Guru Besar SITH ITB Rancang Pengembangan Komoditas Unggulan di Kabupaten Ngada, NTT

Kegiatan kunjungan lapangan Tim Ekspedisi Patriot ITB di Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada.
Bajawa, sith.itb.ac.id – Tim Ekspedisi Patriot Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan kegiatan perancangan pengembangan komoditas unggulan spesifik di Kawasan Transmigrasi (KT) Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia yang bertujuan memperkuat basis ekonomi kawasan transmigrasi melalui pendekatan ilmiah, partisipatif, dan berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Ekspedisi Patriot Output 2 yang diketuai oleh Prof. Endah Sulistyawati, S.Si., Ph.D., Guru Besar SITH ITB, dengan tujuan Desain Pengembangan Komoditas Unggulan Spesifik pada Kawasan Transmigrasi. Tim bekerja secara intensif hingga Desember 2025 dan berkolaborasi erat dengan Pemerintah Kabupaten Ngada serta pemangku kepentingan lokal.
Secara wilayah, Kawasan Transmigrasi Bajawa tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Bajawa Utara, Riung Barat, dan Aimere. Kawasan ini memiliki karakter topografi yang beragam, mulai dari pesisir hingga perbukitan dan pegunungan. Mata pencaharian masyarakat didominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan skala kecil, namun masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan teknologi pascapanen, akses pasar, serta pengelolaan sumber daya yang belum optimal.
Dalam pelaksanaannya, tim melakukan pengumpulan dan analisis data secara komprehensif, meliputi wawancara dengan 42 petani, 3 tengkulak, dan 8 pedagang pasar, serta diskusi kelompok terfokus (focus group discussion/FGD) bersama masyarakat transmigran, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait. Metodologi ini digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi produksi, rantai nilai, serta tantangan pengembangan komoditas di lapangan.
Berdasarkan hasil analisis Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dan Analytical Hierarchy Process (AHP), tim menetapkan kemiri (Aleurites moluccanus) dan jambu mete (Anacardium occidentale) sebagai komoditas unggulan utama di Kawasan Transmigrasi Bajawa. Selain itu, tim juga mengidentifikasi komoditas prospektif spesifik wilayah, seperti kakao di Kecamatan Riung Barat dan kelapa di Kecamatan Aimere.
Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan utama pengembangan komoditas unggulan saat ini terletak pada rendah dan fluktuatifnya volume produksi, keterbatasan penanganan pascapanen, serta nilai tambah yang masih terpusat di hilir. Perbedaan kualitas biji kemiri, khususnya antara kemiri utuh dan pecah, juga berdampak langsung pada struktur harga dan pendapatan petani.
Menanggapi temuan tersebut, Prof. Endah Sulistyawati menyampaikan apresiasi atas kesempatan untuk terlibat langsung di kawasan transmigrasi Bajawa. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia atas kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan transmigrasi Bajawa serta Pulau Flores secara umum,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu intervensi jangka pendek yang dinilai paling strategis adalah penguatan penanganan pascapanen kemiri, melalui pelatihan teknis, pengadaan mesin pemecah kemiri, serta pengembangan skema kerja sama antara petani dan off-taker. Skema ini diharapkan dapat mendorong harga yang lebih adil berbasis kualitas produk dan meningkatkan insentif bagi petani untuk menerapkan praktik pascapanen yang lebih baik.
Secara bertahap, strategi pengembangan dirancang dalam tiga fase, yakni fondasi melalui peningkatan kapasitas pascapanen dan produktivitas kebun, penguatan melalui pengembangan usaha pascapanen desa dan akses pasar, serta ekspansi melalui pengembangan produk bernilai tambah, branding, dan pemanfaatan teknologi digital. Dalam jangka menengah, pengembangan industri pendukung rantai nilai kemiri juga dipandang penting untuk mendorong industrialisasi berbasis komoditas lokal di NTT.
Ke depan, Tim Ekspedisi Patriot Output 2 berharap kegiatan ini dapat memperoleh dukungan pendanaan lanjutan, baik dari ITB maupun Kementerian Transmigrasi, serta membuka peluang kolaborasi dengan alumni dan pihak donor. Melalui pendekatan berbasis riset dan pendampingan berkelanjutan, program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat transmigrasi sekaligus menjadi model pengembangan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
Kontributor: Trinitaty Bulan M Hutabarat Biomanajemen (21325017)
Editor: AKH