Forestshare 3 Himpunan Mahasiswa Kehutanan SELVA ITB

Ditulis oleh: Reksa Manggala dan Wiwit Astari (Mahasiswa Rekayasa Kehutanan SITH ITB)

Jatinangor, sith.itb.ac.id – Setelah sukses dengan Forestshare 1 dan Forestshare 2, Himpunan Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ‘Selva’ ITB akhirnya berhasil menyelenggarakan event serupa, yakni Forestshare 3 pada tanggal 16 Februari 2019 yang bertempat di Gedung Kuliah Umum 2, Kampus ITB Jatinangor, Sumedang. Seminar Nasional Forestshare 3 kali ini mengangkat tema Forest for National Food Security”.

Dekan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha secara resmi membuka kegiatan seminar nasional Forestshare 3

Seminar Nasional Foresthsare 3 diisi oleh para pembicara andal dan berasal dari berbagai latar belakang seperti sektor pemerintahan, akademisi, BUMN, NGO, dan praktisi. Kegiatan seminar diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Mars Rimbawan oleh seluruh peserta seminar. Kemudian dipaparkan sambutan oleh Reksa Manggala (Ketua Pelaksana Forestshare 3), Wilterza Nababan (Ketua HMH ‘Selva’ ITB), dan Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha (Dekan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) sekaligus membuka secara resmi kegiatan Seminar Nasional Forestshare 3 yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.

Pemaparan Seminar Sesi 1

Seminar dibagi kedalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat topik mengenai Kebijakan Sektor Kehutanan dalam Membantu Mewujudkan Ketahanan Pangan. Seminar sesi pertama ini dimoderatori oleh Dr. Hikmat Ramdan dan diisi oleh tiga orang pembicara, yakni Dr. Bambang Supriyanto, M.Sc (Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia), Ir. Epi Kustiawan, M.P (Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat) dan Dr. H. Henry Purnomo, S.Hut., MM (Kepala Departemen Pengelolaan dan Perlindungan Sumber Daya Hutan, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten).

Ketiga pembicara mengupas tuntas kebijakan sektor kehutanan dalam pengelolaan sumber pangan hutan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam memanfaatkan kawasasn hutan. Selain itu, pemerintah juga sudah melakukan usaha untuk menyelaraskan hutan dan masyarakat dengan adanya program perhutanan sosial dimana masyarakat diberikan akses untuk memanfaatkan hutan dan mengelola hutan. Selain itu, pemerintah juga memberikan pendampingan sehingga masyarakat dapat mengerti fungsi hutan, tata cara pengelolaan hutan dan pemanfaatan hutan secara lestari. Masyarakat diperkenalkan dengan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu untuk diolah dalam skala industri rumah tangga. Sehingga, perekonomian masyarakat dapat terbantu dan meningkat. Masyarakat juga dianjurkan untuk menerapkan agroforestry, guna meningkatkan produktivitas tanaman dibawah tegakan seperti tanaman pangan. Maka dari itu, program pendampingan perhutanan sosial yang diselenggarakan pemerintah diharapkan dapat membuat masyarakat lebih sejahtera dan dapat meningkatkan ketahan pangan di Indonesia.

Peserta Seminar Berfoto bersama Pembicara Seminar Sesi 1

Setalah sesi pertama berakhir para peserta seminar dipersilahkan istirahat dan menikmati pameran dari HMH ‘Selva’ ITB yang berkolaborasi dengan VASA ITB mengenai keadaan hutan di Indonesia yang di tuangkan dalam bentuk karya seni yang dibagi kedalam 3 bidang yaitu bidang ekologi, perhutanan sosial dan mikrobiologi kehutanan.

Suasana Ruang Pameran Kolaborasi HMH ‘Selva’ ITB dan VASA ITB

Sesi kedua dari seminar Forestshare 3 dimoderatori oleh Dr. Ichsan Suwandhi dan juga diisi oleh tiga orang pembicara, yakni Mulia Nurhasan, M.Sc., B.Sc (Nutrion Researcher Sustainable Lnadscape and Food Sysytem, CIFOR), Rita Mustikasari dan Yusup Marguantara (Martani Organik) dan Nathasi Fadhin (KeMANGTEER Jakarta) dengan  topik seminar bentuk praktis pemanfaatan hutan sebagai sumber pangan. Bahasan dari ketiga pembicara mengulas bagaimana cara menciptakan sumber pangan yang sehat bagi masyarakat Indonesia dari dalam kawasan hutan. Kebanyakan masyarakat belum memahami fungsi dari kawasan hutan misalnya seperti fungsi lindung dimana masyarakat tidak diperbolehkan mengambil hasil hutan berupa kayu namun boleh memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Sehingga, diperlukan pemahaman , sosialisai serta pendampingan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan karena  sebenarnya hal tersebut menjadi peluang dimana masyarakat dapat mendapatkan bahan pangan dari hutan berupa hasil hutan bukan kayu. Selain itu, pembicara dari Martani Organik yakni Ibu Rita Mustikasari dan Bapak Yusup Marguantara mengenalkan beberapa produk yang dapat diolah dari hasil hutan salah satunya kue kering berupa cookies dari daun kelor, bu Rita dan pak Yusup menjelaskan banyak sekali hasil hutan bukan kayu yang dapat dijadikan bahan pangan dengan usaha mencoba dan eksplorasi semua jenis tumbuhan yang berada di bawah tegakan dapat dijadikan sumber pangan.

Selain itu, Martani Organik pun memberikan workshop pembuatan kue dan latte yang berbahan dasar dari hasil hutan bukan kayu pada esok harinya yakni tanggal 17 Februari 2018 yang diikuti oleh masa HMH ‘Selva’ ITB.

Pemberian Plakat Kepada Moderator dan Pembicara Seminar Sesi 2

Kegiatan Workshop Bersama Ibu Rita dan Pak Yusup dari Martani Organik (foto: Nur Faiz R)

Acara Forestshare 3 diharapkan dapat menyadarkan masyarakat Indonesia khususnya kita sebagai mahasiswa Rekayasa Kehutanan agar dapat memanfaatkan hasil hutan secara lestari demi ketahanan pangan Indonesia yang sehat dan berkelanjutan. “Leuweung hejo, rakyat ngejo” begitulah sebuah istilah dalam bahasa Sunda yang memiliki makna jika hutan kita hijau, maka rakyat bisa makan, secara lebih luas bermakna jika hutan kita lestari, maka rakyat bisa hidup sejahtera. Jaya selalu dunia kehutanan Indonesia!

Berita Terkait

IndonesiaEnglish