Mahasiswa SITH ITB Hadirkan Inovasi Biopestisida Nano untuk Pengendalian Hama Presisi dan Pertanian Berkelanjutan

Tiga mahasiswa Program Studi Rekayasa Pertanian angkatan 2023 berhasil meraih Juara 1 Esai Kategori Mahasiswa sekaligus Best Paper pada ajang AgriTech Innovations Competition (ATIC) 2025.
Bandung, sith.itb.ac.id – Tiga mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) Program Studi Rekayasa Pertanian angkatan 2023 berhasil meraih Juara 1 Esai Kategori Mahasiswa sekaligus Best Paper pada ajang AgriTech Innovations Competition (ATIC) 2025, menunjukkan kapasitas mahasiswa dalam menghadirkan solusi inovatif berbasis riset untuk menjawab tantangan pertanian modern, khususnya dalam pengendalian hama yang efektif dan berkelanjutan.
Inovasi yang dikembangkan mengusung nanoenkapsulasi biopestisida berbahan alami, yakni ekstrak mimba dan daun kemangi, dengan matriks maltodekstrin. Pendekatan ini dirancang untuk mengatasi kelemahan biopestisida konvensional yang selama ini memiliki stabilitas rendah dan masa simpan yang singkat akibat degradasi oleh cahaya, suhu, dan kelembapan. Melalui teknologi nanoenkapsulasi, senyawa aktif terlindungi dan dilepaskan secara bertahap (slow release), sehingga efektivitas pengendalian hama meningkat secara signifikan.
Kandungan azadirachtin pada mimba bekerja dengan menurunkan aktivitas enzim pencernaan serangga, sedangkan eugenol dari daun kemangi menghambat enzim asetilkolinesterase yang berperan dalam sistem saraf hama. Kombinasi dua bahan alam ini menghasilkan pendekatan multi-target compounds yang memberikan efek pengendalian lebih optimal. Hasil pengujian menunjukkan tingkat mortalitas lalat buah mencapai 96,67 %, menandakan potensi besar inovasi ini untuk diterapkan secara luas di lapangan.
Penerapan teknologi nano menjadi faktor pembeda utama dalam inovasi mahasiswa Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) karena mampu meningkatkan stabilitas senyawa aktif, mengontrol pelepasan bahan aktif secara bertahap, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan, serta memperpanjang umur simpan produk. Penerapan teknologi nano menjadi pembeda utama karena mampu meningkatkan stabilitas senyawa aktif, mengontrol pelepasan bahan aktif, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan, serta memperpanjang umur simpan produk.
“Karya yang kami buat ini mengedepankan urgensi yang ingin diselesaikan, bukan sekadar menciptakan inovasi baru, tetapi menghadirkan manfaat dan dampak nyata bagi pertanian berkelanjutan” ujar Arif.
Keberhasilan tersebut mencerminkan komitmen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam mengembangkan solusi berbasis sains dan rekayasa untuk mendukung sistem pangan nasional yang lebih berkelanjutan. Inovasi biopestisida nano ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada keamanan lingkungan, efisiensi sumber daya, dan pengurangan ketergantungan terhadap pestisida sintetis.
Kontributor : Nattaya Putri Syailendra – Rekayasa Kehutanan, 2022; Trinitaty Bulan M Hutabarat – Biomanajemen, 2025
Editor: AKH