Enter your keyword

Menggali Potensi Ujung Timur Indonesia: Kisah Tim Ekspedisi Patriot SITH ITB di Tanah Papua

Menggali Potensi Ujung Timur Indonesia: Kisah Tim Ekspedisi Patriot SITH ITB di Tanah Papua

Bandung, sith.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) secara resmi membuka Pameran Program Ekspedisi Patriot Tahun 2025 pada Senin (23/2/2026). Acara yang diselenggarakan di Lantai Dasar Gedung CADL, ITB Kampus Ganesha ini menampilkan berbagai hasil pemetaan potensi, resolusi persoalan, dan produk unggulan dari berbagai kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia. Pameran ini terbuka untuk umum dan dijadwalkan berlangsung hingga Jumat (27/2/2026).

Di antara deretan karya dan rekam jejak pengabdian yang dipamerkan, salah satu kisah yang menarik perhatian datang dari tim yang dipimpin oleh dosen dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Dr. Ir. Dadang Sumardi, M.P. Tim ini memfokuskan pengabdiannya di kawasan Lereh, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Papua.

Ditemui pada hari pembukaan pameran, Dr. Dadang menceritakan bahwa lokasi pengabdian mereka berada di kawasan pemukiman transmigrasi yang telah dihuni sejak era 1970-an.

Perjalanan menuju Distrik Yapsi sendiri layaknya sebuah petualangan menembus batas. Dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari pusat kota Jayapura dengan infrastruktur jalan yang kurang memadai. Tim harus melewati rute yang sering terendam air hingga jembatan-jembatan yang rusak parah. Namun, rintangan medan tersebut tidak menyurutkan langkah Dr. Dadang dan tim untuk memetakan potensi dan permasalahan yang menghambat roda ekonomi warga setempat.

Potensi Emas di Balik Keterbatasan Akses

Di balik sulitnya akses, Lereh menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Berdasarkan pengujian tanah yang dilakukan oleh tim Dr. Dadang, lahan di kawasan tersebut terbukti sangat subur dengan tingkat pH yang normal (berkisar antara pH 6 hingga 7), sehingga sangat ideal untuk sektor agrikultur.

“Potensi terbesar yang sudah berkembang selama bertahun-tahun di sana adalah kakao”, ungkap Dr. Dadang.

Kualitas kakao hasil fermentasi para petani transmigran ini bahkan sudah berhasil menembus pasar di luar Papua, seperti Bali dan Yogyakarta, hingga merambah pasar ekspor. Melalui komoditas ini, banyak petani yang berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke bangku perguruan tinggi.

Selain kakao, Distrik Yapsi juga sangat potensial untuk mengembangkan peternakan sapi Bali karena ketersediaan pakan alami yang melimpah. Potensi budidaya tanaman buah-buahan dan perikanan darat pun tak kalah menjanjikan. Sayangnya, berbagai potensi ini terhambat oleh minimnya penyuluhan oleh ahli, mahalnya pakan ikan, serta infrastruktur jalan yang buruk sehingga hasil panen sulit didistribusikan ke luar daerah.

Solusi Nyata dan Pelajaran Hidup

Menghadapi masalah krisis air bersih di lokasi, tim Dr. Dadang berhasil melakukan pengeboran. Meskipun dihadapkan pada tingginya biaya mobilisasi alat ke Papua, program ini berhasil mengeluarkan sumber air bersih yang kini siap didistribusikan oleh perangkat desa setempat.

Sebagai rekomendasi jangka panjang, tim Dr. Dadang menekankan bahwa perbaikan infrastruktur jalan adalah kunci utama. Selain itu, pendirian fasilitas pendukung seperti Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan program pembinaan komoditas bernilai jual tinggi dinilai sangat krusial untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat Distrik Yapsi.

Bagi Dr. Dadang, ekspedisi selama tiga setengah bulan ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan sebuah pelajaran hidup yang berharga. Beliau melihat langsung bagaimana daya juang, kesabaran, dan pantang menyerah dari para transmigran yang mampu bertahan hidup dan membina keluarga hingga tiga generasi di tengah keterbatasan.

Reporter: Aura Salsabila Alviona (Biotechnology, Class of 2025)

Editor: Nita Yuniati

X