SITH ITB Sampaikan Digitalisasi Koleksi Hayati di Forum Internasional WINNER 2025
Bogor, sith.itb.ac.id. – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, turut berpartisipasi dalam forum riset internasional Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (WINNER) 2025. Konferensi bergengsi yang mempertemukan para akademisi dan peneliti dari Indonesia dan Belanda ini telah berlangsung secara hybrid pada 7-9 Oktober 2025 lalu di Jakarta dan Bogor. Pada konferensi tersebut, Dian Rosleine, Ph.D., Wakil Dekan Bidang Sumberdaya sekaligus Manajer Herbarium Bandungense dan Museum Zoologi SITH ITB memaparkan inovasi digitalisasi herbarium.

Dian Rosleine, Ph.D. dalam presentasinya mengenai Herbarium Bandungense dan Museum Zoologi SITH ITB di Konferensi WINNER 2025 (Dok. SITH)
Mengusung tema utama “Building a Sustainable Future through Education and Research“, WINNER 2025 menjadi platform strategis untuk pertukaran gagasan inovatif. Salah satu sesi kunci digelar di IPB University, Bogor, pada Rabu (8/10), yang membahas tentang masa depan pelestarian keanekaragaman hayati.
Dalam sesi bertajuk “Herbarium and Museum Specimen Digitalization for Sustainability Education and Research“, Dr. Dian Rosleine menyajikan visi dan praktik SITH ITB bersama tim pakar multidisiplin yang terdiri dari Dr. Ruliyana Susanti (Badan Riset dan Inovasi Nasional – BRIN), Arief Hamidi, M.Sc. (Flora Fauna Indonesia – FFI), dan Prof. Fons Verbeek dari Leiden University, Belanda.
Menyoroti berbagai tantangan konservasi modern, tim tersebut memaparkan argumen kuat mengenai peran krusial digitalisasi koleksi hayati. Paparan tersebut menegaskan bahwa karena kekayaan biodiversitas Indonesia menghadapi tekanan hebat dari perubahan iklim, hilangnya habitat, dan spesies invasif, maka dokumentasi spesimen yang akurat dan mudah diakses menjadi sangat penting. Fungsi dokumentasi ini telah bergeser dari sekadar praktik akademik menjadi instrumen vital untuk riset dan pengambilan kebijakan yang berkelanjutan.
Sebagai institusi yang mengelola penyimpanan koleksi hewan dan tumbuhan tertua untuk universitas di Indonesia, Museum Zoologi (berdiri sejak 1947) dan Herbarium Bandungense (berdiri sejak 1949) SITH ITB berbagi pengalaman dalam mentransformasikan koleksi fisik menjadi aset digital. Dr. Dian menjelaskan bahwa dengan koleksi yang sangat kaya, mencapai 10.148 spesimen hewan dari 1.064 spesies dan 19.462 spesimen herbarium yang berasal dari Indonesia hingga Amerika, tingginya pemanfaatan untuk praktikum, penelitian, dan kunjungan edukasi menuntut adanya sistem yang lebih baik.
“Inovasi ini mencakup penomoran, barcoding, digitalisasi spesimen, hingga pembuatan model digital untuk koleksi berharga,” papar Dr. Dian. “Tujuannya adalah agar pengguna dapat mengakses katalog dan informasi secara daring dengan mudah, sekaligus memungkinkan akses virtual tanpa kekhawatiran merusak spesimen asli,” ungkap Dr. Dian.
Sesi ini diperkaya dengan sinergi keahlian dari para pembicara lainnya. Dr. Ruliyana Susanti memberikan konteks dari perspektif kebijakan dan riset nasional BRIN. Arief Hamidi, M.Sc mengilustrasikan bagaimana data dari spesimen herbarium yang berusia puluhan tahun menjadi petunjuk tak ternilai dalam ekspedisi konservasi di lapangan. Melengkapi diskusi, Prof. Fons Verbeek mendemonstrasikan bagaimana teknologi bio-imaging dan kecerdasan buatan (AI) dari Leiden University dapat mempercepat proses identifikasi dan analisis data spesimen secara presisi.

Ganjar cahyadi, S.Si (Kurator Museum Zoologi, SITH ITB), Dr. Dian Rosleine (Wakil Dekan Sumberdaya SITH ITB), Arifin Surya Dwipa Irsyam, M.Si (Kurator Herbarium Bandungense, SITH ITB) dan Dr. Angga Dwiartama (Wakil Kepala Badan Bidang Rencana Strategis dan Analisis Kebijakan ITB) (kiri ke kanan) sebagai perwakilan SITH ITB menghadiri Konferensi WINNER 2025 (Dok. Ganjar Cahyadi, SITH)
Partisipasi SITH ITB dalam forum ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga penguatan kolaborasi. Ke depan, SITH ITB bersama Leiden University, Hortus Botanicus Leiden, BRIN, dan Flora Fauna Indonesia tengah membangun rencana untuk menjadikan museum dan herbarium dapat diakses lebih luas oleh masyarakat. Langkah strategis ini bertujuan untuk mendukung pendidikan berkelanjutan guna membangun kesadaran bersama akan pentingnya keanekaragaman hayati dan upaya konservasinya.
Reporter: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)
Editor: AKH