Mahasiswa Teknologi Pasca Panen Meraih Juara I dalam Lomba Swiss Innovation Challenge Asia 2020

BANDUNG, SITH.ITB.AC.ID – Salah satu mahasiswa program studi Teknologi Pasca Panen yang tergabung dalam sebuah tim start-up yang bernama ‘Brave’ yaitu Rafi Amjadrasyid meraih juara I dalam lomba Swiss Innovation Challenge Asia 2020. Lomba ini diselenggarakan oleh School of Business and Management Institut Teknologi Bandung berkaloborasi dengan University of Applied Sciences and Arts Northwestern Switzerland School of Business dari tanggal 21 Juni 2020 sampai dengan 5 Agustus 2020. Rafi dan teman-temannya yang merupakan mahasiswa ITB dari berbagai program studi mengikuti lomba inovasi tersebut dalam bidang kesehatan/healthcare dan mendapatkan hadiah sebesar Rp. 70.000.000. Selain mendapatkan hadiah, tim juara pertama kompetisi ini mendapatkan kesempatan untuk diundang ke acara ekslusif di Swiss saat kondisi memungkinkan dan inovasi yang diusulkan memiliki peluang untuk dikomersialkan dalam kemitraan ekosistem inovasi SBM ITB.

Dalam perjalanannya, kompetisi ini dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama dan kedua dilakukan melalui seleksi berbasis dokumen dan tahap akhir melalui presentasi pitching. Prasyarat untuk masuk ke seleksi pertama adalah dengan membuat paper berisi rumusan konsep inovasi mengenai tema besar “Inovasi Berkelanjutan untuk New Normal”. Pada tahap kedua tim akan diuji pada kelayakan ide dan harus menyerahkan rencana bisnis professional. Pada tahap ketiga tim merancang presentasi yang berfokus pada rencana implementasi inovasi. Dalam presentasi pitch terakhir, Tim perlu menunjukkan kepada Juri tentang bagaimana tim menerapkan inovasi.

Inovasi yang dibawakan oleh tim ‘Brave’ dilatarbelakangi oleh keresahan kurangnya tindakan preventif dan peningkatan yang signifikan dalam teknologi dalam bidang kesehatan. Bila dilihat secara rinci, sistem kesehatan sekarang lebih membuat masyarakat menjadi reaktif; cenderung menunggu hingga terkena penyakit. Contohnya, seseorang lebih cenderung menunggu hingga mendapat serangan jantung atau ketika kankernya ditemukan, barulah mereka berkunjung ke rumah sakit daripada melakukan medical check-up yang rutin. Sehingga kasus yang menjadi sorotan dari tim ini adalah banyaknya kematian secara mendadak Kematian secara mendadak yang disebabkan oleh jantung paling sering disebabkan oleh suatu kondisi bernama aritmia. Saat ini, proses dalam mengatasi masalah aritmia masih terdapat banyak kendala dan masalah. Pernyataan tersebut didasari oleh hasil wawancara kami dengan beberapa kardiologis. Salah satu kardiologis menyebutkan bahwa waiting list pasien untuk menyewa alat (dengan nama yang lebih dikenal sebagai holter monitor) yang ada sekarang bisa mencapai 2-4 minggu.

Berangkat dari kasus tersebut Brave menuangkan ide inovasi berupa pengembangan alat yang dapat melakukan monitoring elektrokardiografi nirkabel yang sifat monitoringnya terus-menerus dan dapat mengirimkan data secara langsung sehingga kardiolog yang sebelumnya masih harus menunggu alat dikembalikan pasien saat waktu monitoring selesai. Alat yang dikembangkan Brave juga dapat melakukan diagnosis dini untuk penyakit jantung, terintegrasi dengan telemedicine, dan dengan harga lebih ekonomis dari produk yang ada di pasar saat ini.

 

Berita Terkait

EnglishIndonesia