Enter your keyword

Sinergi SITH ITB dan Mitra Lokal Perkuat Kapasitas Masyarakat Punan Mirau melalui Teknologi Tepat Guna

Sinergi SITH ITB dan Mitra Lokal Perkuat Kapasitas Masyarakat Punan Mirau melalui Teknologi Tepat Guna

Malinau, Kalimantan Utara, sith.itb.ac.id — Upaya memperkuat kemandirian masyarakat melalui pemanfaatan potensi sumber daya lokal terus dilakukan Institut Teknologi Bandung (ITB). Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Bottom-Up yang didanai oleh Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, tim dosen lintas keahlian melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Punan Mirau, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Desa Punan Mirau merupakan salah satu wilayah yang dihuni masyarakat Dayak Punan dengan potensi sumber daya alam yang beragam. Melalui kegiatan ini, tim ITB berupaya memperkenalkan sejumlah teknologi yang dapat diterapkan dengan memanfaatkan bahan dan sumber daya yang tersedia di sekitar masyarakat.

Kegiatan dipimpin oleh Dr. Ir. Anne Hadiyane, S.Hut., M.Si. dari Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Tim pelaksana terdiri atas Dr. Ir. Mustika Dewi, M.Si., Dr. Alfi Rumidatul, S.Hut., M.Si., Dr. Atmawi Darwis, S.Hut., M.Si., Anca Awal Sembada, S.T., M.Si., Ph.D., Ahim Ruswandi, S.P., M.P., serta Rini Mastuti, S.Pi., M.Si. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan.

Program pemberdayaan dirancang dengan pendekatan terintegrasi. Masing-masing anggota tim memberikan materi sesuai dengan bidang keahliannya sehingga masyarakat memperoleh pengetahuan yang saling melengkapi.

Dalam bidang kehutanan, Dr. Mustika dan Dr. Anca memperkenalkan inokulan gaharu dan teknik injeksi gaharu. Pengenalan teknologi ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengembangan gaharu sebagai salah satu potensi hasil hutan bernilai ekonomi.

Sementara itu, Dr. Anne dan Dr. Alfi memberikan materi mengenai teknologi pirolisis, biochar, dan asap cair. Melalui teknologi tersebut, biomassa dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai dan berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian maupun pengelolaan lingkungan.

Pemanfaatan bahan organik juga menjadi bagian dari kegiatan. Dr. Atmawi memberikan materi mengenai pembuatan kompos dan pupuk organik cair. Teknologi ini diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar sekaligus menghasilkan input yang dapat digunakan untuk kegiatan budidaya.

Pada bidang pertanian, Bapak Ahim memberikan pendampingan mengenai budidaya tanaman, sedangkan Ibu Rini memberikan pengetahuan mengenai budidaya ikan. Integrasi berbagai kegiatan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan sumber pangan sekaligus mendiversifikasi kegiatan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Antonius Mangiwa, S.Hut., M.Si., Kepala UPTD KPH Malinau, Tahyuddin, S.Hut., dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, serta tim Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi.

Kehadiran para pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi yang lebih luas. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam menyediakan pengetahuan dan teknologi, tetapi juga perlu bekerja bersama pemerintah dan lembaga pendamping agar inovasi yang diperkenalkan dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan setempat.

“Teknologi akan memberikan manfaat ketika dapat dipahami, diterapkan, dan dikembangkan sesuai dengan kondisi masyarakat. Karena itu, kegiatan ini kami rancang bukan sekadar sebagai transfer teknologi, tetapi sebagai proses belajar bersama untuk menggali potensi yang sudah dimiliki masyarakat Punan Mirau.”

Pendekatan tersebut juga menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pengembangan teknologi. Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat menjadi dasar yang perlu dipadukan dengan pengetahuan akademik agar teknologi yang diterapkan tidak terlepas dari kondisi sosial, budaya, dan lingkungan setempat.

Melalui program ini, ITB berharap terbangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan kehutanan, pengelolaan biomassa, pertanian, dan perikanan. Pengembangan berbagai sektor secara terpadu diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal sekaligus mendukung ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.

Kegiatan di Desa Punan Mirau juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam mendukung pembangunan masyarakat di wilayah pedalaman Kalimantan. Sinergi antara ITB, Universitas Borneo Tarakan, KPH Malinau, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, KKI Warsi, dan masyarakat Punan menjadi modal penting untuk mendorong keberlanjutan program pada masa mendatang.

Kontributor: AAS

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.