Smart Remediation, Strategi Efektif Pemulihan Lahan Terkontaminasi di ICE Masterclass ITB
Bandung, sith.itb.ac.id – Pakar dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Dr. Sri Harjati Suhardi, membagikan ilmu mengenai pemulihan lingkungan melalui program ICE Masterclass ITB. Dalam sesi pembelajaran yang dapat diakses pada 15-21 Desember 2025, beliau membawakan topik bertema “Smart Remediation: Strategi Memilih Teknologi yang Tepat untuk Pemulihan Lahan Terkontaminasi.”

Program ICE Masterclass sendiri merupakan inisiatif pelatihan dari para dosen ahli ITB yang dapat diakses oleh masyarakat luas secara gratis. Selain berkesempatan belajar langsung dari akademisi ITB, peserta juga mendapatkan fasilitas e-sertifikat sebagai apresiasi atas partisipasi mereka.
Menjawab Tantangan Pencemaran Lingkungan di Sektor Industri
Dalam pemaparannya, Dr. Sri menyoroti permasalahan klasik dalam proyek pemulihan lahan (remediasi) yang sering kali mengalami pembengkakan biaya (over budget) dan molor dari jadwal yang direncanakan. Masalah ini dipicu oleh kompleksitas limbah yang dihasilkan oleh industri besar seperti pertambangan, minyak dan gas (migas), serta fasilitas kesehatan yang menghasilkan kontaminan berupa hidrokarbon, logam berat, hingga limbah medis.

“Begitu limbah ini berkontak dengan tanah dan air, permasalahan menjadi sangat kompleks karena menyangkut air tanah yang juga digunakan oleh masyarakat,” ujar Dr. Sri. Beliau menambahkan bahwa selain dampak lingkungan, ketatnya regulasi pemerintah menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan dalam menjaga reputasi dan keberlanjutan operasionalnya.
Memilih Teknologi Berdasarkan Data dan Risiko
Menurut Dr. Sri, pemilihan teknologi remediasi memerlukan ketelitian dan tidak dapat dilakukan hanya dengan meniru pendekatan pihak lain. Terdapat ratusan variasi teknologi yang secara garis besar terbagi menjadi dua metode utama:
- In situ: Pengolahan langsung di lokasi tanpa memindahkan tanah, sehingga meminimalkan gangguan pada permukaan lahan.
- Ex situ: Pengangkatan tanah tercemar untuk diolah di area khusus demi kontrol kualitas yang lebih presisi.
Beliau juga memperingatkan adanya kesalahan fatal yang sering terjadi, seperti pengabaian karakteristik geologi tanah. Oleh karena itu, sebagai solusi, beliau memperkenalkan pendekatan Smart Remediation, yang mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital, seperti Internet of Things (IoT) dan sensor, untuk memastikan keakuratan data sebelum eksekusi lapangan dilakukan.
Strategi SMART: Empat Pilar Menuju Pemulihan Efektif
Untuk mengatasi potensi kegagalan proyek, Dr. Sri memperkenalkan kerangka kerja Smart Remediation yang terdiri dari empat pilar utama:
- CSM (Conceptual Site Model): Membuat model pemetaan sumber pencemar, jalur paparan, dan penerima dampak secara berkala.
- RBA (Risk-Based Approach): Menentukan target kebersihan lahan berdasarkan rencana penggunaan lahan di masa depan agar biaya lebih efisien.
- GSR (Green and Sustainable Remediation): Memilih teknologi yang hemat energi dan minim emisi karbon.
- LCA (Life Cycle Economic Analysis): Melakukan analisis biaya operasional jangka panjang untuk mendapatkan solusi yang paling hemat secara menyeluruh.
Sinergi Pakar Multidisiplin untuk Pemulihan Lingkungan
Di akhir sesi, Dr. Sri Harjati Suhardi memperkenalkan tim instruktur berpengalaman yang terdiri dari pakar multidisiplin, seperti Prof. Dr. Ir. Agus Jatnika Effendi (Teknik Lingkungan), Prof. Dr. Ir. Edwan Kardena (Teknik Lingkungan), serta Prof. Dr. Ir. Dedi Kurniadi (Fisika Teknik). Sinergi para ahli ini bertujuan untuk memberikan panduan komprehensif, mulai dari pemodelan kontaminan tingkat lanjut hingga strategi menyikapi regulasi yang dinamis di Indonesia.

Dr. Sri bersama tim ahli ITB mengajak para praktisi dan pemerhati lingkungan untuk beralih dari pendekatan konvensional yang mahal dan tidak efisien. Setelah mengikuti program pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu memahami strategi pemilihan teknologi yang akurat, yang tidak hanya mampu menghemat biaya proyek hingga 30-50 persen, tetapi juga memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi demi masa depan bumi yang berkelanjutan.
Reporter: Aura Salsabila Alviona (Bioteknologi, 2025)
Editor: Rika Wahyuningtyassmart