Pengendalian Populasi Kucing di Sekitar Kampus ITB Ganesa

Penulis : Dr.rer.Nat. Marselina Irasonia Tan da Chairani Chusnia, S.Si

Jumlah populasi kucing liar yang berkeliaran yang terlalu banyak di lingkungan aktivitas manusia dapat menimbulkan berbagai masalah. Masalah-masalah yang terjadi dapat dikategorikan menjadi: Permasalahan kesehatan masyarakat dan penyakit zoonotic (penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia), penyebaran penyakit ke kucing peliharaan, gangguan terhadap publik, gangguan ekosistem, dan kesehatan kucing liar itu sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah Trap, Neuter, and Return (TNR). TNR merupakan metode pengendalian populasi dengan cara menangkap, mensterilisasi, dan melepas kembali kucing liar tersebut ke lokasi awal saat kucing liar tersebut ditangkap. Metode ini dinilai etis dan terbukti lebih efektif dan efisien bila dibandingkan dengan metode lain, misalnya membunuh di tempat atau Trap, Neuter, and Euthanase (TNE). Metode ini pernah dilakukan di salah satu kampus di Florida, Amerika Serikat dan telah berhasil mengurangi jumlah kucing liar secara signifikan di sekitar kampus tersebut.

Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Ganesa merupakan area yang tergolong sangat ramai, dengan kepadatan sekitar 0,68 orang/m2. Kepadatan populasi manusia di kampus ini tentunya juga menyebabkan tingginya ketersediaan makanan sisa di area kampus. Ketersediaan makanan sisa yang melimpah di kampus utama ITB berdampak pada meningkatnya jumlah populasi kucing liar. Hingga saat ini, belum ada tindakan yang dilakukan untuk menangani populasi kucing liar yang terlalu tinggi di kampus utama ITB. Oleh karena itu, dengan bantuan dana dari DEKTM ITB, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB yang didukung oleh anggota Kelompok Keilmuan Fisiologi, Perkembangan Hewan, dan Sains Biomedis (FPHSB) telah mengkoordinir pengendalian populasi kucing di lingkungan kampus ITB Ganesa dengan metode Trap, Neuter, and Return (TNR).

Gambar 1.      Tempat pemeliharaan kucing di Labtek XI SITH ITB

Kegiatan ini sedang berlangsung dan akan dilakukan setiap minggu sekali selama kurang lebih satu bulan. Sampai saat ini telah dilakukan dua kali proses sterilisasi kucing, pada Rabu, 18 Juli 2018 dan Jumat, 27 Juli 2018, terhadap 19 ekor kucing betina dan 8 ekor kucing jantan.

Proses Trap, neuter, and Return (TNR) ini terdiri atas tiga tahapan utama yakni penangkapan, sterilisasi, dan pengembalian kucing liar ke lokasi awal penangkapan. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan jaring. Kucing liar yang tertangkap kemudian disterilisasi dengan cara melakukan orchidectomy atau ovariectomy oleh dokter hewan yang memiliki izin praktik. Orchidectomy merupakan operasi pengangkatan testes pada jantan sedangkan ovariectomy adalah operasi pengangkatan ovarium pada betina. Kucing liar yang telah disterilisasi kemudian ditandai pada daun telinganya. Setelah operasi, kucing liar dipelihara terlebih dahulu di dalam kandang selama 48 jam setelah operasi dan bertujuan untuk mengembalikan kondisi tubuh kucing liar seperti semula setelah operasi. Setelah itu, kucing liar dilepas di tempat semula kucing liar tersebut ditangkap.

Gambar 2.      Kondisi kucing setelah dilakukan sterilisasi

 

Berita Terkait

IndonesiaEnglish