Gua Panggung untuk pengamatan satwa penghuni gua
Pada hari kedua, fokus kegiatan bergeser ke wilayah daratan di Cagar Alam Pangandaran. Di sini, peserta mempelajari manajemen kawasan lindung melalui pengamatan flora dan fauna. Aktivitasnya meliputi inventarisasi vegetasi, pengamatan mamalia dan reptil, pengambilan sampel serangga, hingga sesi pengamatan burung (birdwatching). Momen menarik terjadi saat peserta menyusuri Gua Panggung, di mana mereka berkesempatan melihat kawanan kelelawar dan bertemu dengan landak (porcupine) di habitat alaminya.
Testimoni Peserta Mancanegara
Pengalaman berinteraksi langsung dengan alam meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, salah satunya Gimba Usman, mahasiswa pascasarjana asal Nigeria. Ia merasa kegiatan lapangan ini melengkapi teori ekologi yang telah dipelajari pada sesi kelas bersama Prof. Devi dan Prof. Aileen.
“Ini pengalaman yang berkesan bagi saya. Kami bisa melihat keragaman hayati sekaligus tantangan nyata yang ada. Misalnya, kami menemukan beberapa terumbu karang yang mati, yang bisa jadi merupakan dampak perubahan iklim atau aktivitas manusia,” kata Gimba.
Pelaksanaan kegiatan lapangan Tropical Biodiversity Summer Course 2026 di Pangandaran juga mendapat dukungan publikasi dari berbagai media lokal dan nasional, di antaranya Kabarpangandaran.com, HarianPangandaran.com, BeritaPangandaran.web.id, serta Global TV Aktual. Dukungan publikasi tersebut turut memperluas jangkauan informasi mengenai kegiatan akademik SITH ITB kepada masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi keanekaragaman hayati Pangandaran sebagai laboratorium alam bagi pendidikan, penelitian, dan konservasi.
Melalui program Summer Course ini, SITH ITB berharap dapat membekali calon ilmuwan muda dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pelestarian alam. Selain aspek akademis, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk membangun jejaring kolaborasi riset antar-mahasiswa dan institusi di masa depan.
Reporter: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)