Incar Inspirasi, Mahasiswa Rekayasa Hayati Kunjungi Industri Atsiri

Penulis : Levana Bernadetta (Mahasiswa Rekayasa Hayati Angkatan 2016)

SUBANG, SITH.ITB.AC.ID – Parfum, minyak angin, dan sabun merupakan beberapa contoh produk sehari-hari yang salah satu bahan bakunya adalah metabolit tumbuhan yaitu minyak atsiri. Variasi minyak atsiri pun beragam berdasarkan tumbuhan penghasil seperti minyak dari daun nilam dan minyak dari batang kayu manis. Menemukan kelompok tumbuhan penghasil minyak atsiri di berbagai wilayah di Indonesia terbilang mudah sehingga mendukung lahirnya berbagai industri berbahan baku minyak atsiri. Adapun industri-industri tersebut meliputi industri makanan, minuman, wewangian, farmasi, insektisida, dan toiletries. Selain itu, minyak atsiri pun dapat dimanfaatkan sebagai aromaterapi, seperti minyak gosok dan dupa. Dalam rangka mengenal lebih dalam mengenai pengolahan minyak atsiri, sebanyak 33 mahasiswa angkatan 2014-2016 dan seorang alumni dari Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) ITB bersama dengan Dr Hikmat Ramdan selaku pembimbing kemahasiswaan berkesempatan melakukan kunjungan pabrik ke CV. Pavettia Kurnia Atsiri yang berlokasi di Jalan Curug Cijalu, Subang, Jawa Barat, Indonesia, pada tanggal 11 Januari 2018 lalu.

Dian Adhy Feryanto mendirikan CV. Pavettia Kurnia Atsiri sebagai salah satu industri menengah yang bergerak di bidang minyak atsiri. Kegiatan perusahaan tersebut meliputi penyulingan untuk memperoleh minyak atsiri, perkebunan tumbuhan penghasil minyak atsiri, pembuatan alat penyulingan, dan penyewaan alat. Aroma yang dikeluarkan tumbuhan merupakan hasil metabolisme yang tergolong senyawa terpenoid. Bagian tanaman yang mengeluarkan aroma disuling dengan proses distilasi untuk memperoleh minyak atsiri. Sebagian produk perusahaan dijual ke masyarakat umum secara online dengan dua varian volume yaitu 5 mL dan 10 mL, namun ada pula yang dijual ke perusahan lain sebagai bahan baku pewangi. Tidak hanya dalam bentuk minyak atsiri, perusahaan yang dipimpin alumni ITB tersebut menjual produk olahan di bidang kecantikan. Harga produk yang ditawarkan sungguh variatif dan dapat mencapai nominal yang sangat tinggi bila diolah menjadi bentuk essential oil berkemurnian tinggi.

Pemaparan mulai dari pengertian dan jenis minyak atsiri hingga teknologi pemrosesan dan aplikasi didapatkan selama beberapa jam berbincang dengan Pak Fery (panggilan akrab pendiri Pavettia). Tak hanya berbagi ilmu, beliau pun membagikan suka duka selama proses pembangunan perusahaan dari tiada menjadi ada dan membanggakan seperti sekarang ini. Pasca pemaparan, beliau mengajak kami berkeliling melihat berbagai alat penyulingan dan perkebunan tumbuhan wewangian. Alat-alat di perusahaan diletakkan di ruang terbuka dan sumber air untuk distilasi juga diambil langsung dari aliran sungai kecil di dekat lokasi. Dengan beralaskan tanah dan bebatuan, kami berkeliling ditemani wangi minyak atsiri yang sedang disuling. Sayang sekali, ketika matahari mulai terbenam, kami harus berpamitan. Tentu saja penutupan acara tidak akan afdol kalau tidak foto bersama yang diikuti dengan pemberian souvenir sebagai lambang terima kasih atas segala ilmu dan kesempatan yang diberikan Pak Fery dan CV. Pavettia Kurnia Atsiri. Harapannya dengan terwujudnya kunjungan pabrik ini, wawasan kami akan potensi industri minyak atsiri di Indonesia semakin meluas.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish