Webinar Kebijakan Berbasis Sains : Penyelamatan Indonesia dari Pandemik Covid-19

 

BANDUNG, SITH.ITB.AC.ID – Webinar bertajuk Kebijakan Berbasis Sains: Penyelamatan Indonesia dari Pandemik COVID-19 pada Minggu 17 Mei 2020 terselenggara atas kerja sama alumni Jurusan Biologi angkatan 1990 Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Kelompok Keilmuan Genetika dan Bioteknologi Molekuler Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Dalam sambutannya, Prof. Reini Wirahadikusumah selaku Rektor ITB berharap webinar ini menjadi kontribusi ITB, di usia yang ke 100 tahun, khususnya dalam pengembangan teknologi dan keilmuan untuk mengatasi tantangan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Lima pakar hadir sebagai pembicara, mengupas pandemik COVID-19 dari perspektif epidemiologi, karakteristik virus, serta pengembangan alat diagnostik virus dalam kaitan bagaimana perspektif keilmuan beserta hasil-hasil riset seharusnya menjadi dasar kebijakan pemerintah. Beben Benyamin, PhD, dosen biostatistik dari Australian Centre for Precision Health, University of South Australia menyoroti klaim pemerintah tentang kurva yang melandai. Dari kacamata epidemiologi kurva tersebut masih naik, apalagi jika mempertimbangkan jumlah tes yang dilakukan pemerintah Indonesia masih sangat rendah. Jauh lebih rendah dari beberapa negara di Asia, seperti Bangladesh dan Pakistan, bahkan negara-negara di Afrika. Sementara, Dr. Neni Nuraeni dari PT Biofarma secara khusus menyampaikan kemajuan dan tantangan pengembangan vaksin dan rapid test buatan Indonesia.

Rekomendasi penting dari lima ahli pembicara ini di antaranya adalah mendorong pemerintah untuk terus menemukan orang terinfeksi, meningkatkan kapasitas pemeriksaan, membuat kurva COVID-19 sesuai dengan kaidah epidemiologi, menyiapkan rumah sakit jika terjadi wabah gelombang kedua, meningkatkan alokasi anggaran untuk penelitian COVID-19, dan mempertimbangkan kembali rencana pelonggaran PSBB karena akan memicu gelombang infeksi yang lebih luas.

Narasumber merekomendasikan pula para peneliti agar membantu pemerintah untuk meningkatkan kapasitas pemeriksaan dengan berinovasi mengembangkan alat testing non PCR yang lebih murah. Juga menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai dasar pembuatan kebijakan penanganan COVID-19. “Indonesia harus selamat dari pandemik COVID-19. Sekarang saatnya pemerintah mendengarkan para scientists”, tandas Dr.rer.nat. Rahmania Admirasari yang bertindak sebagai moderator webinar.

Menanggapi rekomendasi para ahli, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Ir. Bernardus Wisnu Widjaja, M.Sc. yang juga menjabat Koordinator Bidang Perencanaan dan Analisis Situasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengatakan pemerintah telah bekerja sama dengan para ahli dan peneliti selama wabah ini. Wisnu meminta agar masyarakat terus menerapkan jaga jarak, menggunakan masker, dan perilaku higienis sebagai tata kehidupan baru, karena COVID-19 mungkin tidak akan hilang. Sebelumnya Gubernur Jawa Barat yang diwakili oleh Kepala BAPPEDA Provinsi Jawa Barat, Dr.M.Taufiq dalam keynote speech menyampaikan strategi dan target pemprov dalam penanganan COVID-19.

Kehadiran pemerintah dalam webinar ini diharapkan menjembatani dialog dan kerja sama yang lebih baik dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam upaya mengatasi pandemik COVID-19. Hal ini ditegaskan oleh Fenny M. Dwivany, PhD yang mewakili SITH ITB dalam sambutannya. “Masyarakat juga memegang peran penting dalam mengatasi COVID-19, sehingga webinar juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat”, kata Fenny menutup sambutannya

Berita Terkait

EnglishIndonesia