In Memorium Jehuda Christ Wahyu (1997 – 2019)

 

Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (ITB), terkhusus Program Studi Sarjana Rekayasa Kehutanan baru saja kehilangan salah satu lulusan baru terbaiknya, Jehuda Christ Wahyu. Jehuda yang masuk ITB pada tahun 2015, meninggal dunia di usia muda pada tanggal 24 Novermber 2019, hanya sekitar dua bulan setelah menuntaskan pendidikannya di Prodi Sarjana Rekayasa Kehutanan.

Bukan hanya keluarga dan kerabat, tapi teman teman kuliah, teman teman sesama aktivis di himpunan mahasiswa, rekan satu tim tugas akhir, dosen pembimbing tugas akhir, serta dosen pengajar lainnya merasakan keterkejutan yang sama. Semua menyaksikan ketetapan Yang Maha Kuasa bahwa Jehuda harus pergi mendahului.

 

Banyak hal indah dan positif tentang Jehuda yang selalu bisa dikenang, dan bahkan bisa dijadikan pelajaran. Di mata rekan satu tim tugas akhir, Jehuda adalah sosok yang ramah, bersemangat, humoris dan peduli terhadap sesama. Jehuda juga merupakan seorang sahabat yang teguh pendirian, tidak pernah mengeluh dan selalu memprioritaskan kepentingan tim dibandingkan kepentingan pribadinya. Ia adalah sosok yang mudah bergaul, supel walaupun terkadang malu-malu dan selalu memberikan dukungan juga perhatian.

Dosen pembimbing tugas akhir juga melihat Jehuda sebagai pribadi yang berkomitmen tinggi dalam penyelesaian tugas akhirnya. Jehuda memiliki kemampuan leadership yang baik, serta mampu bekerjasama dalam sebuah tim secara efektif. Tahapan demi tahapan pengerjaan tugas akhir mampu dilewati dengan baik, yang pada akhirnya tertuntaskan sesuai dengan target yang telah dicanangkan.

Satu hal yang mungkin teman teman mahasiswa dan dosennya tidak tahu, menurut penuturan orangtunya, Jehuda ternyata berkeinginan kuat untuk menjadi seorang Menteri Kehutanan, termotivasi oleh pentingnya perbaikan pengelolaan hutan Indonesia. Visi kehidupannya ini tertanam sejak di bangku SLTA, dan dimulai tahapan realisasinya dengan mengambil kuliah di Prodi Rekayasa Kehutanan ITB. Pilihan yang sangat tepat. Jehuda menunjukkan keseriusan dan konsistensinya dalam melewati setiap tahapan perkuliahan, dan pada akhirnya mampu menyelesaikan studinya tepat waktu (empat tahun) dengan predikat Sangat Memuaskan.

Semua mengetahui, bahwa di penghujung hayatnya ternyata Jehuda harus menghadapi kendala kesehatan yang tidak ringan. Tekad dan semangat nya yang tinggi bahkan menutupi kondisi gangguan fisiknya. Pendirian Jehuda yang teguh dan mandiri juga tidak mau menyusahkan orang lain akan kendala kesehatan yang dia hadapi. Sebuah pelajaran penting yang bisa dipetik oleh para mahasiswa, Jehuda telah membuktikan bahwa semangat dan komitmen pada sebuah obsesi ternyata mampu menjadi pendorong yang luar biasa untuk menuntaskan sebuah misi, meskipun berbagai kendala harus dihadapi. Jehuda sepertinya tahu persis bahwa menyelesaikan studi bukan hanya masalah pencapaian diri, terlebih dari itu juga menyangkut harapan dan kebahagiaan orangtua. Jehuda telah memulai studinya dengan penuh harapan dan kebahagiaan, dan mampu menyelesaikannya dengan penuh kebanggaan.

Selamat jalan Jehuda, semangat dan kesabaranmu sangat menginspirasi……

Berita Terkait

IndonesiaEnglish