Kuliah Umum SITH ITB: Menyelamatkan Biodiversitas dengan Integrasi Finansial Berkelanjutan untuk Ekonomi Berkelanjutan
Bandung, sith.itb.ac.id –Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan kuliah umum dengan mengangkat topik “Keanekaragaman Hayati dan Aspek Finansial” pada Rabu (26/08/2026). Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang Seminar SITH ITB Kampus Ganesa. Kuliah umum ini menghadirkan narasumber utama, yaitu Riki Frindos, S.T., yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI).
Dalam pemaparannya, Bapak Riki menjelaskan bahwa aktivitas ekonomi manusia saat ini sangat bergantung pada model ekonomi linier dan tinggi karbon (high-carbon economy), yang mengeksploitasi sumber daya alam secara terus menerus dan menyisakan sampah serta polusi sebagai hasil akhir. Dampak dari model ekonomi ini memicu triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati (biodiversity loss).
“Maka, krisis keanekaragaman hayati saat ini menjadi ancaman yang nyata bagi keberlanjutan ekonomi global.” ujar beliau.
Sebagai solusinya, beliau menekankan pentingnya transisi ekonomi menjadi ekonomi sirkular (circular economy), rendah karbon (low-carbon economy), dan berbasis konservasi, yang tentunya ini sejalan dengan definisi green economy yang dicanangkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP). Transisi besar ini tentunya membutuhkan pendanaan dan investasi yang sangat masif. Kebutuhan dana yang besar ini memicu tantangan baru berupa kesenjangan pendanaan (funding gap) yang signifikan secara global antara komitmen pendanaan saat ini dengan pendanaan yang harus dipenuhi hingga tahun 2030.
Menghadapi kesenjangan tersebut, Bapak Riki memaparkan Biodiversity Finance Architecture yang terdiri atas lima pilar utama: Public Finance (dana pemerintah melalui APBN/APBD), International Finance (bantuan internasional), Market-Based Mechanisms (mekanisme berbasis pasar seperti Pembayaran Jasa Ekosistem/PES), Private Investment (investasi swasta ramah lingkungan), dan Instrumen Sektor Keuangan.
Pilar mekanisme berbasis pasar berkembang sangat pesat, contohnya skema Pembayaran Jasa Ekosistem (Payment for Ecosystem Services – PES). Implementasi sukses di Indonesia salah satunya adalah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di hulu sungai, di mana kompensasi berupa infrastruktur listrik diberikan kepada masyarakat yang berkomitmen menjaga hutan daerah tangkapan air (watershed).
Meskipun mekanisme berbasis pasar seperti kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credits) mulai diuji coba menyusul kesuksesan pasar karbon, beliau mengingatkan perbedaan sifat mendasarnya. Karbon bersifat global dan homogen, sedangkan keanekaragaman hayati bersifat sangat spesifik secara lokal sehingga sulit distandarisasi secara universal.
“Nilai keanekaragaman hayati tidak bisa disamakan begitu saja. Jika kita merusak ekosistem hutan di Riau, membangun ekosistem serupa di Merauke tidak akan bisa menjadi offset yang setara karena karakteristik dan fungsi biologisnya berbeda,” jelas Bapak Riki.
Guna memobilisasi modal, skema blended finance menyinergikan modal komersial dengan dana filantropi untuk mendukung proyek keberlanjutan yang awalnya dinilai kurang layak secara bisnis (non-commercially viable). Yayasan KEHATI berperan sebagai katalis investasi berkelanjutan di Indonesia melalui peluncuran indeks saham berbasis ESG di Bursa Efek Indonesia, termasuk Indeks SRI-KEHATI. Bekerja sama dengan 16 manajer investasi dan menghasilkan donasi rutin Rp10–15 miliar per tahun untuk mendanai proyek konservasi, seperti pemulihan pangan lokal sorgum untuk ketahanan pangan dan adaptasi iklim di Flores, NTT.
Dengan adanya integrasi aspek ESG ini menciptakan permintaan green jobs yang tumbuh dua kali lipat lebih cepat daripada ketersediaan tenaga ahlinya (structural skills gap). Lulusan ilmu hayati memiliki peluang mengisi celah ini. Keahlian yang dibutuhkan pada bidang ini dapat didapatkan dengan mempelajari literasi keuangan, regulasi ESG, serta mengambil sertifikasi internasional seperti GARP SCR atau CESGA guna menjembatani dunia sains dengan investasi.
Kuliah umum ini dihadiri oleh sivitas akademika SITH, khususnya para mahasiswa pascasarjana.
Melalui kegiatan ini, SITH ITB mempertegas komitmen kolaborasi antara sains hayati dengan kebijakan finansial global serta industri berkelanjutan. Kolaborasi multidisipliner ini diharapkan terus berkembang guna membekali mahasiswa SITH dengan keahlian relevan untuk menjawab tantangan global menuju Indonesia yang tangguh secara ekonomi dan ramah lingkungan.
Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)
Editor: AKH

dapodik
slot gacor adalah permainan mudah maxwin karena memiliki rtp tinggi
situs slot gacor
website $%^$##1110 ping!!
link gacor
slot gacor