Enter your keyword

Tim Ekspedisi Patriot SITH ITB Petakan Potensi Hilirisasi Kelapa di Kawasan Transmigrasi Sapalewa, Maluku Tengah

Tim Ekspedisi Patriot SITH ITB Petakan Potensi Hilirisasi Kelapa di Kawasan Transmigrasi Sapalewa, Maluku Tengah

Sapalewa, sith.itb.ac.id – Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Ir. Asep Hidayat, M.P., yang memimpin Tim Ekspedisi Patriot di Kawasan Transmigrasi (KT) Sapalewa, melaporkan hasil kajian mengenai “Potensi dan Arah Pengembangan Komoditas Unggulan Kelapa (Cocos nucifera) untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat di Kawasan Transmigrasi Sapalewa, Kabupaten Maluku Tengah”. Kajian ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Ekspedisi Patriot, sebuah program strategis kolaborasi lintas sektor yang diinisiasi oleh Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia. Bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan kawasan serta merumuskan strategi hilirisasi sebagai dasar perencanaan investasi di wilayah tersebut.

KT Sapalewa dinilai memiliki fondasi kuat untuk pengembangan produksi dan hilirisasi pertanian berkelanjutan. Dengan luas wilayah ±17.824 hektare dan dukungan agroklimat tropis basah, kawasan ini sangat potensial untuk pengembangan komoditas perkebunan.

Berdasarkan hasil analisis wilayah menggunakan Indeks Kontribusi Sektoral (IKS), kelapa teridentifikasi sebagai komoditas unggulan utama dengan luasan lahan mencapai 5.845,50 hektare. Sektor ini menjadi tumpuan bagi 4.076 Kepala Keluarga (KK) petani di wilayah tersebut.

Dr. Asep bersama Tim Ekspedisi Patriot melakukan diskusi bersama masyarakat setempat di Kawasan Transmigrasi Sapalewa, Maluku Tengah

Meskipun produksi kelapa di kawasan ini relatif tinggi, hasil kajian menunjukkan bahwa nilai ekonomi yang dinikmati masyarakat masih terbatas. Sebagian besar pengelolaan kelapa saat ini masih didominasi produksi kopra dengan rantai pasok sederhana dan ketergantungan pada tengkulak. Namun, kondisi ini justru membuka peluang strategis untuk peningkatan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan seperti Virgin Coconut Oil (VCO). Untuk menjawab tantangan tersebut, tim ekspedisi menggunakan pendekatan partisipatif berbasis wilayah yang melibatkan masyarakat. 

Ketua tim kajian, Dr. Ir. Asep Hidayat, M.P., menyampaikan bahwa keterlibatan dalam Ekspedisi Patriot memberikan pengalaman yang berkesan sekaligus membuka mata terhadap kondisi nyata masyarakat transmigrasi di Sapalewa.

Tim Ekspedisi Patriot melakukan survei lapangan dan diskusi bersama masyarakat setempat di Kawasan Transmigrasi Sapalewa, Maluku Tengah.

“Sangat berkesan melihat kegigihan dan kesabaran para transmigran dengan kondisi yang serba kekurangan, terutama karena persoalan lahan yang masih bersengketa. Kami berharap kondisi ini segera mendapat perhatian dan penanganan yang lebih tepat dan serius, sehingga masyarakat dapat menggarap lahannya untuk menghasilkan komoditas unggulan baru yang mendukung komoditas kelapa yang sudah ada, sekaligus mengembangkan perekonomian kawasan Sapalewa,” ungkap Dr. Asep.

Hasil kajian kemudian ditetapkan ke dalam strategi pengembangan yang terintegrasi dengan konsep Green Economy dan Circular Economy. Rekomendasi utama difokuskan pada pembangunan industri pengolahan kelapa berbasis Zero Waste, di mana selain VCO, limbah produksi juga dimanfaatkan untuk produk bernilai ekonomi lainnya.

Selain kelapa, kajian ini juga mengidentifikasi buah naga di SP 1 Desa Persiapan Wai Mapin sebagai komoditas strategis pendukung yang potensial untuk dikembangkan.

Focus Group Discussion (FGD) antara Tim Ekspedisi Patriot ITB dengan pemerintah daerah Sapalewa untuk memetakan potensi komoditas unggulan.

Terkait implementasi hasil kajian, Dr. Asep menekankan pentingnya dukungan dan sinergi antar pemangku kepentingan.

“Kami berharap Kementerian Transmigrasi dapat memastikan wilayah transmigrasi yang ditetapkan bebas dari sengketa lahan. Selain itu, Kementerian Pertanian dan Perkebunan diharapkan mendukung pengembangan komoditas unggulan di setiap kawasan transmigrasi, serta pihak-pihak terkait termasuk para investor dapat saling memfasilitasi dan bersinergi dalam pengembangan kawasan transmigrasi,” ujar Dr. Asep.

Lebih lanjut Dr. Asep juga menyoroti pentingnya pendampingan berkelanjutan terhadap komoditas kelapa yang telah berkembang di Sapalewa.

“Mulai tahun 2026, komoditas kelapa yang sudah ada perlu didukung dengan program peremajaan yang mencakup penyediaan benih, budidaya, pemeliharaan, panen, hingga pascapanen, serta didukung sarana dan prasarana yang memadai sesuai kebutuhan lapangan,” tutupnya.

Tim Ekspedisi Patriot ITB KT Sapalewa bersama Rektor ITB dan Kepala Daerah.

Melalui keterlibatan SITH ITB dalam Ekspedisi Patriot, hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi landasan penyusunan peta jalan hilirisasi komoditas, perencanaan investasi, serta perumusan program terpadu oleh kementerian, pemerintah daerah, dan mitra strategis. Pendekatan berbasis potensi lokal dan partisipasi masyarakat ini diharapkan mampu mendorong Kawasan Transmigrasi Sapalewa berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang produktif, inklusif, dan berdaya saing.

Kontributor: Salma Sadiah (Bioteknologi, 2024)

Editor: AKH

 

X