BIOLEXION 2.0 SITH ITB: Menjawab Krisis Biodiversitas Melalui Inovasi dan Kolaborasi Multidisiplin
Bandung, sith.itb.ac.id – Himpunan Mahasiswa Biologi (HIMABIO) “Nymphaea” Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses menggelar acara Biology Competition and Exhibition (BIOLEXION) 2.0. Berlokasi di Aula Timur ITB Kampus Ganesha, acara tahunan ini mengusung tema besar “Empowering Innovation for Biodiversity Crisis Solution” sebagai respon nyata mahasiswa terhadap ancaman kepunahan spesies dan kerusakan ekosistem di Indonesia.
Acara ini secara resmi dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Akademik Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Azzania Fibriani, S.Si., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan persiapan matang yang dilakukan oleh panitia pelaksana.
“Keberhasilan penyelenggaraan acara ini tentu tidak lepas dari kerja keras dan persiapan luar biasa para mahasiswa yang telah berdedikasi sejak jauh hari. Saya berharap melalui pelaksanaan BIOLEXION 2.0 ini, para peserta serta tamu undangan dapat memetik manfaat luas dan memperkaya wawasan mengenai urgensi pelestarian keanekaragaman hayati kita,” ungkap Dr. Azzania.
Kompetisi Inovasi Ilmiah
Antusiasme terhadap isu biodiversitas terlihat jelas dari skala kompetisi tahun ini. Tercatat sebanyak 205 tim dari berbagai daerah mendaftarkan diri, dengan formasi 2 hingga 4 orang per tim. Tidak hanya dari jenjang universitas, kompetisi ini juga diikuti oleh siswa SMA yang membawa gagasan-gagasan baru dalam upaya konservasi.

Suasana sesi penjurian oleh Dosen SITH ITB, saat babak Final Presentation Kompetisi Ilmiah
Setelah melalui proses seleksi yang ketat, babak Final Presentation menghadirkan tim-tim terbaik dari universitas ternama, di antaranya Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Udayana. Inovasi yang dipaparkan sangat beragam, mulai dari integrasi kecerdasan buatan untuk deteksi patogen, rancangan biosensor molekuler untuk monitoring limbah, hingga sistem pemantauan hutan digital yang memanfaatkan sensor bioakustik.

Momen penganugerahan dan foto bersama para pemenang kompetisi ilmiah BIOLEXION 2.0
Eksplorasi Masigit Kareumbi dan Edukasi Multigenerasi
Di sisi lain aula, pengunjung disuguhkan pada hasil nyata kerja lapangan melalui pameran interaktif unit GARDA “Nymphaea” ITB. Pameran ini membedah hasil ekspedisi di Taman Buru Masigit Kareumbi yang memfokuskan pada tiga spesies kunci yaitu kodok endemik Jawa (Leptophryne javanica), kupu-kupu ekor naga (Lamproptera meges), dan burung raja udang kalung biru (Alcedo orizona).

Antusiasme pengunjung saat menikmati pameran fotografi dan edukasi interaktif
Ekshibisi ini berhasil menarik perhatian 180 pengunjung lintas generasi, mulai dari pelajar SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa, alumni, dan dosen dari berbagai daerah. Mereka diajak memahami ancaman nyata antropogenik, seperti limbah dan aktivitas manusia, yang kian menghimpit ruang hidup berbagai spesies di habitat aslinya.
Sinergi Seni dan Konservasi Bersama Tunas Nusa
Untuk melengkapi aspek ilmiah, BIOLEXION 2.0 turut menghadirkan workshop Botanical Illustration yang bekerja sama dengan Yayasan Tunas Nusa. Melalui pendekatan seni, peserta dari berbagai usia sekolah diajak mengenal flora Indonesia lebih dalam melalui teknik menggambar detail botani. Program ini menjadi jembatan edukatif untuk menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap kekayaan hayati sejak dini.
Ketua Pelaksana BIOLEXION 2.0, Shafira Azka Mardhiyah, menekankan bahwa keterlibatan masyarakat luas adalah kunci. “Kami ingin menunjukkan bahwa konservasi itu bukan hanya satu jalan. Bisa melalui pendekatan ekologi, molekuler, hingga kebijakan. Dengan hadirnya pengunjung dari berbagai jenjang pendidikan, kami berharap pesan kepedulian terhadap lingkungan ini tersampaikan dengan luas,” tuturnya.
Acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari ini ditutup dengan sesi diskusi panel “Menilik Konservasi” dan pengumuman pemenang lomba, menandai komitmen berkelanjutan mahasiswa Biologi ITB dalam menjaga warisan alam Indonesia.
Reporter: Aura Salsabila Alviona (Biotechnology, Class of 2025)
Editor: Nita Yuniati