Enter your keyword

Tropical Biodiversity Summer Course 2026 Resmi Berakhir, SITH ITB Dorong Kolaborasi Global bagi Masa Depan Konservasi

Tropical Biodiversity Summer Course 2026 Resmi Berakhir, SITH ITB Dorong Kolaborasi Global bagi Masa Depan Konservasi

Bandung, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi menutup rangkaian Tropical Biodiversity Summer Course 2026 pada Minggu (19/7/2026) di Selasar Labtek XI SITH ITB. Mengusung tema “Towards Sustainable Conservation”, program internasional ini telah berlangsung selama sepuluh hari dan mempertemukan 26 peserta yang terdiri atas 14 peserta dari berbagai daerah di Indonesia serta 12 peserta internasional dari delapan negara.

Program ini diprakarsai dan diselenggarakan oleh tim panitia SITH ITB yang terdiri atas Dr. Ardhiani Kurnia Hidayanti, Dr. Antonius Christianto, Dr. Rika Wahyuningtyas, dan Dr. Pramesti Istiandari beserta tim asisten akademik dan mahasiswa. Melalui koordinasi dan kerja sama tim, rangkaian kegiatan dirancang untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran internasional yang mengintegrasikan aspek akademik, kegiatan lapangan, serta pertukaran budaya.

Selama penyelenggaraan, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan kuliah ilmiah, diskusi interaktif, kegiatan lapangan, serta pertukaran budaya. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai biodiversitas tropis Indonesia sekaligus membangun jejaring kolaborasi global di bidang konservasi.

Dalam sambutan penutupan, Dekan SITH ITB, Dr. Indra Wibowo, menyampaikan bahwa Tropical Biodiversity Summer Course 2026 bukan hanya sebuah program akademik, tetapi sebuah pengalaman yang memungkinkan peserta berinteraksi langsung dengan kekayaan biodiversitas Indonesia dan membangun hubungan lintas budaya.

“Sepuluh hari yang lalu, 14 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan 12 peserta internasional datang ke ruang seminar ini sebagai orang asing satu sama lain. Hari ini, kalian meninggalkan program ini sebagai rekan dan, saya yakin, sebagai sahabat,” ujar Dr. Indra.

Menurutnya, sejak awal program ini dirancang agar peserta tidak hanya mempelajari biodiversitas melalui materi perkuliahan, tetapi juga mengalami langsung ekosistem tropis Indonesia. Hal tersebut diwujudkan melalui kegiatan lapangan di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Pangandaran.

“Ketika kami merancang program ini dengan tema Towards Sustainable Conservation, kami ingin program ini lebih dari sekadar rangkaian kuliah. Kami ingin peserta benar-benar mengalami biodiversitas Indonesia, bukan hanya mempelajarinya,” ungkapnya.

Selain menjadi ajang pembelajaran ilmiah, sesi penutupan Tropical Biodiversity Summer Course 2026 juga menjadi ruang perayaan keberagaman budaya para peserta. Dalam kesempatan tersebut, seluruh peserta menampilkan pertunjukan angklung “Manuk Dadali” sebagai simbol kebersamaan dan harmoni lintas budaya. Meskipun berasal dari berbagai negara dan latar belakang, para peserta mampu memainkan alat musik tradisional Indonesia tersebut secara bersama-sama setelah mengikuti latihan selama rangkaian program.

Tidak hanya itu, setiap kelompok peserta juga mempersembahkan cultural performance yang menampilkan kekayaan budaya masing-masing. Berbagai pertunjukan ditampilkan, mulai dari drama, tarian tradisional Pakistan dan Nigeria, hingga penampilan musik dengan lagu-lagu dari berbagai bahasa. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu momen yang menggambarkan semangat persahabatan, saling menghargai, dan kolaborasi antarbudaya yang menjadi bagian penting dari Tropical Biodiversity Summer Course 2026.

Sementara itu, Ketua Program Studi Biologi SITH ITB, Dr. Husna Nugrahapraja, menyampaikan bahwa Tropical Biodiversity Summer Course 2026 merupakan bagian dari upaya SITH ITB dalam menghadirkan pembelajaran internasional yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan interaksi lintas budaya.

Menurut Dr. Husna, pengalaman yang diperoleh peserta selama program menjadi bekal penting untuk memahami bahwa konservasi membutuhkan pendekatan multidisiplin dan kolaborasi global.

“Selama sepuluh hari, para peserta tidak hanya belajar dari para pakar dunia, tetapi juga mengalami secara langsung bagaimana ilmu pengetahuan, pengalaman lapangan, dan interaksi lintas budaya saling melengkapi dalam membentuk perspektif baru mengenai konservasi,” ujarnya.

Ia berharap hubungan yang telah terbangun selama program dapat berkembang menjadi kolaborasi jangka panjang dalam bidang penelitian, pertukaran mahasiswa, maupun kerja sama akademik lainnya.

Kesan positif juga disampaikan oleh salah satu peserta internasional, Lorenzo, peserta asal Anglia Ruskin University, Inggris. Ia mengungkapkan apresiasi kepada SITH ITB, panitia, dan seluruh pihak yang telah menyelenggarakan program ini.

Menurut Lorenzo, Tropical Biodiversity Summer Course 2026 memberikan pengalaman yang tidak hanya memperluas wawasan akademik mengenai biodiversitas tropis, tetapi juga membuka kesempatan untuk membangun persahabatan dan jejaring internasional.

Dengan berakhirnya Tropical Biodiversity Summer Course 2026, SITH ITB berharap program ini menjadi awal dari berbagai kolaborasi ilmiah dan akademik di masa depan. Melalui semangat “Towards Sustainable Conservation”, kegiatan ini menegaskan komitmen SITH ITB dalam mendukung pendidikan, penelitian, dan kerja sama global untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati tropis.

Kontributor: Aura & AKH
Editor: AKH