Enter your keyword

SITH ITB Gelar Kuliah Tamu tentang Blue Economy sebagai Sumber Pertumbuhan Baru

SITH ITB Gelar Kuliah Tamu tentang Blue Economy sebagai Sumber Pertumbuhan Baru

 Bandung, sith.itb.ac.idSekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Program Studi Doktor Biologi menyelenggarakan kuliah tamu dalam mata kuliah BI7000 Kapita Selekta Ilmu dan Teknologi Hayati. Kegiatan ini mengangkat tema “Blue Economy sebagai Sumber Pertumbuhan Baru dan dilaksanakan pada Selasa, 5 Mei 2026, di Ruang Seminar Lantai 3, Labtek XI SITH ITB. Kuliah tamu ini menghadirkan narasumber Leonardo A.A.T. Sambodo, S.P., M.S., Ph.D., yang saat ini menjabat sebagai Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup di BAPPENAS RI.

Dalam pemaparannya, Bapak Leonardo menekankan bahwa blue economy merupakan strategi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045. Secara global, blue economy diproyeksikan mencapai nilai hingga US$3 triliun pada tahun 2030, dengan kontribusi lebih dari US$5 triliun terhadap PDB dunia dan menyerap ratusan juta tenaga kerja. Posisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 65% wilayah berupa laut, serta kekayaan biodiversitas seperti mangrove dan terumbu karang, menjadikan sektor ini memiliki potensi strategis yang sangat besar.

Namun demikian, pengembangan blue economy juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Perubahan iklim memicu kenaikan permukaan laut, pemutihan terumbu karang, hingga pengasaman laut. Di sisi lain, persoalan lingkungan seperti limbah plastik yang belum terkelola optimal serta ketimpangan sosial-ekonomi di wilayah pesisir masih menjadi hambatan utama. Tingkat kemiskinan masyarakat pesisir yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah non-pesisir menunjukkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih inklusif. Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah telah menyusun Peta Jalan Blue Economy Indonesia 2023–2045 dengan target ambisius, antara lain meningkatkan kontribusi sektor maritim terhadap PDB hingga 15%, memperluas kawasan konservasi laut hingga 30% wilayah perairan, serta meningkatkan kontribusi tenaga kerja sektor kemaritiman. Strategi ini juga didukung oleh pengembangan delapan sektor prioritas, seperti perikanan, pariwisata bahari, energi terbarukan laut, hingga bioteknologi kelautan. Sebagai instrumen pemantauan, pemerintah mengembangkan Indonesia Blue Economy Index (IBEI) yang mengukur kinerja melalui tiga pilar utama, yaitu lingkungan, ekonomi, dan sosial dengan berbagai indikator turunan. Pendekatan ini memungkinkan pemetaan kondisi daerah secara lebih komprehensif, sehingga kebijakan dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifik tiap wilayah. Dalam sesi tersebut juga disampaikan contoh implementasi nyata, seperti pengembangan PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat yang menjadi salah satu proyek energi terbarukan berbasis perairan dengan kapasitas besar dan kontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi karbon.

Menutup paparannya, Bapak Leonardo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, tata kelola berbasis data, serta integrasi kebijakan ekonomi dan lingkungan. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui riset, inovasi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia untuk memastikan bahwa ekonomi biru tidak hanya mendorong pertumbuhan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir.

Melalui kuliah tamu ini, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebijakan dan praktik pembangunan berkelanjutan, sekaligus mendorong kontribusi akademisi dalam menjawab tantangan global dan nasional.

Kontributor : Trinitaty Bulan M Hutabarat – Biomanajemen (21325017)

English Translate and Editor: Anca Awal Sembada

X