Enter your keyword

Inovasi Material SITH ITB: Mengolah Bambu Menjadi Hunian Modular Tahan Gempa Berbasis Laminasi

Inovasi Material SITH ITB: Mengolah Bambu Menjadi Hunian Modular Tahan Gempa Berbasis Laminasi

Bandung, sith.itb.ac.id – Peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) dan Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) tengah mengembangkan purwarupa “Rumah Bambu Modular” sebagai solusi hunian masa depan. Memanfaatkan kekayaan alam Indonesia yang memiliki sekitar 160 spesies bambu, inovasi ini dirancang untuk menjadi hunian yang murah, ramah lingkungan, dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Foto bersama peneliti dan tim pendukung di depan purwarupa Rumah Bambu Modular, ITB Kampus Jatinangor. (Dok. DRI ITB)

Dari sisi arsitektur, bangunan ini menggunakan sistem bingkar pasang (knock-down) yang terinspirasi dari kepingan Lego. Permana, S.T., M.T., dosen dari SAPPK ITB, merancang komponen berbentuk huruf ‘S’ yang disusun secara zigzag. Rancangan ini membuat tiap bagian saling mengunci ke arah samping dan memanfaatkan gaya gesek antar komponen agar berdiri tegak dengan kuat. Dengan begitu, struktur bangunan menjadi lebih fleksibel namun tetap kokoh saat terjadi guncangan gempa.

Keberhasilan inovasi arsitektur ini didukung oleh rekayasa material yang dipimpin oleh Dr. Ir. Rudi Dungani, S.Hut., M.Si. dari SITH ITB. Selama ini, bentuk bambu yang silindris sering menjadi kendala dalam konstruksi yang membutuhkan standar ketebalan tertentu. Untuk mengatasinya, Dr. Rudi mengembangkan teknologi laminasi.

Sampel material laminasi bambu yang menjadi bahan dasar utama konstruksi Rumah Bambu Modular. (Dok. DRI ITB)

“Laminasi dibuat dari potongan-potongan kecil bambu yang direkatkan satu sama lain. Kita bisa mengatur lebar dan tebalnya sesuai kebutuhan,” jelas Dr. Rudi. Bilah-bilah bambu tersebut disusun menjadi material padat yang kuat untuk dijadikan komponen dasar bangunan.

Dalam risetnya, tim SITH juga melakukan optimasi untuk menekan biaya produksi. Jika biasanya konstruksi hanya menggunakan bambu betung yang berkualitas tinggi namun mahal, kini tim mengeksplorasi jenis lain seperti bambu surat, tali, ampel, hingga mayan. Meski lebih ekonomis, jenis-jenis tersebut tetap direkayasa agar memenuhi standar kekuatan material laminasi.

Dr. Rudi Dungani menjelaskan mengenai inovasi dan teknologi yang diterapkan pada purwarupa Rumah Bambu Modular. (Dok. DRI ITB)

Selain jenis bambu, perhatian khusus diberikan pada aspek perekat. Tim riset fokus mencari alternatif lem yang ramah lingkungan dan rendah emisi formaldehid, namun tetap memiliki daya rekat kuat. Mereka juga menguji pelapisan epoxy untuk mengatasi kerentanan alami bambu terhadap jamur bluestain.

Visi Dr. Rudi dan tim tidak berhenti pada struktur bangunan saja. Beliau berharap ke depannya seluruh ekosistem rumah, mulai dari tempat tidur hingga peralatan makan, dapat diproduksi dari bambu.

Maket detail purwarupa Rumah Bambu Modular. (Dok. DRI ITB)

Visi ini diperkuat dengan konsep “Manufaktur Vernakular”, yaitu memberdayakan masyarakat di sekitar hutan bambu untuk memproduksi sendiri komponen rumah modular tanpa memerlukan teknologi listrik yang mahal. Melalui kolaborasi SITH dan SAPPK ITB, rumah modular bambu ini diharapkan dapat diproduksi secara massal untuk membantu mengatasi masalah kekurangan perumahan (backlog) sekaligus mendukung program pemerintah dalam pembangunan 3 juta rumah.

SDG: SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur)

Reporter: Aura Salsabila Alviona

Editor: Nita Yuniati

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.