Seri Kuliah Tamu dan Kunjungan dari TU Dresden Jerman yang diselenggarakan oleh Prodi Magister Bioteknologi

Penulis : Jayen A. Kriswantoro

Bandung, sith.itb.ac.id – Program Studi Magister Bioteknologi SITH-ITB memiliki program rutin Seri Kuliah Tamu (Public Guest Lecture Series) yang diselenggarakan untuk meningkatkan atmosfer akademik serta transfer ilmu pengetahuan dan penelitian antara SITH-ITB dengan institusi atau universitas lain baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada kesempatan kali ini, Program Studi Magister Bioteknologi SITH-ITB mendapatkan kesempatan untuk menerima tamu dari Faculty of Biology, Technische Universitat (TU) Dresden, Germany. Tamu yang datang merupakan dua profesor dari TU Dresden dengan bidang yang berbeda. Kedua professor tersebut ialah Prof. Dr. ved. med. habil. Oliver Zierau yang berasal dari Institute of Zoology TU Dresden, serta Prof. Dr. rer. nat. habil. Stefan Wanke yang merupakan staf pengajar dan peneliti di Institute of Botany TU Dresdden.

 

Kuliah umum oleh kedua professor diselenggarakan pada hari Rabu, 21 Agustus 2019 bertempat di Ruang 9311, Labtek VI, Kampus Ganesha ITB pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Kuliah ini terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya registrasi maupun lainnya, sehingga terbuka kesempatan seluas-luasnya untuk semua civitas akademika ITB, khususnya SITH ITB. Alhasil, peserta yang datang pada kuliah ini sangat beragam yakni staf pengajar (dosen) dari berbagai kelompok keahlian serta mahasiswa yang berasal dari S1 Biologi, S1 Mikrobiologi, S2 Biologi, dan S2 Bioteknologi.

Kegiatan tersebut dibagi menjadi tiga sesi utama. Prof. Stefan mendapatkan kesempatan untuk mengisi sesi pertama dan kedua. Di sesi pertama ini disampaikan informasi umum mengenai Jerman, kota Dresden, serta Technische Universitat (TU) Dresden yang mengerucut pada Faculty of Biology. Dilanjutkan penyampaikan kuliah umum pada sesi kedua dengan judul “Comparative plastome phylogenomics in Hydnoraceae”. Topik kuliah ini menjadi sangat menarik karena objek yang menjadi kajian merupakan tanaman yang tidak lazim. Dengan julukan sebagai “The strangest plants in the world” tanaman parasit kelompok Hydnoraceae memiliki dua genus yakni Hydnora (Old World) dan Prosopanche (New World). Tanaman Hydnoraceae ini mengalami modifikasi secara drastis pada tubuh tanaman (akar, batang, daun, dan bunga) dan fisiologinya, serta terdapat kemungkinan bahwa modifikasinya pun hingga pada genomnya. Untuk mendapatkan ada atau tidaknya modifikasi pada genomnya, dilakukan sekuensing dan analisis terhadap genom organel secara utuh (mitokondria dan plastome) pada Hydnora visseri dari Namibia dan Prosopanche americana dari Argentina. Analisis yang dilakukan menggunakan high-throughput-sequencing (HTS) technologies yang dikombinasikan dengan pengolahan data mentah menggunakan ilmu bioinformatika. Berdasarkan hasil yang didapat, genom pada plastome Hydnora visseri mengalami reduksi yang besar serta memiliki perbedaan yang sangat tinggi dan belum diketahui fungsionalnya seperti apa. Ukuran genom organel yang didapat sepanjang 27 kb dengan mengandung 24 gen yang mengkoding protein ribosomal, rRNA, tRNA, dan sedikit gen nonbioenergetik serta tidak ada satu pun gen yang memiliki hubungan dengan fotosintesis. Data untuk sampel kedua, Prosopanche americana, memiliki similaritas yang tinggi dengan hasil di atas. Berdasarkan hasil ini lah, terdapat kemungkinan adanya hubungan antara reduksi genom plastome dengan evolusi pada tanaman Hydnoraceae yang nantinya menjadi topik penelitian yang sangat menarik. Di akhir presentasinya, Prof. Stefan menawarkan kerjasama riset yang sangat menarik dengan SITH-ITB mengenai tanaman parasitik asli Indonesia, yakni kelompok Rafflesiaceae. Sesi kedua ini diakhiri dengan apresiasi berupa tepuk tangan yang riuh setelah melewati tanya-jawab yang sangat menarik.

Sesi ketiga pun langsung dimulai oleh Prof. Oliver yang menyampaikan kuliah umum dengan judul “Effects of plant derived substances in mammals – two different examples of interaction”. Pada sesi ini, Prof. Oliver menyampaikan risetnya terkait efek dari senyawa metabolit sekunder berupa tanin dan fitoestrogen pada mamalia. Percobaan pertama, tanin  menjadi fokus risetnya karena senyawa ini dapat mempengaruhi palatabilitas dan akses nutrisi pada konsumen (mamalia). Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa herbivora dapat menyesuaikan diri dan tahan terhadap makanan yang mengandung tanin. Oleh sebab itu, pada penilitiannya kali ini bertujuan untuk mengamati perilaku primata (gorila, orangutan, dan bonobo) dalam mengatasi pemberian makanan yang memiliki kadar tanin tinggi. Makanan yang diberikan merupakan campuran antara asam tanat (tanin), oak bark, dan chokeberry. Pemberian makanan dimulai dari kandungan tanin rendah kemudian ditingkatkan secara berkala. Hasil percobaan menunjukkan beberapa hal antara lain, jika respon terhadap makanan yang mengandung tanin merefleksikan karakteristik dari makanan alaminya, maka diekspektasikan bahwa gorila memiliki toleransi paling tinggi terhadap tanin serta memiliki kemampuan adaptasi yang paling baik dibandingkan orangutan dan bonobo. Selain tanin, metabolit sekunder dari tanaman seperti 8-prenylnaringenin (8-PN) menjadi salah satu topik yang diangkat pada kuliah ini. Senyawa 8-PN ini merupakan salah satu fitoestrogen yang pereferensi sangat kuat untuk berikatan dengan reseptor estrogen alpha (Erα). Aktivasi Erα berpotensi timbulnya kanker payudara dan endometrium. Pada percobaan ini lakukan karakterisasi mode of action dari senyawa-senyawa turunan naringen dan 8-PN. Secara lebih spesifik, penilitian ini bertujuan untuk mengetahui afinitas senyawa-sanyawa tersebut terhadap reseptor estrogen alpha dan beta serta efek yang ditimbulkannya pada beberapa target organ yang berbeda dalam jangka pendek pada percobaan in vivo. Setelah penyampaian materi berakhir, terdapar sesi tanya-jawab yang tidak kalah menarik seperti pada sesi sebelumnya.

 

Rangkaian sesi kuliah umum ini diakhiri dengan pemberian cinderamata sebagai salah satu ungkapan terima kasih SITH kepada kedua profesor dari TU Dresden yang telah membagikan ilmunya kepada civitas akademia SITH-ITB.

Tidak hanya berakhir di pemberian kuliah umum saja, kegiatan berlanjut ke kunjungan fasilitas SITH-ITB oleh profesor dari Jerman ini. Kunjungan pertama dilakukan setelah makan siang yakni laboratorium penelitian yang ada di Labtek XI SITH-ITB Kampus Ganesha. Selain melihat fasilitas yang ada, mereka juga berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan beberapa Ketua Kelompok Keilmuan (KK) seperti Prof. Dr. Pingkan Aditiawati dari KK Bioteknologi Mikroba dan Dr. Rizkita Rachmi Esyanti dari KK Sains dan Bioteknologi Tumbuhan. Kunjungan kedua dilakukan di hari Kamis, 22 Agustus 2019 di Museum Zoologi SITH ITB dan Herbarium Bandungense (FIPIA) yang berada di Kampus ITB Jatinangor, Kabupaten Sumedang.

Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan nantinya muncul kerjasama yang apik antara SITH-ITB dengan Faculty of Biology, TU Dresden untuk mengembangkan berbagai penilitian dan ilmu pengetahuan alam khusus di bidang hayati guna memajukan kesejahteraan umat manusia khususnya Indonesia dan Jerman.

 

Berita Terkait

IndonesiaEnglish