Webinar Seri Kuliah Tamu : Restorasi dan Rehabilitasi Hutan

Bapak Sekjen KLHK, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM, salah satu pembicara pada seri Kuliah Tamu KKTK SITH ITB

BANDUNG, SITH.ITB.AC.ID  – Kelompok Keahlian Teknologi Kehutanan (KKTK) telah mengadakan Webinar Seri Kuliah Tamu dengan tema Restorasi dan Rehabilitasi Hutan, secara daring melalui webinar zoom pada hari Senin dan Selasa (18-19 Mei 2020). Tujuan dari program Kuliah Tamu ini adalah memberikan wawasan ilmu dan teknologi restorasi hutan kepada para mahasiswa khusunya serta masyarakat umum. Para pembicara diundang dari narasumber yang dipandang memiliki kompetensi dan rekam jejak berkaitan dengan upaya restorasi dan rehabilitasi hutan baik dari unsur akademisi, birokrat maupun pengusaha. Peserta yang mendaftar sebanyak 120 orang, terdiri dari unsur mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITB, mahasiswa non ITB, Dosen, Konsultan dan aparat pemerintahan.

Acara pada hari pertama dipandu oleh Dr. Susana Paulina Dewi yang bertindak sebagai host acara.  Acara dimulai dengan kata sambutan dari Dekan SITH Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha. Beliau mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dalam hal ini KKTK yang telah berinisiatif menyelenggarakan acara tersebut mengisi waktu luang pasca UAS di bulan suci Ramadhan ini. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para pembicara yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berbagi ilmu dengan civitas akademika SITH ITB dan juga para peserta dari intansi lainnya. Selesai sambutan dari dekan, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari pembicara pertama yang dimoderatori oleh Dr.Ir Yayat Hidayat MSi.

Tampil sebagai pembicara pada hari pertama adalah Prof. Dr. Ir. Iskandar Z Siregar M.For.Sc., beliau adalah Guru Besar Genetika Hutan dan Pemuliaan Pohon dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Beliau membawakan topik Strategi Peningkatan Produktivitas Lahan Hutan Terdegradasi. Materi yang disampaikan mengulas tentang paradigma perubahan baru dari REED+ ke Ekosistem Restorasi. Kecenderungan hal ini terus menguat di lapangan. Restorasi tidak saja memikirkan produktivitas tetapi juga memperhatikan aspek adavtabilitas dan biodiversitas. Menurutnya terdapat beberapa problem dalam kegiatan restorasi dan rehabilitasi hutan di Indonesia antara lain menggunakan sebanyak 40% material genetik tanaman (benih/bibit) yang berasal dari populasi yang terfragmentasi. Ha ini akan menyebabkan kemunduran genetik pada generasi berikutnya. Ketersediaan benih yang bermutu masih sangat terbatas dan benih bermutu tersebut tidak bisa diproduksi dalam waktu yang singkat, harus dilakukan melalui program pemuliaan pohon. Silvikultur Restorasi hutan juga belum dikembangkan masih mengacu kepada silvikultur hutan produksi, hal ini perlu penguatan ilmunya.

Beberapa strategi yang ditawarkan Prof Iskandar dalam hal restorasi dan rehabilitasi hutan adalah: 1. Melakukan Riset dan Inovasi bersifat multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin yang konsisten, yang berorientasi dari sain ke dasar penentuan kebijakan (Science to evidence based policy); 2. Menerapkan prinsip-prinsip yang mengarah dari penemuan ke aplikasi lapangan dalam skala luas ( from discovery to application); 3. Sangat penting untuk mengedepankan transparansi dan pembagian manfaat yang adil; 4. Mengembangan konsep optimalisasi ruang tumbuh pada suatu lahan (Land sharing vs land sparring) misalnya sistem tumpangsari; 5. Mengembangkan hasil-hasil pengalaman sukses lapangan (best practice) di tempat lain.

Pembicara sesi pertama Prof. Dr. Ir. Iskandar Z Siregar M.For.Sc. Guru Besar Genetika Hutan dan Pemuliaan Pohon Fahutan IPB

Pada hari kedua dilangsungkan dua sesi kualiah tamu, sesi pagi menghadirkan Prof. Dr. Ir.Sri Wilarso Budi R., Guru Besar Ilmu Silvikultur dari Fakultas Kehutanan IPB. Pada sesi siang menghadirkan Bapak Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM. Acara dipandu oleh Ketua KKTK Dr. Ir. Eka Mulya Alamsyah dan dibuka oleh Dekan SITH ITB. Acara pemaparan dan diskusi dimoderatori oleh Dr. Ir. Yayat Hidayat MSi.

Prof. Dr. Ir. Sri Wilarso membawakan topik Strategi Rehabilitasi Lahan Pasca Tambang. Materi yang disampaikan diawali dengan menjelaskan karakterisitik hutan tropika, hal ini penting untuk dipahami agar proses rehabilitasi lahan pasca tambang dapat berhasil dengan baik. Beliau mengakui bahwa praktik pertambangan di dalam kawasan hutan telah menurunkan fungsi ekosistem hutan. Pemerintah telah mewajibkan para pemilik izin pinjam pakai kawasan hutan hutan untuk melakukan upaya reklamasi/rehabilitasi pasca tambang. Untuk dapat melakukan rehabilitasi/reklamasi lahan pasca tambang, penting untuk diketahui bagaimana proses-proses dalam penambangan di kawasan hutan. Dengan mengetahui itu maka akan mudah dipahami kerusakan ekosistem yang ditimbulkan akibat dari upaya pertambangan tersebut. Dijelaskannya bahwa dampak penting praktik pertambangan terhadap kesuburan tanah antara lain menimbukan hilangnya atau terganggunya vegetasi penutup tanah, penurunan aktivitas mikroorganisme tanah, kehilangan bahan organik tanah, perubahan struktur tanah dan perubahan siklus nutrisi tanah.

Pembicara sesi kedua Prof. Dr. Ir. Sri Wilarso Budi R, MS. Guru Besar Ilmu Silvikultur Fahutan IPB

Di bagian akhir paparan, Prof Sri Wilarso menjelaskan strategi rehabilitasi di lahan pasca tambang. Menurutnya hal penting yang perlu dirumuskan dari awal adalah mengidentifikasi faktor permasalahan dengan jelas, lalu disusun perencanaan yang komprehensif, implementasi rencana rehabilitasi serta monitoring dan evaluasi. Ada empat strategi yang ia sampaikan yaitu: (a) Strategi penataan lahan; (b) Strategi perbaikan kualitas tanah dan peningkatan kualitas bibit; (c) Strategi pemilihan jenis tanaman; dan (d) Strategi pemeliharaan tanaman. Dalam hal penataan lahan perlu diperhatikan penempatan batuan hasil tambang yang berpotensi air asam tambang, batuan ini harus diletakan di bagian paling bawah  bekas lubang galian tambang. Selain itu perlu dibuatkan saluran drainase yang baik untuk menghindari erosi pada permukaan tanah. Kualitas tanah di lahan bekas tambang umumnya miskin hara dan pH rendah, upaya perbaikan dapat dilakuan dengan penambahan bahan organik, pemberian kapur untuk menaikan pH tanah dan inokulasi mikoriza. Peningkatan kualitas bibit dapat dilakukan dengan menggunakan material genetik unggul dan media pot organik. Dalam hal strategi pemilihan jenis tanaman perlu diperhatikan apakah jenis tersebut termasuk intoleran atau toleran serta persyartan tepat tumbuhnya (zona ekologis). Tanaman toleran jangan dipaksakan ditanam pada areal terbuka karena kan menyebabkan kegagalan pertumbuhan. Strategi terakhir yang penting adalah pemeliharaan tanaman secara intensif.

Di bagian kesimpulan, Prof Sri Wilarso menegaskan bahwa (a) penerapan teknologi dapat meningkatkan keberhasilan reklamasi dan revegetasi lahan pasca tambang; (b) Sebelum dilakukan kegiatan reklamasi dan revegetasi perlu perencanaan yang baik dengan menganalisis permasalahan dan memberikan solusinya; (c) Diperlukan komitmen yang kuat dari para pihak yang terlibat; serta (d) perawatan tanaman yang intensif dengan cara memberikan semua kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman.

Dekan SITH, Prof. Dr. I Nyoman Pugeg Aryantha, memberikan kata sambutan sebagai pembuka acara Kuliah Tamu KKTK

Sesi siang yang menjadi pembicara adalah Sekjen KLHK, Bapak Dr. Ir. Bambang Hendroyono MM. Materi yang dibahas meliputi landasan hukum, kebijakan dan strategi restorasi serta implementasi restorasi hutan di Indonesia. Point-point penting yang disampaikan oleh Pak Sekjen KLHK antara lain bahwa pada tahun 2019 pemerintah telah mengeluarkan Rencana Kehutanan Tingkat Nasional ( RKTN) melalui Permen LHK no 41/2019 periode 2011 -2030. RKTN  merupakan arahan makro penggunaan kawasan yang harus diacu dalam pembangunan. Arahan tersebut meliputi; (a) Kawasan hutan untuk konservasi; (b) Kawasan  prioritas untuk rehabilitasi; (c) Kawasan untuk pemanfaatan hutan berbasis masyarakat; (d) Kawasan untuk perlindungan hutan alam dan ekosistem gambut; (e) Kawasan untuk pemanfaatan hutan berbasis korporasi; dan (d) Kawasan untuk non kehutanan.

Upaya restorasi bertujuan untuk memulihkan ekosistem, dilakukan di Hutan Produksi, Hutan Konservasi dan Hutan Gambut. Sebagian besar restorasi hutan dilakukan di lahan gambut. Restorasi hutan tidak semata fokus kepada pemulihan ekosistem, tetapi juga aspek pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Pemulihan ekosistem di kawasan hutan juga dilaksanakan melalui pola kemitraan bersama masyarakat. Program pemulihan ekosistem ini mendapat apresiasi masyarakat internasional. Hingga saat ini jumlah Unit Manajemen IUPHHKRE sebanyak 16 Perusahaan dengan luas kawasan yang direstorasi mencapai 622.067 ha. Hasil evaluasi kinerja restorasi ekosistem  yang dilakukan KLHK pada tahun 2018 diperoleh hasil bahwa 19% masuk ke dalam kategori baik, 56% kategori sedang, dan 25% dalam kategori buruk. Upaya restorasi masih mengahdapi berbagai kendala di lapangan dan masih perlu perbaikan di sisi regulasi serta perlu mendapat dukungan banyak parapihak.

Berita Terkait

EnglishIndonesia