Dari Kampus ke Kancah Global: Alumni SITH ITB Ubah Isu Food Waste Jadi Solusi Nyata Lewat Surplus Indonesia
Bandung, sith.itb.ac.id – Persoalan sampah makanan (food waste) bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan pangan nasional. Namun, Muhammad Agung Saputra, alumnus Biologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB angkatan 2013, menjawab keresahan ini menjadi solusi ekonomi sirkular melalui Surplus Indonesia. Melalui startup greentech dan recommerce ini, Agung sukses membuktikan bahwa sains yang dipadukan dengan kepedulian sosial mampu melahirkan dampak masif di kancah global.

Dedikasi Agung dalam memelopori eco-social enterprise ini telah mendapat pengakuan prestisius di tingkat internasional. Ia mencatatkan sejarah sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia yang meraih APEC Bio-Circular-Green 2024 International Award kategori Youth. Selain itu, namanya turut masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024 dan baru-baru ini dianugerahi Imperial College London Alumni Entrepreneur Award 2026.
Sinergi Pengalaman Hidup dan Fondasi Akademik
Tumbuh besar di Papua dengan tantangan akses pangan yang nyata, Agung merasakan ironi yang tajam saat melihat melimpahnya makanan layak konsumsi yang terbuang sia-sia di kota-kota besar. Kontras inilah yang memicu kegelisahannya mengenai ketimpangan distribusi pangan di Indonesia.
Minat besarnya pada bioteknologi membawanya ke SITH ITB sebagai tempat menempa diri. Di bawah bimbingan Prof. Dr. Tati Suryati Syamsudin, ia mendalami ekologi tanah melalui penelitian di lahan pascatambang Sorowako. Tak berhenti di tingkat sarjana, Agung melanjutkan studi magister di Imperial College London pada bidang Environmental Technology. Di sana, ia memfokuskan tesisnya pada kebijakan pencegahan food waste, yang kemudian menjadi fondasi ilmiah bagi model bisnis Surplus Indonesia.
Mengubah Stigma melalui Platform Cerdas
Perjalanan membangun Surplus bukanlah tanpa tantangan. Tantangan terbesarnya justru terletak pada upaya mengubah stigma negatif masyarakat. Produk makanan berlebih atau yang mendekati masa kedaluwarsa kerap dianggap sebagai barang sisa yang tidak layak. Oleh karena itu, Surplus mengambil peran untuk mengedukasi publik bahwa produk tersebut masih sangat aman dikonsumsi.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Surplus beroperasi melalui aplikasi recommerce berbasis AI guna menyelamatkan produk berlebih atau hampir kedaluwarsa dari hotel, restoran, dan ritel. Kehadirannya memberikan manfaat ganda: konsumen bisa membeli produk berkualitas dengan harga hingga 80% lebih hemat, sementara mitra pemasok dipermudah oleh teknologi AI untuk memprediksi limbah, mengelola stok, dan mendistribusikan sisa produk secara efisien
Berbekal mindset yang ditempa di SITH ITB (mulai dari berpikir kritis, kemampuan adaptasi, hingga ketahanan mental), Agung berhasil membawa Surplus melampaui sekadar aplikasi bisnis. Kini, platform tersebut telah digunakan oleh hampir satu juta pengguna dan bermitra dengan ribuan UMKM. Gerakan ini sukses menyelamatkan ratusan ton makanan, mencegah kerugian ekonomi hingga miliaran rupiah, serta menekan emisi gas rumah kaca dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Lebih jauh lagi, dampak Surplus kini telah menyentuh ranah strategis. Platform ini aktif dilibatkan dalam diskusi dan proyek pemerintah, mulai dari Bappenas, Bappeda, hingga Badan Pangan Nasional, dalam merumuskan langkah-langkah inovatif bagi ketahanan pangan nasional.
Pencapaian Muhammad Agung Saputra menjadi bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berhenti sebagai kajian di laboratorium. Rekam jejaknya diharapkan dapat memantik semangat generasi muda untuk terus menerjemahkan riset dan sains ke dalam karya nyata yang relevan demi masa depan Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Kontributor: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)
English Translate and Editor: Anca Awal Sembada