Kuliah Umum: Metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk Estimasi Data Produksi Beras di Jawa Barat

Penulis : Megatrikania Kendali (21317004)

Bandung, sith.itb.ac.id – Pada tanggal 30 November 2018, Program Studi Biomanajemen kembali menyelenggarakan seri kuliah umum yang berjudul Metode Kerangka Sampel Area (KSA) untuk Estimasi Data Produksi Beras di Jawa Barat. Pada seri kuliah umum ini menghadirkan narasumber  yaitu Aryanto, S. Si., M.M selaku Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik Jawa Barat.

Seperti yang diketahui bahwa permasalahan sektor pangan terutama beras selalu ramai dibicarakan. Hal ini dikarenakan data produksi padi disinyalir berbagai pihak tidak akurat. Bapak Aryanto mengungkapkan bahwa data yang tidak akurat tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya data luas bahan baku sawah yang berbeda-beda dari berbagai lembaga, metode perhitungan luas yang kurang ilmiah, akurasi data yang belum terukur, dan kurangnya objektif dalam menghitung luas lahan. Sementara tersedianya informasi dan data produksi padi yang lebih cepat dan akurat sangat penting untuk mengambil keputusan kebijakan di sektor pangan nasional.

Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam rangka mengembangkan dan memperbaiki data statistik pertanian, terdapat beberapa proyek prioritas yang dikelola oleh BPS dalam menentukan jumlah produksi beras yang akurat, yaitu Survey Produktivitas Tanaman Padi (UBINAN), Survey Konversi Gabah ke Beras (SKGB), Penerapan Remote Sensing dan KSA, dan Survey Pertanian Antar Sensus (SUTAS 2018). Pada kuliah umum kali ini, lebih ditekankan dengan penjelasan mengenai metode KSA untuk estimasi data produksi beras.

Secara umum untuk mengetahui jumlah produksi suatu daerah diperlukan  dua data yaitu luas panen dan produktivitas. Terkait dengan luas panen, sebelum tahun 2017 pengukuran luas masih menggunakan metode pengumpulan data secara  Eye Estimate yang bersifat Subjective Measurement. Oleh karena itu, BPS membuat suatu metode yang lebih Objective Measurement yang disebut dengan Kerangka Sampel Area (KSA), dimana metode ini sudah mulai diterapkan pada tahun 2018. Kerangka sampel area (KSA) adalah salah satu pendekatan statistik spasial yang dikembangkan oleh FAO (Food Agricultural Organisation, USDA (United State Department of Agriculture), dan EUROSTAT Uni Eropa, dimana metode ini bukan merupakan pendekatan pemetaan melainkan pendekatan dengan kaidah-kaidah statistik. Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi, computer, sistem informasi geografis, dan sistem komunikasi, pendekatan KSA ini juga sangat berkembang dalam hal penggunaannya.

Bapak Aryanto juga mengungkapkan bahwa metode KSA ini memiliki beberapa kelebihan yaitu didasarkan pada pendekatan ilmiah dengan kaidah-kaidah statistik dan hasilnya tidak bias karena subyektivitas, didasarkan pada teknologi sederhana yang dapat diimplementasikan dengan biaya investasi rendah, tingkat kesalahannya secara statistik dapat diukur, pengiriman dan pengolahan data memanfaatkan jaringan internet sehingga data dan informasi bersifat real time, biaya operasionalnya sangat rendah, dan pendekatan KSA juga dapat digunakan untuk tanaman pertanian yang lain.

Pada metode KSA ini, desain sampel yang digunakan didasarkan pada kerangka areal dengan segmen berbentuk bujur sangkar. Segmen tersebut ditentukan dengan menumpang-susunkan grid bujur sangkar di atas areal yang akan diteliti yang disebut studi area. Studi area dibagi ke dalam blok-blok besar berbentuk bujur sangkat yang berukuran 6 km X 6 km kemudian dipilih secara random blok tersebut untuk menentukan segmen yang berukuran 300 m X 300 m. Dari segmen lokasi ditentukan kembali sub-segmen yang terdiri dari 9 titik berukuran 100 m x 100 m sebagai lokasi pengukuran dan pengamatan lahan sawah.

Setelah menentukan lokasi pengamatan, kemudian dilakukan survey lokasi untuk mengamati fase tumbuh padi pada segmen yang terpilih dengan menggunakan Hand Phone berbasis Android. Hasil pengamatan berupa foto kondisi lahan dan keterangan hasil amatan lainnya dimasukan ke dalam aplikasi pada  Hand Phone tersebut yang kemudian nanti akan direkapitulasi oleh sistem yang telah dirancang oleh BPS. Setelah seluruh data ditabulasi dan direkapitulasi, dilakukan perhitungan peramalan luas panen produksi padi. Kemudian hasil luas panen yang telah ditentukan dikalikan dengan produktivitas yang akan menghasilkan jumlah produksi padi. Jumlah produksi yang dihasilkan masih beruba bentuk Gabah Kering Panen (GKP). Untuk mendapatkan angka jumlah produksi beras, BPS menggunakan beberapa angka konversi dari poses GKP ke  beras.

Berbeda dari seri kuliah umum sebelumnya, kali ini narasumber berinisiatif membuat kuis sebanyak tiga kali di awal, tengah, dan akhir sebagai pencair suasana kuliah agar tidak membosankan. Selain itu, narasumber juga memberikan souvernir dari BPS bagi yang dapat menjawab kuis yang diberikan. Selanjutnya kuliah umum pun ditutup dengan pemberian cinderamata oleh SITH kepada narasumber Bapak Aryanto dan juga foto bersama seluruh peserta kuliah umum.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish