Road to South Sumatera: Sosialisasi pemanfaatan biji kopi menjadi teh dan pemanfaatan lebah lenceng trigona serta pembuatan pakan ikan

Penulis : Nurhayati Br Tarigan

EMPAT LAWANG, SITH.ITB.AC.ID – Kolaborasi dan berkelanjutan adalah dua hal yang sangat penting dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun 2016, Dr. M Yusuf Abduh, dosen Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK ATB) pernah melakukan kolaborasi dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Musi Rawas (STIE Mura) Lubuklinggau untuk sosialisasi mengenai pemanfaatan biji karet menjadi biodiesel dan budidaya lalat tentara hitam kepada masyarakat di Sumatera Selatan. Pada Desember 2017, KK ATB, Biorefinery Society (BIOS) dan STIE Mura Lubuklinggau kembali melakukan kolaborasi pengabdian kepada masyarakat di Sumatera Selatan untuk memberi penjelasan mengenai lebah tetragonula, pemanfaatan biji karet menjadi biodiesel dan pembuatan pakan ikan dengan memanfaatkan larva lalat tentara hitam.

Sosialisasi di Kabupaten Empat Lawang

Pada tanggal 18 April 2018, hal yang sama dilakukan kembali. Kali ini, Dr. M Yusuf Abduh bersama dengan Nurhayati Br Tarigan, S.T. dan Bagoes Inderaja, S.T. mengunjungi Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Daerah ini terkenal sebagai penghasil kopi di Sumatera Selatan, yang sebagian besar lahannya dimiliki rakyat. Petani kopi biasanya mengeringkan kopi yang telah dipanen selama beberapa hari kemudian memisahkan antara biji dan kulit kopi dengan menggunakan mesin atau dengan menumbuknya. Harga jual biji kopi kering ke tengkulak berkisar Rp 20.000 – Rp 28.000.

Pada sosialisasi kali ini, KK ATB bekerjasama dengan Biorefinery Society (BIOS) menjelaskan mengenai konsep biorefinery yang dapat diterapkan di perkebunan kopi. Pada kegiatan ini, Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang melaporkan bahwa produksi kopi di Empat Lawang hanya 6000 ton dari total luasan lahan sebesar 61.000 ha. Yusuf mengatakan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas kopi adalah dengan menggunakan pollinator alami, salah satunya adalah lebah tetragonula. Selain itu, lebah ini juga dapat membantu meningkatkan pendapatan petani karena menghasilkan propolis yang dapat dijual sebagai bahan kesehatan dan kecantikan.

Konsep biorefinery menekankan minimalisasi limbah dan optimalisasi bahan baku. Bagoes menjelaskan mengenai pemanfaatan kulit kopi menjadi minuman cascara yang selama ini belum pernah dilakukan di Empat Lawang. “Kulit kopi yang selama ini dijual dapat dimanfaatkan menjadi minuman herbal melalui proses pengeringan”, jelasnya. Kadar air pada kulit cascara sangat menentukan rasa minuman yang dihasilkan.

 

Selain kopi, masyarakat disini juga terkenal sebagai penghasil ikan tawar, misalnya ikan nila dan patin. Biaya pakan yang mahal sering kali menjadi masalah bagi pembudidaya ikan. Padahal, sebetulnya pakan ikan dapat dibuat sendiri. Nurhayati menjelaskan bahwa larva lalat tentara hitam dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan baku pembuatan pakan ikan sehingga mampu menurunkan pengeluaran pembudidaya.

Agar masyarakat lebih mendapat gambaran mengenai apa yang dijelaskan, maka dilakukan pula demonstrasi langsung pembuatan teh cascara, penjelasan sarang lebah tetragonula dan pembuatan pakan ikan. Energi positif dari masyarakat sangat terlihat pada kegiatan ini, baik pada saat penjelasan maupun pada saat demonstrasi langsung. “Kami berharap agar kegiatan ini tidak hanya berlangsung sekali saja, namun berkelanjutan”, kata Dr. Abdullah Hehamahua, ketua STIE Mura Lubuklinggau.

Kunjungan ke Desa Bangun Rejo

Empat bulan lalu, kelompok tani Suka Maju di Desa Sukakarya telah berhasil melakukan budidaya 50 koloni lebah yang didapatkan dari hutan disekitar desa. Kali ini, kelompok tani yang semangat untuk majunya sangat tinggi ini tercatat telah memelihara sekitar 200 koloni lebah yang didapatkan dari hutan di desa mereka. Kondisi di Desa Sukakarya memang terlihat cukup nyaman untuk pertumbuhan lebah karena ketersediaan sumber resin dan sumber air yang cukup melimpah.

Sarang yang ada di desa ini sama seperti sarang MOTIVE yang pernah dijelaskan pada tahun 2016 kepada para petani disini sebelumnya. Namun, pada beberapa sarang ada yang sudah dipasang kawat dibagian atas sarangnya sebagai tempat memanen propolis dan ada yang belum. Pada kunjungan kali ini, masyarakat menanyakan bagaimana cara memanen propolis dari sarang karena propolis yang ada belum pernah dipanen sama sekali. Kedepannya, KK ATB, BIOS dan STIE Mura Lubuklinggau berencana untuk melakukan kegiatan pelatihan mengenai cara memanen dan ekstraksi propolis kepada kelompok tani Suka Maju.

Kunjungan ke Desa Sungai Kijang

Pak Mat Ihsan, petani karet sekaligus pembudidaya ikan tawar di Desa Sungai Kijang terlihat begitu antusias ketika mengikuti kegiatan sosialisasi pembuatan pakan ikan yang pernah dilakukan oleh STIE Mura Lubuklinggau, KK ATB dan BIOS di desa tersebut pada Desember 2017 lalu. Ternyata antusias Pak Mat bukan hanya pada kegiatan sosialisasi saja.

Pada April 2018, KK ATB, BIOS dan STIE Mura Lubuklinggau menyaksikan sendiri pakan yang dibuat oleh Pak Mat menggunakan alat pembuatan pakan ikan yang pernah dihibahkan oleh pihak STIE Mura sebelumnya. Pakan kemudian diberikan ke ikan patin, ikan lele dan ikan nila. “Saya membuat pakan tiga hari sekali di pagi hari, kemudian dijemur pukul 9 pagi dan diangkat di sore hari. Pakan yang dibuat sendiri mengakibatkan pengeluaran saya menjadi lebih sedikit.”, ujar Pak Mat.

Pakan yang telah dibuat memang belum sempurna dari segi ukuran dan komposisi, namun semangat yang ada pada diri Pak Mat diharapkan dapat menular ke pembudidaya ikan lainnya.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish