Enter your keyword

SITH ITB Kembangkan Inovasi Hidroponik Berbasis Limbah Organik untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Kawasan Penyangga IKN

SITH ITB Kembangkan Inovasi Hidroponik Berbasis Limbah Organik untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Kawasan Penyangga IKN

Penajam Paser Utara, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati  (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi berbasis sains untuk menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan di berbagai wilayah Indonesia. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PM), tim dosen SITH ITB memperkenalkan teknologi budidaya hidroponik menggunakan media nutrisi berbasis limbah organik kepada masyarakat Desa Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perkembangan kawasan IKN membawa konsekuensi terhadap berkurangnya lahan pertanian produktif di sejumlah desa penyangga, termasuk Desa Sukaraja. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mulai mengembangkan sistem urban farming melalui budidaya hidroponik. Namun, tingginya ketergantungan pada nutrisi hidroponik komersial menyebabkan biaya produksi terus meningkat sehingga menghambat keberlanjutan usaha pertanian masyarakat.

 

Gambar 1. (a) Lokasi desa Sukaraja ; (b) Tim PM di kantor desa; (c) Peserta pelatihan

Melihat kondisi tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat SITH ITB yang diketuai Prof. Dr. Erly Marwani bersama Prof. Dr. Sri Nanan B. Widiyanto, Dr. Eri Mustari, dan Dr. Dadang Sumardi menghadirkan solusi inovatif berupa pemanfaatan limbah organik pertanian lokal sebagai bahan baku pupuk organik cair (POC) yang dapat dimanfaatkan sebagai media nutrisi hidroponik.

Inovasi ini merupakan bentuk penerapan ilmu hayati yang mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dengan teknologi pertanian berkelanjutan. Berbagai limbah organik seperti gedebok pisang, daun pisang, daun kelor, lidah buaya, dan kulit nanas diolah secara biologis menjadi pupuk organik cair yang kaya unsur hara makro dan mikro sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif nutrisi hidroponik yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Program ini berawal dari kebutuhan yang disampaikan Pemerintah Desa Sukaraja melalui platform Desanesha ITB, yang kemudian ditindaklanjuti oleh tim SITH ITB melalui koordinasi dan kunjungan lapangan. Pelatihan dan bimbingan teknis dilaksanakan pada 17–18 Juli 2026 di Gedung Serbaguna Desa Sukaraja dan diikuti sekitar 30 peserta, yang terdiri atas pemerintah desa, penggiat pertanian, masyarakat, serta anggota kepolisian setempat.

Gambar 2.  (a) Pemproses limbah pertanian (b) inkubasi limbah organik menjadi POC

Gambar 3. (a) Pemberian souvenir  kepada peserta; (b)Penyiapan boks hidroponik; (c) Penyiapan media dan penanaman benih

Selama pelatihan, peserta memperoleh pendampingan secara langsung mulai dari proses pembuatan pupuk organik cair berbasis limbah pertanian, formulasi media nutrisi hidroponik, hingga praktik penanaman sayuran menggunakan sistem hidroponik. Pendekatan ini tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar mampu memproduksi nutrisi hidroponik secara mandiri sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

Melalui inovasi tersebut, SITH ITB mendorong transformasi limbah pertanian yang sebelumnya belum dimanfaatkan menjadi sumber daya bernilai tambah. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pupuk komersial, teknologi ini berpotensi menekan biaya produksi sekaligus mendukung penerapan pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Kegiatan ini memberikan dampak nyata pada berbagai aspek. Dari sisi sosial, masyarakat memperoleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan sistem pertanian modern pada lahan yang terbatas. Dari aspek lingkungan, pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk cair membantu mengurangi timbunan limbah pertanian sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular. Sementara itu, dari aspek ekonomi, kemampuan memproduksi pupuk organik cair secara mandiri membuka peluang terbentuknya usaha desa berbasis pupuk organik serta meningkatkan efisiensi biaya budidaya hidroponik.

Melalui kegiatan ini, SITH ITB menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan tinggi yang tidak hanya menghasilkan inovasi ilmiah, tetapi juga mengimplementasikan hasil riset untuk memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Pendampingan teknologi hidroponik berbasis limbah organik di Desa Sukaraja diharapkan menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan yang mampu memperkuat ketahanan pangan masyarakat di kawasan penyangga IKN sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi desa.

Program ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan produksi pangan lokal, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pengembangan pertanian perkotaan yang adaptif terhadap keterbatasan lahan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Climate Action) melalui penerapan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kontributor: Erly Marwani
Editor: AKH

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.