Tim Olimpiade Biologi Indonesia Meraih 4 Medali Perak 29th International Biology Olympiad 15-22 Juli 2018, Tehran-Iran

Penulis : Dr. Ahmad Faizal

IRAN, SITH.ITB.AC.ID – Tim Olimpiade Biologi Indonesia kembali membawa kabar gembira dengan mempersembahkan 4 medali perak di International Biology Olympiad (IBO) ke-29 tahun 2018 di Tehran, Iran. Keempat siswa tersebut diantaranya adalah Samuel Kevin Pasaribu (SMA Unggul Del, Sumatera Utara), Syailendra Karuna Sugito (SMA Semesta BBS, Semarang), Aditya David Wirawan (SMAK 1 Petra, Surabaya) dan Silingga Metta Jauhari (8 DKI Jakarta). Siswa Indonesia bersaing dengan 265 siswa dari total 68 negara peserta.

Tim Olimpiade Biologi Indonesia bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran (Bpk. Octavino Alimudin) serta juri pendamping dari Indonesia.. Medalis dari kiri ke kanan: Samuel Kevin Pasaribu, Silingga Metta Jauhari, Syailendra Karuna Sugito dan Aditya David Wirawan.

IBO ke-29 dibuka secara resmi dibuka pada Hari Minggu, 15 Juli 2018 oleh Menteri Pendidikan Republik Islam Iran di Hotel Espinas, Tehran. Pada kesempatan yang sama Presiden IBO (Dr. Poonpipope Kasemsap) juga menambahkan bahwa selain berkompetisi, kolaborasi dan jejaring merupakan dua hal penting yang harus dibangun oleh saintis-saintis muda di masa yang akan datang.

Hari Selasa, 17 Juli 2018 para siswa Indonesia mengerjakan 4 topik praktikum selama masing-masing 1,5 jam yaitu: 1) Biologi Tumbuhan (Kromatografi pigmen, fisiologi dan adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan), 2) Biokimia dan Biologi Molekuler (Isolasi dan purifikasi protein, 3) Biologi Hewan (Anatomi lintah dan pengamatan tungau), dan 4) Ekologi dan Evolusi Mikroba (termasuk pengamatan perilaku makan larva Drosophilla). Selanjutnya, Hari Kamis, 19 Juli 2018 para siswa mengerjakan dua set soal teori menggunakan komputer dengan total waktu pengerjaan selama 6 jam. Seluruh tes dilakukan di kampus Shahid Beheshti University, Tehran.

Tahun ini, tes praktikum dan tes teori termasuk lebih sulit dibandingkan penyelenggaraan IBO sebelumnya. Selain itu, kondisi cuaca yang panas dan kering di Tehran turut menjadi tantangan tersendiri bagi siswa dan pendamping. Dengan pencapaian ini, tradisi Emas selama 5 tahun berturut-turut belum dapat dilanjutkan. Hal ini juga menandakan bahwa persaingan untuk menjadi yang terbaik diantara peserta menjadi semakin ketat.

Selama IBO di Iran, tim didampingi oleh 5 pendamping sekaligus berperan selaku juri internasional diantaranya: Dr. Agus Dana Permana – (Leader) (Staf Pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Institut Teknologi Bandung) dan Dr. Ahmad Faizal dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – ITB; Ida Bagus Made Artadana, M.Sc. (Fakultas Teknolobiologi – Universitas Surabaya), Ihsan Tria Pramanda, M.Sc. (Staf Pengajar Tim Olimpiade Biologi Indonesia), serta Muamar Surawidarto, M.Si. (Staf Direktorat Pembinaan SMA, Kemendikbud). Para juri pendamping negara umumnya merupakan guru, dosen, maupun profesor dari universitas-universitas terkemuka di beberapa negara maju. Selain menerjemahkan soal ke bahasa negara masing-masing, Juri dari berbagai negara bekerja sama dalam menelaah soal-soal tes (praktikum dan teori) sehingga meningkatkan kualitas soal sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang biologi modern.

Siswa-siswa yang menjadi peserta IBO 2018 merupakan hasil seleksi berjenjang yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota,  provinsi hingga tingkat nasional pada tahun 2017 di Pekanbaru, Riau. Siswa-siswa terbaik hasil seleksi Nasional (OSN) kemudian dibina oleh tim pengajar dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB dan asisten dari Tim Olimpiade Biologi Indonesia.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish