Pemberdayaan Masyarakat Desa Rende, Bandung Barat Melalui Penanganan Pasca Panen Bumbu

Penulis: Muhandinni Zahra

SITH.ITB.AC.ID, BANDUNG – Desa Rende. Perjanjian Kerjasama Dalam Pengembangan Desa Rende Sebagai Desa Wisata Berbasis Pertanian dan Masyarakat, telah ditandatangani pada tanggal 26 November 2017  oleh Dekan SITH ITB, Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha dan Kepala Disparbud Kab. Bandung Barat, Dra. Sri Dustirawati, M.Si. Sebagai tindak lanjut, diadakan kegiatan pelatihan yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat Desa Rende dalam memasuki perubahan status desanya menjadi desa wisata. Selama bulan Januari hingga Maret 2018, lima belas modul disampaikan tiap minggunya oleh dosen-dosen dan tenaga praktisi yang professional dalam bidangnya untuk menunjang kemampuan dan pengetahuan masyarakat untuk membentuk desa wisata.

Sabtu, 10 Februari 2018, terlebih dahulu disampaikan materi penanganan pasca panen bumbu oleh Prof. I Nyoman P. Aryantha. Materi ini diberikan untuk mendukung pengembangan Planet Bumbu Nusantara yang rencananya akan dibentuk di Desa Rende, sebagai pelopor desa wisata pertama di Indonesia yang mengusung berbagai jenis bumbu nusantara sebagai daya tarik wisatanya. Teknik penanganan yang disampaikan mencakup pengawetan dan pengolahan dari beberapa bumbu khas masakan Indonesia, seperti jahe, cabai hijau, bawang putih, dan lain-lain.

Secara umum, materi yang diajarkan mencakup tujuan serta metode teknik penanganan pasca panen pada produk pertanian di Indonesia. Sejauh ini, cukup banyak permasalahan pertanian yang muncul karena tahapan pasca panen yang tidak sesuai. Teknik pasca panen yang benar dapat membantu; memperpanjang umur, mencegah kerusakan, menjaga kualitas, menghasilkan keunikan, serta meningkatkan nilai ekonomis hasil panen, dalam hal ini, bumbu.

Pada teknik pengawetan, peserta diajarkan beberapa pendekatan yang dapat diaplikasikan; metode fisika, kimia, dan biologis. Pada pendekatan fisika, terdapat metode seperti pengeringan, pembekuan, pemanasan, penggorengan, dan lain-lain. Pada pendekatan kimia, dapat diterapkan metode seperti pengaturan pH, penambahan benzoat, gula, garam, serta antioksida. Pada pendekatan biologis, penerapan teknik fermentasi dapat mengawetkan, sekaligus juga menambah nilai keunikan dari bumbu tersebut. Pada teknik pengolahan, diajarkan pembuatan beragam olahan jahe, seperti bubuk seduhan jahe hingga permen jahe. Bumbu yang diolah akan menambah nilai ekonomis produk hasil panen.

Selanjutnya pada Sabtu, 10 Maret 2018 Prof. I Nyoman P. Aryantha memberikan pelatihan materi mengenai pengolahan singkong, yaitu pembuatan keripik singkong. Desa Rende memiliki banyak pengusaha keripik singkong rumahan. Keripik-keripik ini disebar selanjutnya disebar ke berbagai warung dan toko di Jawa Barat. Target dari pelatihan ini adalah mengintegrasikan usaha rumahan keripik singkong yang sudah berjalan dengan program Planet Bumbu Nusantara. Produk inovasi berupa keripik singkong dengan bumbu rempah tradisional direncanakan akan menjadi salah satu dari ciri khas Desa Wisata Bumbu.

Dalam prosesnya, terdapat beberapa cara untuk menambah kerenyahan serta kelembutan keripik yang dihasilkan, yaitu perendaman keripik dalam larutan kapur sirih serta penggunaan teknik fermentasi. Keduanya dipraktikkan dalam pelatihan kali ini. Pertama-tama, singkong dikupas dari kulitnya untuk selanjutnya dicuci hingga bersih. Singkong lalu diiris tipis. Irisan tipis lalu diberi perlakuan perendaman air kapur selama kurang lebih 1-2 jam. Pada proses fermentasi, setelah diiris tipis, singkong lalu ditempatkan pada toples yang telah dibersihkan. Air lalu dimasukkan dengan penambahan yogurt sebanyak 5% sebagai agen fermentasi. Toples lalu ditutup dan dibiarkan semalaman. Setelah direndam, singkong lalu siap digoreng hingga berwarna keemasan.

Singkong yang telah digoreng selanjutnya dicampurkan dengan berbagai macam bumbu. Campuran

bumbu yang digunakan terdiri dari tepung beras, gula, garam, dan rempah kering seperti jahe, kunyit, dan cabai. Tepung ditambahkan untuk membantu menghilangkan sisa minyak hasil penggorengan. Hal ini dilakukan karena tekstur keripik singkong kering lebih diminati masyarakat dibandingkan tekstur basah karena minyak. Rasa dominan yang dipilih dari keripik singkong ditentukan dari bumbu rempah yang digunakan. Jahe dan kunyit dirasa lebih pas untuk dominansi rasa manis, sedangkan cabai untuk dominansi rasa asin. Peserta mencoba mencampurkan bumbu secara mandiri serta merasakan hasil formulasi bumbu masing-masing. Kekhasan bumbu rempah memberi rasa unik tersendiri pada keripik singkong masing-masing. Ke depannya, diharapkan teknik dari pelatihan ini dapat diterapkan pada proses pembuatan keripik singkong, yang selanjutnya dapat meningkatkan nilai ekonomis dari keripik singkong rumahan warga Desa Rende.

 

Berita Terkait

IndonesiaEnglish