Tim Ekspedisi Patriot SITH ITB Rancang Pengembangan Komoditas Unggulan di Kawasan Transmigrasi Prafi, Manokwari
Bandung, sith.itb.ac.id – Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Rijanti Rahaju Maulani, S.P., M.Si., yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot 02 Lokus Prafi, melaporkan hasil kajian mengenai “Desain Pengembangan Komoditas Unggulan di Wilayah Spesifik Kawasan Transmigrasi (KT) Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat”. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ekspedisi Patriot, yang merupakan program startegis dari Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Kajian ini menyoroti potensi wilayah serta tantangan struktural yang dihadapi KT Prafi dalam upayanya menjadi basis pembangunan agribisnis berkelanjutan.
Berdasarkan hasil analisis wilayah, KT Prafi dinilai memiliki karakteristik strategis dibandingkan kawasan transmigrasi lainnya. Dr. Rijanti menjelaskan bahwa kawasan ini memiliki tingkat kesesuaian lahan yang tinggi dengan topografi datar yang luas, sehingga sangat potensial untuk pengembangan komoditas unggulan, khususnya padi dan kelapa sawit.

Tim Ekspedisi Patriot 02 ITB Lokus Prafi bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat KT Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat
“Saat ini, KT Prafi merupakan lumbung beras bagi masyarakat Kabupaten Manokwari. Karena itu, intensifikasi usahatani padi sawah perlu diimplementasikan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi,” ujar Dr. Rijanti. Selain padi, komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan terung juga menjadi penopang ekonomi bagi 7.383 Kepala Keluarga (KK) transmigran di wilayah tersebut.
Meskipun memiliki potensi lahan kelapa sawit hingga ±22.000 hektare sesuai perencanaan pemerintah daerah, hasil kajian menunjukkan bahwa luasan lahan yang produktif saat ini masih terbatas. Pengembangan kelapa sawit di KT Prafi masih menghadapi tantangan struktural, khususnya terkait belum terintegrasinya sistem produksi, pengolahan, hingga pemasaran.
“Belum adanya pabrik pengolah CPO (Crude Palm Oil) yang dapat menyerap seluruh produk TBS (Tandan Buah Segar) dari petani menyebabkan minat petani untuk mengelola sawit semakin menurun. Kondisi ini sekaligus menunjukkan adanya peluang besar bagi pengembangan industri pengolahan sawit di KT Prafi,” jelas Dr. Rijanti.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim ekspedisi melakukan pendekatan komprehensif berbasis analisis kewilayahan dan rantai nilai, untuk memahami potensi ekonomi komoditas unggulan sekaligus mengidentifikasi titik-titik kebocoran nilai dari hulu hingga hilir dalam rantai produksi hingga pemasaran.

Tim Ekspedisi Patriot 02 ITB Lokus Prafi yang diketuai oleh Dr. Ir. Rijanti Rahayu bersama Pemda Kab. Manokwari
Hasil kajian kemudian dirumuskan ke dalam strategi pengembangan bertahap, meliputi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Rekomendasi mencakup penguatan budidaya dan peningkatan produktivitas petani, pengembangan pengolahan hasil, penguatan kemitraan pasar yang adil, serta pembangunan ekosistem agribisnis terpadu yang ditopang oleh riset, pendidikan vokasi pertanian, investasi berkelanjutan, dan konektivitas logistik.
Salah satu rekomendasi strategis yang disoroti adalah penguatan kelembagaan ekonomi petani, antara lain melalui pengembangan koperasi pengolah sawit lokal seperti Koperasi Arfak Sejahtera, agar mampu mengelola lahan sawit swadaya secara lebih produktif dengan dukungan akses pendanaan dan fasilitas pengolahan. Selain itu, kajian juga mendorong pengembangan kelapa hibrida serta industri pengolahan kopra yang memiliki peluang pasar ekspor, termasuk ke Kanada.
Lebih lanjut, hasil kajian menunjukkan bahwa nilai ekonomi komoditas unggulan di KT Prafi tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur, efisiensi distribusi, akses informasi harga, serta hubungan petani dengan pelaku pasar.
Oleh karena itu, strategi pengembangan lainnya difokuskan pada peningkatan kapasitas petani, perbaikan sistem distribusi pupuk, serta pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan usaha tani dan jaringan irigasi untuk memperkuat akses pasar dan distribusi hasil pertanian.

Dr. Rijanti bersama TEP 02 Lokus Prafi yang beranggotakan Gabriel Toen Toen Sahat, S.T., M.Si., Bisma Bahana, S.T., Audy Firdausa, S.T., dan Faisal Fathurrahman, S.T., saat pelepasan Tim Ekspedisi Patriot ITB.
Melalui keterlibatannya dalam Tim Ekspedisi Patriot, Dr. Rijanti menekankan pentingnya keberlanjutan implementasi hasil kajian agar riset yang dilakukan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat setempat.
“Harapannya, kegiatan Tim Ekspedisi Patriot ini dapat berlanjut untuk mengimplementasikan hasil kajian yang telah dilakukan. Dengan potensi yang dimiliki, KT Prafi juga terbuka untuk menjadi lokasi penelitian dan pengabdian masyarakat bagi dosen dan mahasiswa ITB,” tutur Dr. Rijanti.
Menurut Dr. Rijanti, Ekspedisi Patriot menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun model pembangunan kawasan transmigrasi yang berkelanjutan. Model ini diharapkan mampu menjembatani riset akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)
Editor: I Dewa M. Kresna