Enter your keyword

Angkat Konsep Thermal Buffer Berbasis Mbaru Niang, Mahasiswa SITH ITB Raih Juara dalam Semarak National Competition 2026

Angkat Konsep Thermal Buffer Berbasis Mbaru Niang, Mahasiswa SITH ITB Raih Juara dalam Semarak National Competition 2026

Bandung, sith.itb.ac.id—Mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB meraih juara dalam kompetisi esai Semarak National Competition 2026. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh BEM Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University pada 7 Juli–17 Agustus 2026 secara daring.

Kompetisi tersebut mengangkat tema “When Art Speaks for Nature: Dari Akar Tradisi Menuju Kreativitas sebagai Suara Peduli Hutan”. Cindi Yorensa, mahasiswa Rekayasa Kehutanan angkatan 2024, berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi tersebut. Gagasannya mengenai mitigasi kebakaran hutan melalui pendekatan yang memadukan ilmu kehutanan, keberlanjutan, dan kearifan lokal berhasil mengantarkannya meraih juara. Dalam kompetisi tersebut, Cindi juga dibimbing oleh Anca Awal Sembada, S.T., M.Si., Ph.D.

Kompetisi ini terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari pendaftaran, technical meeting, pengumpulan esai, penilaian, pengumuman tiga besar, presentasi final, hingga pengumuman pemenang. Dalam kompetisi tersebut, Cindi mengusung gagasan berjudul “Konsep Thermal Buffer Mbaru Niang sebagai Mitigasi Kebakaran pada Area Hutan Terfragmentasi”. Gagasan ini berangkat dari permasalahan fragmentasi hutan yang dapat memunculkan edge effect, yaitu perubahan kondisi ekologis pada bagian tepi hutan akibat perubahan lingkungan di sekitar kawasan hutan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan kawasan hutan terhadap berbagai gangguan, termasuk kebakaran.

Cindi Yorensa meraih Juara 2 dalam kompetisi Semarak National Competition 2026.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Cindi mencoba mengembangkan pendekatan mitigasi yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mengintegrasikan nilai budaya dan tradisi masyarakat Indonesia. Ia mengadaptasi bentuk rumah adat Mbaru Niang sebagai inspirasi dalam merancang konsep greenbelt atau thermal buffer pada bagian tepi hutan yang terfragmentasi. “Cindi tertarik untuk menyatukan berbagai nilai, mulai dari hutan, tradisi, dan manusia. Sehingga muncullah ide tersebut,” ungkap Cindi.

Konsep yang ditawarkan memiliki kebaruan pada rancangan thermal buffer yang dibuat bertingkat dengan mengadaptasi karakteristik bentuk Mbaru Niang. Thermal buffer tersebut dirancang sebagai greenbelt yang ditempatkan di sekitar area hutan terfragmentasi untuk membantu mengurangi risiko dan dampak kebakaran. Menurut Cindi, pendekatan tersebut tidak hanya mempertimbangkan aspek mitigasi kebakaran, tetapi juga nilai keberlanjutan dan ramah lingkungan. Selain itu, konsep ini diharapkan dapat menjadi alternatif mitigasi yang lebih ekonomis dibandingkan dengan penanganan kebakaran secara konvensional setelah kebakaran terjadi.

Untuk menghasilkan gagasan tersebut, Cindi terlebih dahulu mengidentifikasi permasalahan yang sedang banyak terjadi dan relevan dengan kondisi hutan saat ini. Ia kemudian melakukan penelusuran terhadap berbagai jurnal untuk memahami kondisi serta permasalahan hutan yang menjadi dasar pengembangan gagasannya. “Persiapannya dimulai dari mencari masalah yang sedang marak terjadi. Saya mencari berbagai jurnal yang memiliki informasi terkait kondisi hutan saat ini. Setelah itu, saya mencoba menggabungkan gagasan yang saya punya dan menuangkannya ke dalam esai,” jelasnya.

Dalam proses penyusunan esai, Cindi juga menghadapi tantangan dalam menemukan referensi yang secara spesifik membahas konsep thermal buffer yang diusulkannya. Ide tersebut masih relatif baru sehingga literatur yang dapat digunakan sebagai rujukan secara langsung masih terbatas. Meskipun demikian, Cindi akhirnya menemukan sejumlah penelitian yang relevan dan dapat dijadikan dasar dalam pengembangan gagasan dalam esainya. Pengalaman mengikuti kompetisi tersebut memberikan pembelajaran baru bagi Cindi, khususnya mengenai bagaimana berbagai bidang yang sebelumnya terlihat berbeda dapat dipertemukan untuk menghasilkan sebuah gagasan. Ia melihat bahwa nilai-nilai kehutanan, tradisi, budaya, dan manusia dapat saling dikaitkan dalam upaya menjawab permasalahan lingkungan.

“Di sini saya belajar banyak hal baru. Ternyata banyak hal yang biasanya dinilai tidak dapat digabungkan ternyata dapat dikaitkan, seperti nilai kehutanan, tradisi, dan budaya,” tuturnya. Keberhasilan meraih juara dalam kompetisi tersebut menjadi pengalaman sekaligus motivasi bagi Cindi untuk terus mengembangkan gagasan dalam menjawab berbagai permasalahan lingkungan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong dirinya untuk terus belajar dan mengeksplorasi ide-ide baru.

Di akhir, Cindi juga mengajak mahasiswa untuk tidak ragu mengikuti berbagai kompetisi dan berani mempercayai gagasan yang telah dibuat. “Semoga teman-teman juga selalu semangat untuk mengikuti berbagai perlombaan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba, dan yakin serta percaya dengan apa yang kita buat. Jangan lupa untuk selalu meminta restu orang tua dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya.

Kontributor: Fauzia Ayu Lestari, Bioteknologi

Editor: AAS

No Comments

Post a Comment

Your email address will not be published.