Konferensi Kopi Jawa Barat untuk Dunia

Penulis : Dikdik Permadi

Di tengah geliat kopi gelombang ketiga ini, kopi-kopi single origin sudah sangat akrab di kedai-kedai kopi yang jumlahnya semakin banyak di kota-kota besar, siapa sih yang tidak tahu kopi Jawa Barat?

Provinsi Jawa Barat adalah salah satu provinsi yang terdepan dalam menangkap nilai tambah kopi Arabika. Melalui label Indikasi Geografis Kopi Arabika Java Preanger, pemerintah provinsi Jawa Barat berupaya mengangkat kembali kejayaan kopi Jawa di pasar domestik dan internasional, seperti yang terjadi di tahun 1860an (Mooney, 1861)[1]. Dengan menangkap peluang pertumbuhan kelas menengah baru dan tingkat konsumsi kopi masyarakat Jawa Barat, khususnya di kota-kota besar seperti Bandung, Bogor, Bekasi dan Cirebon, pemerintah telah berupaya mengkampanyekan kopi Jawa Barat dengan tagline Kopi Jabar Juara melalui berbagai festival kopi (di antaranya Jabar Ngopi Saraosna dan Jabar Lautan Kopi) dan kejuaraan kopi internasional (seperti yang diselenggarakan oleh Specialty Coffee Association, SCAA) yang mengangkat nama kopi Java Preanger.

Perkembangan kopi yang masif ini, pada kenyataannya bukan tanpa masalah. Studi-studi empiris menunjukkan bahwa perkembangan kopi di Jawa Barat bersifat sporadik, berdampak pada inkonsistensi kualitas dan kuantitas kopi yang dihasilkan. Hal yang juga memperburuk kondisi adalah bahwa pemerintah mengelola rantai nilai kopi secara sektoral dan terfragmentasi. Menyadari hal tersebut, pemerintah provinsi Jawa Barat menempatkan prioritas tertinggi pada pembenahan rantai nilai kopi, sebagai satu-satunya komoditas yang dikelola melalui integrase hulu-hilir dan lintas sektor. Hasil analisis situasi sub sektor perkebunan Jawa Barat yang dilakukan oleh Perdana dkk (2018) menguatkan bahwa tiga masalah utama yang diidentifikasi oleh pelaku usaha hulu dan hilir adalah penataan kawasan perkebunan yang lemah, adanya diskontinuitas sistem produksi, dan kualitas produk yang belum seragam (secara spasial maupun temporal). Temuan dan arahan-arahan ini menguatkan pentingnya koordinasi rantai nilai kopi dari hulu ke hilir.

Selain kampanye yang terus dilakukan, upaya nyata lain yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah dengan diterbitkannya Pergub Jawa Barat No. 69 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Multipihak Implementasi Pekerjaan (RAM-IP) Kopi daerah Provinsi Jawa Barat tahun 2018-2022; yang menggabungkan berbagai stakeholders kopi untuk bekerja dalam arah yang sama. Selain itu, pemerintah berupaya mengembangkan Kawasan Sains dan Teknologi (Science Technopark) untuk kopi di Jawa Barat sebagai wahana inovasi dan kolaborasi dalam pengembangan kopi. Studi-studi empiris menunjukkan bahwa, kemajuan yang besar perlu didukung oleh aksi multipihak yang senada dengan visi Gubernur Jawa Barat 2018-2023, Jabar Juara Lahir Batin melalui Inovasi dan Kolaborasi.

Dalam mendukung wacana besar tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung tengah menyelenggarakan Konferensi Kopi dari Jabar untuk Dunia pada 18-19 November 2019 yang berlokasi di Aula Barat Gedung Sate dan Auditorium IPTEKS Institut Teknologi Bandung. Konferensi ini bertujuan untuk menciptakan sebuah forum ilmiah dan koordinasi hulu-hilir, membicarakan semua kompleksitas pengembangan kopi yang tengah dihadapi bersama.

Acara ini mendatangkan berbagai pembicara dari berbagai kalangan, mulai dari petani, pelaku usaha dan industry kopi, praktisi, pemerintah, penyusun kebijakan, asosiasi, lembaga penelitian, dan universitas. Selain itu, acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai stakeholders yang terlibat dalam pengembangan kopi di Jawa Barat, termasuk melibatkan masyarakat umum. Diharapkan, luaran dari acara ini nantinya akan menghasilkan sebuah white paper dalam rangka merumuskan kebijakan pengembangan kopi di Jawa Barat yang terarah, berlandaskan inovasi dan kolaborasi dari berbagai pihak; serta bersifat tepat sasaran, sinergis, dan inklusif.

#sithitb #WestJavaCoffeeConference #JabarJuara

[1] Money, J. W. B. (1861). Java: Or, How to Manage a Colony. Showing a Practical Solution of the Questions Now Affecting British India (Vol. 1). Hurst and Blackett, Publishers, successors to Henry Colburn.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish