Mengenal Kekayaan Hayati dan Budaya Nusantara, Peserta Tropical Biodiversity Summer Course 2026 Eksplorasi Buah Tropis, Rempah, dan Angklung Sunda
Bandung, sith.itb.ac.id – Dalam rangkaian Tropical Biodiversity Summer Course 2026, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya berfokus pada aspek teori dan praktik biodiversitas, tetapi juga memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada peserta internasional. Pada Selasa (14/7/2026), peserta mengikuti berbagai kegiatan yang menggabungkan pembelajaran biodiversitas, eksplorasi sumber daya hayati tropis, serta aktivitas budaya untuk memahami hubungan erat antara alam dan kehidupan masyarakat Indonesia.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi “Introduction of Tropical Biodiversity Spices and Fruits in Indonesia” yang disampaikan oleh Pramesti Istiandari, Ph.D. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada berbagai buah tropis dan rempah khas Indonesia sebagai bagian dari kekayaan sumber daya hayati yang memiliki nilai ekologis, budaya, serta manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Peserta dikenalkan dengan beragam buah tropis khas Indonesia, seperti sawo, nangka, jambu air, belimbing, kedondong, dan manggis. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai keanekaragaman buah tropis Indonesia serta keterkaitannya dengan budaya pangan masyarakat Nusantara.
Selain buah tropis, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai rempah Indonesia yang telah menjadi bagian penting dari sejarah dan budaya Nusantara, seperti jahe, kunyit, kencur, dan lengkuas. Peserta diajak mengenali karakteristik setiap rempah melalui aroma, tekstur, dan cita rasa, sekaligus memahami pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan semakin menarik dengan adanya blindfold challenge, yaitu tantangan mengenali buah tropis dan rempah tanpa melihat. Dengan mata tertutup, peserta mencoba menebak berbagai bahan hanya berdasarkan indera penciuman, peraba, dan pengecap. Aktivitas ini menciptakan suasana belajar yang interaktif serta mendorong kerja sama dan komunikasi antar peserta dari berbagai negara.
Selain eksplorasi biodiversitas, rangkaian kegiatan hari tersebut juga menghadirkan cultural activity yang memperkenalkan budaya lokal Jawa Barat kepada peserta internasional. Para peserta diajak mengenal dasar-dasar bahasa Sunda, mulai dari ungkapan sapaan sederhana hingga kosakata sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat Sunda.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga kesempatan untuk memahami nilai budaya masyarakat lokal yang menjadi bagian dari lingkungan tempat mereka belajar. Interaksi budaya ini menjadi sarana untuk membangun kedekatan dan memperkuat hubungan antar peserta lintas negara.
Tidak berhenti pada pengenalan bahasa, peserta juga diperkenalkan dengan angklung, alat musik tradisional khas Sunda yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Para peserta mendapatkan kesempatan untuk belajar memainkan angklung secara bersama-sama dan merasakan pengalaman berkolaborasi melalui musik tradisional Indonesia.
Kegiatan bermain angklung memberikan pengalaman unik bagi peserta karena setiap individu memainkan nada yang berbeda dan harus bekerja sama untuk menghasilkan sebuah harmoni. Aktivitas ini menjadi simbol penting dari semangat Tropical Biodiversity Summer Course 2026, yaitu keberagaman latar belakang yang dapat bersatu untuk mencapai tujuan bersama.
Koordinator Tropical Biodiversity Summer Course 2026, Dr. Ardhiani Kurnia Hidayanti, menyampaikan bahwa kegiatan budaya menjadi bagian penting dalam membangun pengalaman belajar yang utuh bagi para peserta.
Menurut Dr. Ardhiani, pengenalan biodiversitas tidak dapat dipisahkan dari pemahaman terhadap budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan keanekaragaman hayati tersebut. “Melalui Tropical Biodiversity Summer Course 2026, kami tidak hanya ingin memperkenalkan kekayaan biodiversitas tropis Indonesia dari sisi ilmiah, tetapi juga menghadirkan pengalaman langsung mengenai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Kegiatan seperti mengenal buah tropis, rempah Nusantara, belajar bahasa Sunda, dan bermain angklung memberikan perspektif bahwa biodiversitas memiliki hubungan yang erat dengan budaya, tradisi, dan kehidupan manusia,” ujar Dr. Ardhiani.
Ia menambahkan bahwa kegiatan budaya juga menjadi ruang bagi peserta dari berbagai negara untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang lebih dekat.
“Kami melihat peserta tidak hanya belajar dari dosen dan narasumber, tetapi juga belajar satu sama lain melalui interaksi budaya. Ketika mereka mencoba memainkan angklung bersama atau berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda, mereka belajar tentang kerja sama, saling menghargai, dan pentingnya membangun koneksi lintas budaya,” tambahnya.
Dr. Ardhiani berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi kenangan berharga sekaligus menjadi awal dari jejaring kolaborasi internasional di bidang biodiversitas dan konservasi.
“Kami berharap para peserta membawa pulang tidak hanya pengetahuan tentang biodiversitas tropis Indonesia, tetapi juga pengalaman, persahabatan, dan semangat untuk terus berkolaborasi dalam upaya konservasi berkelanjutan,” tuturnya.
Melalui rangkaian kegiatan eksplorasi biodiversitas dan budaya ini, peserta Tropical Biodiversity Summer Course 2026 semakin memahami bahwa kekayaan Indonesia tidak hanya terletak pada keanekaragaman hayati, tetapi juga pada warisan budaya yang tumbuh bersama masyarakat. Kegiatan ini sekaligus memperkuat semangat pertukaran budaya dan kolaborasi lintas negara yang menjadi bagian penting dari penyelenggaraan program “Towards Sustainable Conservation”.