Kuliah Tamu dan Penandatangan MoU antara SITH ITB dengan Badan Kejuruan Teknik Kehutanan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT.Hut PII)

Penulis : Megatrikania Kendali, ST, M.Si.

JATINANGOR, SITH.ITB.AC.ID

Senin, 4 November 2019 di ruang 9653 GKU II Kampus ITB Jatinangor, Program Studi Rekayasa Kehutanan SITH-ITB melalui mata kuliah BW-4109 Industri Hasil Hutan menyelenggarakan kuliah tamu mengenai profesi keinsinyuran di bidang kehutanan.  Pada kuliah tamu ini tampil tiga narasumber sebagai pemateri, yaitu Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., IPU, guru besar ITB dan juga anggota dewan penasihat Persatuan Insinyur Indonesia (PII); narasumber kedua adalah Ir. Tonny H. W. M,Sc., IPU, ASEAN Eng, Ketua Badan Kejuruan Teknik Kehutanan PII (BKTHUT-PII) sedangkan narasumber ketiga dari majelis kehormatan etik PII Ir. Suhariyanto, IPU, ASEAN Eng.  Rangkaian acara kuliah tamu ini dipandu oleh moderator yaitu Ir. Eka Mulya Alamsyah, S.Hut, M.Agr., Ph.D, IPM selaku koordinator pengampu mata kuliah Industri Hasil Hutan, Ketua Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan SITH ITB dan jugaselaku Koordinator Sub-prodi Rekayasa Kehutanan dan Pertanian Program Studi Program Profesi Insinyur ITB (PSPPI-ITB).  Peserta kuliah tamu terdiri dari dosen, alumni dan mahasiswa dari kelompok program studi rekayasa SITH ITB.

Sebelum pemaparan materi dari narasumber,  Dekan SITH-ITB, Prof. Dr. I Nyoman P. Aryantha turut hadir memberikan sambutan sekaligus membuka acara kuliah tamu kali ini. Selanjutnya pemaparan materi pertama yaitu mengenai Pengantar tentang Profesi Keinsinyuran yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., IPU. Beliau menjelaskan mengenai beberapa isu yang terkait dengan insinyur, definisi keinsinyuran, kompetisi dan kolaborasi dalam keinsinyuran, serta peran perguruan tinggi yang melahirkan insan keinsinyuran.  Isu permasalahan yang dijelaskan oleh Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., IPU yaitu terkait kebutuhan yang terus meningkat karena pertumbuhan penduduk, sehingga dibutuhkan tenaga ahli untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Sementara di Indonesia saat ini masih minim ketersediaan tenaga ahli yaitu hanya sebanyak 10,7%.  Oleh karena itu, peran insinyur sangat dibutuhkan sebagai tenaga ahli di Indonesia. Beliau juga menjelaskan bahwa produk keinsinyuran unggulan merupakan hasil dari kolaborasi dan kompetisi dalam keisinyuran. Beliau memberikan contoh rangkaian geothermal project yang merupakan hasil kolaborasi keinsinyuran dan juga contoh kompetisi dalam keinsinyuran yaitu beberapa gambar perbandingan bangunan menara di berbagai negara. Di akhir sesi, Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., IPU menyampaikan peran perguruan tinggi yang berbasis “Science, Technology, Engineering, and Mathematics” (STEM) sebagai penghasil insan pembangun bangsa, serta penghasil sumberdaya kolaborasi dan kompetisi.

  

Setelah pemaparan materi pertama, dilanjutkan dengan penyampaian materi kedua yang berjudul Peran Insinyur Teknik Kehutanan dalam Pengembangan Industri 4.0 oleh Ir Ir. Tonny H. W. M,Sc., IPU, ASEAN Eng. dan Ir. Suhariyanto, IPU, ASEAN Eng.  Pada sesi materi ini dijelaskan bahwa tantangan profesi insinyur professional teknik kehutanan berlangsung sepanjang masa, yaitu pertempuran antara ekologi (ecopocentrism) dan ekonomi (anthroposentrism/Utilitarian). Keberterimaan (acceptability) Sosial menjadikan posisi Insinyur Profesional Teknik Kehutanan berada di tengah dalam governance, transparency, justice, dan prosperity.  Untuk menghadapi tantangan tersebut, BKTHUT-PII memiliki beberapa sub-kompetensi insinyur professional antara lain teknik arsitektur hutan, teknik konservasi hutan, teknik industri hasil hutan, dan teknik pengelolaan hutan. Industri 4.0 dimaknai sebagai otomasi, pertukaran data terkini, system siber-fisik, komputasi awan dan komputasi kognitif. Dalam Teknik kehutanan, industry 4.0 memberikan berbagai dampak diantaranya model layanan dan bisnis, keandalan dan produktivitas berkelanjutan, keamanan mesin, siklus hidup produk, industry manufaktur, rantai nilai industry, Pendidikan dan skill pekerja, serta factor sosial dan ekonomi lainnya. Di akhir sesi materi, dijelaskan mengenai kode etik insinyur professional Teknik kehutanan. Setelah pemaparan materi yang kedua, kuliah tamu pun di akhiri dengan foto bersama narasumber dan peserta kuliah tamu.

 

Setelah ketiga narasumber sudah memaparkan materinya, dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Dekan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) (Prof. Dr. I Nyoman P. Aryantha) dengan Ketua BKTHUT-PII (Ir. Tonny Hari Widiananto, M.Sc., IPU. ASEAN Eng.) tentang Kerja Sama Bidang Pendidikan dan Peningkatan Sumberdaya Manusia dalam Bidang Keinsinyuran Teknik Kehutanan, sebagai tindak lanjut Nota Kesepahaman antara ITB dengan PII. (Penulis: Mega Trikania Kendali ST.,M.Si)

 

Berita Terkait

IndonesiaEnglish