Kenalkan Manfaat “Black Soldier Fly” : SITH-ITB Lakukan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Sumedang

Penulis : Dr. Mia Rosmiati dan Fakhira Rifanti M.

Jatinangor, sith.itb.ac.id – SITH-ITB terus mengupayakan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan kebermanfaatan teknologi kepada masyarakat. Melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) Tahun 2019 dari Kemenristekdikti, Tim PPM yang diketuai oleh Dr. Ramadhani Eka Putra, dan Dr. Mia Rosmiati (anggota Tim PPM) serta melibatkan 5 orang mahasiswa S-1 dan dua alumni Prodi Rekayasa Pertanian (Fakhira Rifanti M. dan Rizki Arifani), melaksanakan  kegiatan PPM yang berjudul “Diseminasi Teknologi Pemanfaatan Serangga sebagai Peningkatan Produksi Pertanian, Penyedia Sumber Nutrisi, Pengolah Limbah Organik, dan Bahan Baku Industri pada Kelompok Tani Berbasis Budidaya dan Pengolahan Kopi”. Dr. Ramadhani menjelaskan bahwa PPM ini merupakan kegiatan multitahun yang dicanangkan selama 3 tahun. Di tahun pertama, kegiatan difokuskan pada teknologi pemanfaatan serangga Lalat Tentara Hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Kemudian, di tahun selanjutnya akan dikembangkan pemanfaatan lebah sebagai agen penyerbukan. Adapun output kegiatan ini ialah untuk menciptakan unit-unit usaha baru dari hasil budidaya serangga di kelompok tani sebagai sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat. Diharapkan, peningkatan pendapatan ini membuat kesejahteraan dan perekonomian desa meningkat sehingga dapat menumbuhkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).

“Tahun ini kita coba budidaya BSF dan memanfaatkan produk turunannya. Harapannya kegiatan PPM ini bisa sampai menciptakan model one village one product. Seperti yang sudah dilakukan oleh Dosen-dosen SITH sebelumnya dalam kegiatan PPM di Kecamatan Pamulihan, Sumedang mengenai pemanfaatan singkong. Sekarang, Kelompok Tani Medal Asri di Desa Sukawangi Kecamatan Pamulihan telah memiliki Sukawangi Mart (S-Mart) yang menampung dan menjual produk-produk yang dihasilkan oleh masyarakat Desa Sukawangi  seperti tepung mocaf, kripik-kripik, baso tahu, mie mocaf dan lain-lain”, ujar Ibu Mia.

Dalam mencapai tujuan tersebut, pada bulan Juni dan Juli 2019, Tim telah mulai menyelenggarakan dua rangkaian kegiatan PPM kepada beberapa kelompok tani di Sumedang.  Tim PPM, menyebutkan bahwa pertemuan ini adalah pengenalan teknologi sederhana mengenai budidaya BSF dan pemanfaatan hasil biokonversinya kepada petani agar petani familiar terhadap BSF dan dapat melihat manfaat yang dibawanya.

Sekilas Kegiatan PPM

Kegiatan PPM ke Desa Nagarawangi, 30 Juni 2019

Foto Bersama Kegiatan PPM ke Kelompok Tani Maju Mekar

Minggu (30/05/2019), Tim PPM mengunjungi Sekretariat Kelompok Tani Maju Mekar yang terletak di Desa Nagarawangi, Kec. Rancakalong, Kab. Sumedang. Kelompok Tani Maju Mekar merupakan kelompok tani yang sudah rutin dibina oleh SITH ITB. Kelompok ini diketuai oleh Bapak Sulaeman yang sudah menjalankan budidaya beserta pengolahan kopi. Acara berlangsung dari mulai jam 10.00 sampai 12.00 dan dihadiri oleh anggota Kelompok Tani Maju Mekar, perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, serta Tim PPM ITB. Pada sesi pembukaan dan sambutan, Dr. Mia Rosmiati menjelaskan bahwa kegiatan ini bermaksud memperkenalkan  manfaat besar budidaya BSF sebagai solusi dalam mengatasi limbah pertanian dan meningkatkan pendapatan petani dari produk turunannya.

Materi pertama disampaikan oleh Rizki Arifani tentang budidaya BSF yang mencangkup deskripsi singkat, siklus hidup, syarat tumbuh dan teknik budidayanya. Aldi Nurdiansyah memaparkan tentang produk-produk turunan BSF. Dijelaskan bahwa setiap siklus BSF dari mulai telur, larva, prepupa, pupa, dan lalat dewasa memiliki manfaat ekonomis.  Larva atau maggot  merupakan sumber protein yang tinggi yaitu sebesar 40% sehingga cocok digunakan sebagai pakan ternak, termasuk ayam broiler dan burung. Hal ini tentu akan membantu petani untuk menghemat biaya pembelian pakan komersil. Kemudian, sampah hasil konversi oleh larva BSF dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang dapat mengurangi biaya pembelian pupuk kimia. Produk turunan lainnya adalah air lindi yang dihasilkan dari biokonversi limbah oleh BSF juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair dan larutan nutrisi untuk hidroponik yang membantu pertumbuhan tanaman.

Gambar dari kanan ke kiri : Penjelasan dari Dr. Mia Rosmiati, Penyampaian Materi oleh Rizki dan Aldi, dan Sesi Diskusi

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat memberi semangat/motivasi kepada petani untuk mengembangkan unit usaha baru. Bapak Sulaeman juga menyatakan rasa terimakasihnya terhadap kunjungan Tim PPM serta harapannya agar dapat membudidayakan BSF dengan memanfaatkan sumberdaya sekitar seperti  limbah ceri kopi yang masih menjadi masalah bagi petani.

Kegiatan PPM ke Desa Genteng, 5  Juli 2019

Di minggu selanjutnya (05/07/19), Tim PPM mengupayakan sosialisasi tentang BSF kepada kelompok tani di Desa Genteng, Kec. Sukasari, Kab. Sumedang. Pada kesempatan ini, Tim PPM berbagi ilmu kepada beberapa kelompok tani yaitu Kelompok Tani Bubuay Jayagiri, Mekarjaya Sarimulya, dan Jaya Makmur. Kelompok Tani Bubuay Jaya Giri dan Kelompok Tani Mekarjaya Sarimulya adalah binaan baru SITH ITB yang mulai dirintis. Hal ini bertujuan untuk memperluas kelompok binaan dari SITH ITB.  Kegiatan ini juga dihadiri oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Genteng yaitu Bu Endang Rahayu serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Mentari dan Mekar Arum.

Kegiatan PPM di Desa Genteng

Kegiatan PPM ini dimulai pada pukul 13.00-15.00 yang diawali dengan sambutan dari Tim PPM ITB, dilanjutkan dengan materi tentang budidaya BSF dan produk turunannya dijelaskan oleh Aldi Nurdiansyah dan Farhan Rohmat.

Sesi Penyampaian Materi oleh Farhan Rohmat (kiri) dan Aldi (kanan)

Dr. Mia Rosmiati juga menjelaskan bahwa kehadiran KWT ini ditujukan agar para ibu rumah tangga bisa memanfaatkan sampah di rumahnya sebagai bahan baku biokonversi oleh BSF. Yang paling mudah, KWT dapat mulai dari memisahkan sampah organik dengan anorganik di tingkat rumah tangga. Produk-produk turunan BSF yang dihasilkan kelompok tani juga bisa dijual atau dimanfaatkan oleh KWT. Selain itu, beliau memaparkan bahwa pupuk organik hasil biokonversi BSF bisa menjadi upaya dalam menyuburkan tanah mengingat penggunaan pupuk kimia saat ini telah menimbulkan kerusakan tanah.

Gambar dari kiri ke kanan : Sesi Diskusi dengan Petani, Ibu-Ibu KWT Mentari dan Mekar Arum, Sesi Diskusi Bu Endang dan Pak Ade Wawan

Bu Endang, sebagai Penyuluh Pertanian yang hadir, menyampaikan rasa terimakasih atas ketersediaan Tim PPM dalam membagikan ilmu yang menurutnya sangat dibutuhkan di Desa Genteng. Bu Endang berharap minimal mulai ada kelompok tani yang mengupayakan mengolah sampah dengan BSF untuk menyelesaikan masalah limbah dan menurunkan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

“Kebetulan Desa Genteng mendapat program Desa Organik yang mengharuskan praktek budidaya secara organik. Oleh karena itu, produk turunan BSF ini sangat bermanfaat untuk dipakai petani sebagai pupuk organik dalam mendukung program dan menurunkan biaya produksi. Sekarang masih banyak petani yang biasa menggunakan pupuk kimia, terutama tomat dan cabai. Mudah-mudahan ke depannya semua kelompok tani di Desa Genteng dapat merubah kebiasaan menggunakan pupuk kimia, diganti dengan pupuk organik. Yang penting, kita buktikan dulu saja”, jelas Bu Endang.

Selama diskusi, beberapa petani menyampaikan bahwa teknologi yang dipaparkan tim tentang budidaya BSF ini cukup mudah dilakukan jika dilihat dari ketersediaan bahan bakunya. Mereka sangat merespon dan berkeinginan untuk mencoba budidaya BSF dan produk turunannya.  Petani berharap, demonstrasi budidaya BSF dapat segera dilaksanakan di kegiatan PPM selanjutnya.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish