PELATIHAN PEMANFAATAN MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (BSF)

Penulis : Rizki Arifani

Sebagai bentuk penyebarluasan ilmu dan pengetahuan pada masyarakat, KK Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (ATB) SITH ITB melaksanakan kegiatan pelatihan yang bertajuk ‘Pelatihan Pemanfaatan Maggot BSF (Black Soldier Fly)’. Serangga Black Soldier Fly sudah mulai dikenal oleh banyak orang karena manfaatnya, serangga ini dapat menjadi agen biokonversi yang bisa mengurangi limbah organik dan juga memberi nilai tambah. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2019, peserta yang datang sangat beragam mulai dari mahasiswa, kelompok tani, komunitas pemerhati lingkungan, hingga pengelola pondok pesantren.

Pelatihan dibuka oleh ketua KK ATB yaitu Dr. Agus Dana Permana, kemudian dilanjutkan pemaparan materi oleh beliau mengenai asal-usul, siklus hidup, serta berbagai manfaat BSF. Beliau menjelaskan bahwa larva BSF dapat memakan berbagai jenis limbah organik seperti sisa buah, sayur, limbah perkebunan, juga kotoran ternak. Dari proses biokonversi tersebut dapat dihasilkan minimal tiga produk yang berupa maggot, lindi, dan kompos. Maggot dapat digunakan sebagai pakan ayam dan ikan, lindi dimanfaatkan sebagai pupuk cair dan kompos sebagai media tanam.

Sesi pagi dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Rizki Arifani, ST. mengenai produksi maggot BSF skala industri yang menggunakan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku. Produksi maggot secara industri berfokus pada efisiensi ruang dan bahan baku untuk menghasilkan produk yang baik. Oleh karena itu dijelaskan bagaimana penggunaan sistem vertikal dalam pemeliharaan larva, serta upaya peningkatan produksi dengan mengatur kondisi suhu, kelembaban juga pencahayaan. Materi dilanjutkan oleh Ucu Julita, M.Si mengenai pengaruh jenis makanan yang diberikan terhadap kandungan nutrisi larva BSF. Larva BSF dapat memakan berbagai jenis limbah organik, namun untuk mendapatkan larva dengan kandungan nutrisi yang baik sebaiknya limbah yang diberikan pada larva merupakan limbah campuran yang terdiri dari sisa buah, sayuran, dan sisa makanan manusia. Kandungan nutrisi pada larva ini kemudian akan berpengaruh ketika dimanfaatkan sebagai pakan ayam atau ikan. Materi terakhir diberikan oleh M. Firmansyah, M.Si mengenai pemanfaatan BSF untuk mengolah limbah biji karet. Sampai saat ini pemanfaatan limbah biji karet masih minim, dengan adanya larva BSF diharapkan dapat terbentuk sebuah sistem perkebunan karet tanpa limbah (zero waste) juga memberikan nilai tambah pada perkebunan karet. Sesi pagi diakhiri dengan aktivitas tanya jawab bersama Dr. Ramadhani Eka Putra yang memiliki banyak pengalaman dalam pemanfaatan larva BSF. Dalam penjelasannya beliau menekankan untuk terus meningkatkan kreatifitas dalam pemanfaatan BSF agar dapat memberikan dampak yang lebih luas dan bisa dirasakan oleh banyak orang.

Sesi siang diisi dengan pelatihan pemeliharaan larva dengan metode sederhana yaitu menggunakan baki plastik. Setiap peserta mendapatkan dua baki plastik untuk kemudian diisi dengan limbah buah dan larva BSF yang berusia 5 hari. Para peserta terlihat sangat bersemangat karena bisa langsung mempraktekkan apa yang telah dijelaskan pada materi sebelumnya.

Selain praktek secara langsung pada sesi ini juga peserta dapat melihat sistem pemeliharaan larva BSF yang dimiliki SITH ITB. Peserta melihat langsung screen house pemeliharaan lalat juga pemeliharaan larva yang menggunaan berbagai jenis wadah. Serta melihat berbagai tanaman yang dirawat dengan memanfaatkan pupuk cair BSF.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish