Ekspedisi Bukit Barisan Tahun 2011: Paparan Tim Flora Fauna SITH-ITB

Seperti telah diberitakan pada berbagai media massa, TNI AD, diprakarsai oleh KOPASSUS, saat ini tengah melaksanakan Ekspedisi Bukit Barisan. Ketujuh gunung di Pegunungan Bukit Barisan yang menjadi tujuan utama ekspedisi ini adalah G. Leuser (NAD), G. Sinabung (Sumut), G. Singgalang (Sumbar), G. Kerinci (Jambi), G. Seblat (Bengkulu), G. Dempo (Sumsel), dan G. Tanggamus (Lampung). Rangkaian kegiatan ekspedisi ini sudah berlangsung sejak Januari 2011 dan akan berakhir pada bulan Agustus 2011. SITH-ITB telah berpartisipasi dalam kegiatan tersebut sebagai tim ahli untuk eksplorasi flora fauna. Di lapangan, Tim Flora Fauna dibantu oleh anggota KOPASSUS, KOSTRAD, dan KOREM setempat serta perwakilan dari universitas daerah seperti Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Muhamadiyah Palembang, serta LSM, seperti ZSL.

Pada tanggal 18 Mei 2011 yang lalu, Tim Flora Fauna SITH-ITB telah memaparkan hasil sementara ekspedisi ini, di Ruang Seminar SITH, Lt 3, Labtek XI. Acara ini terbuka untuk umum dan dihadiri oleh Dekan dan beberapa dosen SITH, mahasiswa serta alumni SITH. Acara yang berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam dibuka oleh Dekan SITH ITB, Prof. Tati S. Subahar yang dilanjutkan dengan paparan singkat mengenai ekspedisi oleh Lettu Infanteri Gerry Heikal Cholid dari KOPASSUS serta paparan Tim Flora Fauna SITH-ITB.

Dalam sambutannya, Dekan SITH –ITB menyatakan rasa senang dan bangga serta dukungan terhadap kegiatan ekspedisi ini. Diharapkan hasil Ekspedisi Bukit Barisan ini tidak hanya berakhir sebagai laporan saja, tetapi juga dapat dipublikasikan secara internasional sehingga dapat diperoleh informasi terbaru mengenai Indonesia, khususnya mengenai keanekaragaman hayati di Bukit Barisan. Dekan SITH mengharapkan kerjasama dengan KOPASSUS yang sudah terjalin baik dapat terus dilanjutkan pada masa yang akan datang. Lettu Gerry sebagai Koordinator Tim Flora Fauna, memberi gambaran tentang Ekspedisi Bukit Barisan yang terdiri atas kegiatan penjelajahan dan penelitian yang meliputi penelitian flora fauna, geologi, mitigasi bencana, kehutanan, dan sosial budaya. Tujuan ekspedisi ini selain untuk menggali potensi-potensi yang ada di Indonesia, khususnya Bukit Barisan, juga untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Hasil ekspedisi akan diwujudkan sebagai buku yang akan diserahkan kepada Presiden RI pada tanggal 17 Agustus 2011. Buku ini diharapkan menjadi buku pioner yang mengungkap potensi daerah-daerah di Indonesia serta dapat menjadi acuan dalam pengelolaan wilayah di tanah air. Harapan lain, buku ini akan memacu terbitnya buku-buku sejenis, sehingga potensi wilayah Indonesia dapat terpetakan dan diinformasikan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Pada paparan hasil ekspedisi, Tim Flora Fauna SITH-ITB mengungkapkan penemuan pada setiap gunung, baik penemuan spesies langka, terancam punah, endemik maupun penemuan lainnya. Salah satu penemuan yang menarik adalah ditemukannya fasa vegetatif bunga bangkai (Amorphophallus spp) di ketujuh kawasan pegunungan Bukit Barisan yang disurvey. Bahkan, fase vegetatif Amorphophallus titanium, yang merupakan kelompok talas-talasan dengan perbungaan terbesar di dunia, ditemukan di Gunung Tanggamus dan G. Leuseur sedangkan fasa generatif Amorphophallus jenis raksasa lain, yang diperkirakan dari jenis gigas terdapat di Gunung Seblat. Fasa vegetatif spesies Amorphophallus lain juga ditemukan di sepanjang jalur pendakian gunung Kerinci dan hanya 2 individu yang memiliki fasa generatif. Selain itu di kawasan Seblat ditemukan juga Rafflesia arnoldi yang merupakan bunga parasit terbesar di dunia. Anggrek dari berbagai spesies, selalu ditemukan pada setiap gunung, sedangkan Nephentes, Rhododendron, Vaccinium dan Arisaema hanya ditemukan di beberapa gunung yang mempunyai ketinggian diatas 2500 m dpl, seperti Gunung Dempo dan Kerinci. Kehadiran mamalia besar seperti Panthera tigris, Helarctos malayanus, Catopuma teminckii dan Mydaeus javanensis ditandai dengan ditemukannya jejak kaki, feses, maupun bekas cakaran hewan tersebut pada beberapa gunung. Cochoa beccarii, spesies burung endemik di Singgalang yang hampir 30 tahun tidak pernah lagi terlihat, dalam ekspedisi ini berhasil ditemukan selain juga burung-burung endemik lainnya seperti Apalharpactes reinwardtii, Dinopium rafflesii, dan Bucheros rhinocheros. Spesies amfibi dan reptil endemik yang ditemukan selama ekspedisi adalah Rhacophorus acantharena, Meristogenys crassiovis, Megophrys paralela, Dendragama boulengeri, Oreocryptophis porphyracea, dan Trimeresurus andalasensis. Selain itu terdapat pula beberapa spesies amfibi yang diperkirakan spesies baru, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Permasalahan yang dihadapi pada hampir setiap gunung adalah perambahan hutan menjadi ladang atau kebun oleh masyarakat sekitar dan illegal logging. Selain itu, tidak jelasnya batas hutan dengan kebun milik masyarakat dan perburuan liar serta perdagangan tumbuhan dan hewan, terutama yang statusnya dilindungi juga menjadi salah satu permasalahan yang harus dicari jalan keluarnya (sumber alea, ed. RR).

Berita Terkait

IndonesiaEnglish