Pengabdian Masyarakat KK SBT: Alih Teknologi Tepat Guna Berbasis Tumbuhan dan Farmer’s Day

Penulis : Hany Husnul Chotimah

SUMEDANG, SITH.ITB.AC.ID – Kelompok Keilmuan Sains dan Bioteknologi Tumbuhan (KK SBT), SITH ITB, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Wisata Alam Pangjugjugan, Desa Cilembu, Kabupaten Sumedang pada tanggal 24 Agustus 2019. Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan untuk mensosialisasikan ilmu pengetahuan terkait bioteknologi sederhana kepada masyarakat, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan implementasi dari salah satu tri dharma perguruan tinggi. Tema kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah Alih teknologi tepat guna berbasis tumbuhan dan farmer’s day. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, diantaranya dosen-dosen dari KK SBT, mahasiswa ITB, petani di desa Cilembu, serta pihak pegelola wisata alam pangjugjugan. Ragkaian kegiatan yang dilaksanakan diantaranya adalah workshop pestisida hayati, pembuatan pupuk cair, serta workshop hidroponik.

Sebagian besar petani di desa Cilembu menanam ubi sebagai tanaman utama. Namun, seringnya mereka menggunakan pestisida kimia untuk mengatasi masalah hama serangga yang menyerang kebunnya. Penggunaan pestisida kimia ini tentunya dapat membawa dampak negatif bagi lingkungan serta menghabiskan biaya yang cukup besar. Oleh karena itu, workshop pestisida hayati diadakan untuk memberi alternatif cara mengatasi serangan hama tersebut. Pada workshop pestisida hayati ini dipaparkan tentang pemanfaatan tanaman marigold (Tagetes erecta) untuk membantu mengurangi hama serangga. Berdasarkan penelitian yang dilakukan tim KK SBT, tanaman marigold terbukti mampu mengurangi serangan hama serangga pada tanaman ubi dan cukup mudah diaplikasikan.

Tanaman Tagetes erecta

Selain itu, pengabdian masyarakat ini juga memberikan informasi kepada petani tentang cara membuat pupuk cair sederhana. Pupuk cair ini dapat dibuat dengan bahan-bahan yang mudah ditemui atau sisa-sisa limbah rumah tangga, seperti limbah sayuran dan buah-buahan. Meskipun pembuatannya membutuhkan waktu, namun pupuk cair ini cukup efisien untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.

Berkurangnya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk menanam, membuat para petani akhirnya membatasi kegiatan bertaninya, sehingga panen dan penjualan hasil kebunnya pun terbatas. KK SBT memperkenalkan alternatif menanam menggunakan metode hidroponik untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut. Keunggulan dari metode ini salah satunya adalah tidak membutuhkan lahan yang luas serta instalasinya dapat dibuat menggunakan limbah botol plastik ataupun paralon. Untuk tanaman sayur-sayuran yang dapat dipanen dalam waktu singkat, metode ini cocok untuk diaplikasikan.

Antusiasme petani desa Cilembu terlihat dari banyaknya peserta yang datang dan diskusi yang berlangsung.

“Acara ini sangat informatif bagi kami. Pengetahuan yang disampaikan, sebagian besar belum kita ketahui, khususnya oleh petani yang masih konvensional. Ke depannya kita akan membina para petani untuk menerapkan ilmu-ilmu yang sudah dipaparkan oleh pihak ITB ini” tutur ibu Yanti selaku kepala UPT Pertanian Desa Cilembu.

Diakhir kegiatan, pihak KK SBT juga membagikan tanaman marigold, bibit tanaman, serta sayuran hasil hidroponik kepada para petani. Harapannya, para petani ini dapat mulai menerapkan teknologi sederhana yang dipaparkan serta ikut membantu mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida dan pupuk kimia bagi lingkungan.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish