Kuliah tamu: Professor Tim Hirst

[super-slideshow dir=”dir1″]

BANDUNG, sith.itb.ac.id – Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) kembali menyelenggarakan kuliah tamu pada hari Jumat (26/4/2013), di Ruang Serba Guna Perpustakaan Pusat ITB. Kali ini, topik yang disajikan adalah “Reflections on Life as a Life Scientist: From basic discoveries to commercial applications”, dan disampaikan oleh seorang ilmuwan biomedik berkebangsaan Australia, Professor Tim Hirst.

Perjalanan karir Prof. Hirst diawali dengan ketertarikannya pada biokimia, terutama pada jalur sintesis dan transportasi protein pada sel. Selama sekitar 20 tahun, Prof. Hirst (http://www.biomedexperts.com/Profile.bme/568220/Timothy_R_Hirst) bergelut di laboratorium untuk melakukan penelitian dalam bidang toksikologi, imunologi, mikrobiologi, dan biologi sel dan molekuler, sampai akhirnya tiba pada titik di mana beliau berkewajiban untuk memastikan hasil-hasil penelitiannya dapat sampai ke tangan masyarakat, tidak hanya dalam bentuk ilmu (pengajaran), tetapi juga dalam bentuk produk komersil. Bagi beliau, dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi saat menghasilkan penemuan baru dan menciptakan sesuatu, mengubah suatu penemuan menjadi produk nyata ternyata jauh lebih sulit, karena memerlukan keterampilan yang sangat berbeda. Jika saat berkutat di laboratorium, yang harus ditaklukkan “hanya” berkaitan dengan metodologi penelitian, saat mengkomersilkan suatu produk, yang harus dirangkul adalah orang-orang yang memiliki visi yang sama.

Banyak tips berharga yang diberikan oleh beliau kepada para mahasiswa, mulai dari bagaimana caranya mendapatkan suatu penemuan baru, bagaimana berpikir kritis bahkan terhadap sesuatu yang sudah dianggap dogma, how to go beyond knowledge, to know what is not known, and find out how to learn more. Bagaimana menyikapi suatu hasil penelitian yang tak terduga. Selanjutnya, bagaimana menciptakan sesuatu yang berguna dari suatu pengetahuan baru, hingga bagaimana merangkul para investor dan orang lain untuk bekerjasama dalam satu tim demi menghasilkan suatu produk yang dapat digunakan oleh masyarakat, termasuk bagaimana pola pikir kritis itu juga tetap harus digunakan saat mendesain suatu produk. Tidak hanya menceritakan pengalaman manis saat usaha keras tim mendapatkan hasil gemilang (“Eureka!”), Prof. Hirst juga membuka pengalaman-pengalaman pahitnya saat mengalami masa-masa sulit.

Ketekunan, daya juang yang tinggi, dan keberanian untuk selalu bangkit kembali adalah modal yang sangat penting untuk dapat menghasilkan suatu produk inovatif yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Jangan lupakan utang budi kita kepada para penyedia dana pendidikan dan penelitian, yaitu masyarakat. Jangan sampai hasil belajar kita hanya parkir di rak perpustakaan.

Selamat berkarya!

Sumber: Istiana Ilma

Berita Terkait

IndonesiaEnglish